Mengenal Sosok Jonatan Christie

asiangames2018-278-8-jonatan4-individu-finalAsian Games Jakarta-Palembang 2018 melambungkan nama Jonatan Christie. Pemain yang akrab dipanggil Jojo ini secara mengejutkan berhasil meraih medali emas tunggal putra. Keberhasilan tersebut membuat namanya dikenal luas di tanah air. Namun sebenarnya di kalangan bulutangkis, namanya sudah dikenal sejak kecil karena prestasi-prestasinya.

Jojo lahir di Jakarta tanggal 15 September 1997 merupakan anak dari pasangan Andreas Adi Siswa dan Marlanti Djaja. Ia diperkenalkan dengan cabang olah raga bulutangkis oleh ayahnya. Sang ayah pula yang awalnya berkeinginan agar Jojo menjadi seorang pemain bulutangkis. Jojo sudah mulai berlatih sejak umur 6 tahun.

Untuk meningkatkan kemampuannya, Jojo bergabung dengan klub Tangkas Jakarta. Di usia cukup belia sekitar 11 tahun, Jojo sudah meraih prestasi tingkat DKI Jakarta, nasional bahkan Internasional. Diantaranya menjadi juara Kejurda DKI Jakarta 2008 dan Tetra Pack Open 2008. Selain itu, Jojo yang mewakili klub Tangkas, menjuarai Kejuaraan Astec Open 2008 mengalahkan Fiky Murpala (SGS Bandung).

Kemenangan Jojo di Olimpiade Olah raga Siswa Nasional (O2SN) 2008 mengantarnya mewakili Indonesia diajang APSSO (ASEAN Primary School Sport Olympiad). Di Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara di Jakarta tersebut, Jojo berhasil meraih medali emas dari nomor tunggal putra setelah mengalahkan rekannya Rohmat, 21-19 dan 21-17.

Dari prestasi Jojo diajang APSSO 2008 tersebut, ia mendapatkan penghargaan Satya Lencana dari presiden RI ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009. Tahun 2009 pula, Jojo sempat ikut bermain dalam film King. Dalam film yang bertema bulutangkis itu, Jojo berperan sebagai Arya yang menjadi saingannya Guntur, sang tokoh utama dalam film ini.

Di lapangan pertandingan, Jojo terus mencetak prestasi. Ia berhasil menjadi juara tunggal putra dalam ajang Asia Junior Championships U15 tahun 2010 di Ichiba, Jepang. Di babak final, ia mengalahkan pemain tuan rumah Koga Minaru, 21-13 dan 21-11. Tahun 2012, Jojo mencapai babak semifinal dalam ajang Australian U19 Junior International.

Kiprahnya diajang Kejuaraan dunia Junior kandas di babak perempat final. Di Kejuaraan Dunia Junior 2013 di Taipei, ia harus mengakui keunggulan Zhao Jun Peng dari Tiongkok. Demikian pula diajang yang sama tahun berikutnya di Alor Setar, Malaysia, Jojo ditaklukan Lin Gui Pu yang juga dari Tiongkok. Namun di tingkat regional, Jojo berhasil menyumbangkan medali emas di ASEAN School Games 2013 setelah mengalahkan Lim Chi Wing (Malaysia).

Momen mengharukan terjadi di acara pelepasan legenda tunggal putra Indonesia Taufik Hidayat yang menyatakan pensiun. Dalam acara yang digelar bersamaan dengan turnamen Indonesia Open 2013 tersebut, Taufik memberikan salah satu raket terakhirnya kepada Jonatan Christie. Tujuannya adalah agar Jojo lebih berprestasi sepeninggal Taufik.

Mulai tahun 2013 pula, Jojo mulai berprestasi di level senior walaupun ia baru berusia 15 tahun. Ia meraih gelar pertamanya diajang senior di Indonesia International Challenge 2013. Di babak final, Jojo mengalahkan seniornya Alamsyah Yunus, 21-17, 21-10. Jojo tidak berhasil mempertahankan gelarnya setelah pada Indonesia International Challenge tahun 2014. Ia kalah di final dari Lee Hyun Il (Korea), 11-10, 9-11, 5-11, 11-8, 11-3. Namun ia memperoleh gelar juara baru di Swiss International Challenge 2014 setelah mengalahkan Ng Ka Long Angus, 9-11, 9-11, 11-6, 11-9, 11-10. Pada tahun tersebut, untuk turnamen International Challenge sedang diujicobakan sistem skor yang berbeda dengan turnamen superseries.

Tahun 2015, Jonatan mulai banyak mengikuti turnamen-turnamen level atas seperti Grand Prix hingga Superseries Premier. Namun belum ada yang mencapai hingga babak empat besar. Di tahun ini juga, Jojo menjadi salah satu andalan Indonesia di Piala Sudirman.

