Kalah Mental Sampai Revolusi Mental

IMG_2752“Kalah mental” sering kali dianggap sebagai penyebab kegagalan pebulutangkis Indonesia ketika bertanding terutama dengan atlet negeri Cina atau sekarang lebih sering disebut Tiongkok. Kata-kata tersebut sering disebutkan oleh penonton dari yang masih awam sampai pelatih berpengalaman. Indikasi-nya bisa dilihat misalnya pemain Indonesia tersebut memiliki teknik yang sama baiknya seperti smash yang keras atau footwork yang lincah. Kalau dilihat secara kasat mata, seperti tidak ada bedanya dengan pemain dari negara luar terutama Tiongkok. Tetapi mengapa pemain kita lebih sering kalah?

Hal-hal yang ditengarai berhubungan dengan mental antara lain keberanian mengambil keputusan dalam pola bermain, semangat juang dan selalu siap dalam kondisi apa-pun. Adakala pemain dihadapkan dengan gemuruhnya supporter lawan, kecurangan hakim garis atau bentuk tekanan lainnya. Kalau kita menonton pemain Tiongkok, hampir sebagian besar menampilkan kepercayaan diri yang tinggi seperti menatap mata lawan atau berteriak ketika meraih poin.

Saya pernah mendengar cerita dari salah satu pemain hebat Indonesia, Fung Permadi. Secara teknik bermain, ia tidak merasa kalah dari rekan-rekannya seangkatannya, Alan Budi Kusuma, Ardi Wiranata, Hermawan Susanto dan Joko Suprianto. Tetapi dari segi prestasi, ia selalu tertinggal dari rekan-rekannya. Inilah yang membuat dirinya merasa kalah bersaing di Pelatnas.

Ia mengungkapkan, kadang-kadang kalau mengalami masalah mental, maka seseorang harus jatuh sampai titik nol agar bisa bangkit dengan beberapa kali lipat. Fung mengalami kondisi seperti itu. Dari pemain Pelatnas yang semua kebutuhan disediakan, lalu ia hijrah ke Taiwan sebagai pemain latih tanding. Ia dibayar untuk melayani latih tanding dengan pemain nasional Taiwan dengan fasilitas yang tentu saja tidak sebaik di Pelatnas. Dititik inilah Fung bertekad untuk bangkit. Dengan kesungguhan sebagai teman berlatih pemainnya, membuat Federasi Bulutangkis Taiwan menawari Fung menjadi pemain nasional Taiwan.

Sumber :

https://hendrigumay.wordpress.com/

Leave a Reply