Kiprahnya di turnamen superseries mulai menampakan hasilnya di Malaysia Open Superseries Premier 2016 dimana Jojo mampu merebut posisi semifinalis. Ia bermain tiga game dengan pemain kuat asal Tiongkok, Chen Long sebelum kalah dengan skor 21-8, 19-21 dan 14-21. Prestasi lainnya, Jojo menyumbangkan medali emas buat DKI Jakarta di arena PON Jawa Barat 2016. Di babak final, ia mengalahkan Wisnu Yuli Prasetyo yang mewakili Jawa Timur dengan skor, 21-16 dan 21-15.

Jojo mempunyai keberuntungan tersendiri di arena multi cabang. Setelah medali emas PON, ia juga meraih medali emas tunggal putra cabang bulutangkis SEA Games 2017 di Malaysia. Ia menghempaskan andalan Thailand, Khosit Phetpradab, 21-19 dan 21-10 di partai puncak. Jojo juga menembus babak final Thailand Open Grand Prix Gold, namun ia harus puas di posisi runner up setelah kalah dari Sai Praneeth (India), 21-17, 18-21 dan 19-21. Bahkan ia bersama rekannya Anthony Sinisuka Ginting, mencetak “all Indonesian final” di turnamen Korea Open Superseries 2017. Ia kalah dari rekannya di partai ini dengan skor, 13-21, 21-19 dan 20-22 dalam pertarungan selama lebih dari 1 jam.

Medali emas Asian Games 2018 dipersembahkan Jojo kepada pecinta bulutangkis Indonesia. Di babak final, ia mengalahkan Chou Tien Chen, 21-18, 20-22 dan 21-15. Medali emas ini melengkapi medali emas di event multi cabang sebelumnya dimana ia meraih medali emas PON dan SEA Games. Medali ini juga meneruskan keberhasilan seniornya Taufik Hidayat yang merebut medali emas Asian Games 2002 & 2006. Ini seolah menegaskan bahwa kepercayaan Taufik menyerahkan raket terakhirnya ke Jojo lima tahun lalu, mampu dibalas dengan mengikuti jejak emas sang legenda.

Dua gelar juara berhasiil diraih Jojo di tahun 2019. Ia memenangkan turnamen super 300 New Zealand Open dan Australia Open. Di New Zealand Open, Jojo menundukan Ng Ka Long Angus di babak final dengan mudah, 21-12, 21-13. Sedangkan di Australia, ia mengalahkan rekannya Anthony Sinisuka Ginting di babak final dengan, 21-17, 13-21 dan 21-14. Sebelumnya di babak perempat final, Jojo mampu mengalahkan legenda bulutangkis Tiongkok, Lin Dan dengan 21-9 dan 24-22. Lalu di semifinal mengalahkan pemain kuat lainnya Chou Tien Chen, 22-20, 13-21, 21-16.

Dua gelar runner up satu semifinalis dicetak Jojo di turnamen BWF World Tour Super 750. Ia menembus babak final Japan Open dan French Open 2019 serta semifinal Malaysia Open 2019. Disamping itu, ia juga meraih hasil sebagai semifinalis turnamen super 500 di Indonesia Masters dan Hong Kong Open 2019. Dipenghujung tahun 2019, Jojo menempati peringkat 6 dunia tunggal putra atau merupakan peringkat terbaik diantara pemain tunggal putra Indonesia.

PBSI20170413_Singapore Open_Jonatan (1 of 7) 

Profil

Nama                                    : Jonatan Christie

Tanggal Lahir                      : 15 September 1997

Tempat Lahir                      : Jakarta

Nama Ayah                         : Andreas Adi Siswa

Nama Ibu                            : Marlanti Djaja

Pegangan Raket                : Kanan

 

Prestasi

Medali emas Asian Games 2018

Medali emas SEA Games 2017

Medali emas PON (Pekan Olahraga Nasional) 2016

Medali emas  ASEAN School Games 2013

Medali emas APPSO (ASEAN Primary School Sport Olympiad) 2008

Juara BWF World Tour Super 300 New Zealand Open 2019

Juara BWF World Tour Super 300 Australian Open 2019

Juara Swiss International Challenge 2014

Juara Indonesia International Challenge 2013

Runner up BWF World Tour Super 750 Japan Open 2019

Runner up BWF World Tour Super 750 French Open 2019

Runner up BWF World Tour Super 300 New Zealand Open 2018

Runner up Korea Open Superseries 2017

Runner up Thailand Open Grand Prix Gold 2017

Runner up Indonesia International Challenge 2014

Semifinal BWF World Tour Super 750 Malaysia Open 2019

Semifinal BWF World Tour Super 500 Indonesia Masters 2019

Semifinal BWF World Tour Super 500 Hong Kong Open 2019

Semifinal BWF World Tour Super 500 Korea Open 2018

Semifinal Malaysia Open Superseries Premier 2016

Semifinal Bahrain International Challenge 2014

Semifinalis Australian U19 Junior International 2012

Leave a Reply