Mengenal Sosok Hendra Setiawan

FinalMOSSP_HendraAhsan5Hendra Setiawan merupakan pemain ganda yang mempunyai kecepatan dalam mencegat bola di depan. Ia sangat piawai dalam permainan di sekitar net. Hendra telah memberi persembahan terbaik buat Indonesia dengan medali emas Asian Games,  juara All England, juara dunia dan bahkan meraih medali emas Olimpiade.

Hendra lahir di Pemalang, Jawa Tengah, 24 Agustus 1984 dari pasangan Ferry Yoegianto dan Kartika Christyaningrum. Ayahnya merupakan mantan pemain tim PON Jateng semasa aktifnya. Sang ayah merupakan orang pertama yang mengenalkan bulutangkis kepada Hendra. Dengan bakat yang menonjol dari Hendra, ia pun menyusul kakak kandungnya Silvia Anggraeni yang menjadi pemain klub Jaya Raya, Jakarta.

Di saat junior, ia berpasangan dengan Joko Riyadi berhasil menjuarai Indonesia Open Junior dua tahun berturut-turut yakni tahun 2001 dan 2002. Bersama Joko Riyadi, ia juga sempat menjadi runner up Singapore Satellite 2002. Di tahun 2002 ini juga, Hendra mulai berpasangan dengan Markis Kido. Pasangan ini berhasil menembus semifinal Malaysia Satellite, walaupun harus mengakui keunggulan pasangan tuan rumah Jeremy Gan/GanTeik Chai. Selain itu, ia juga tampil sebagai semfinalis ganda campuran berduet dengan Devi Sukma Wijaya.

Bersama Markis, ia mulai mencetak prestasi–prestasi besar. Indonesia Terbuka 2005 menjadi bukti kiprah mereka.  Di final Hendra/Markis menundukkan pasangan legenda Indonesia Candra Wijaya/Sigit Budiarto, 15-10, 12-15, 15-3. Disamping itu mereka menjuarai Kejuaraan Asia 2005, medali emas SEA Games 2005, Hongkong Open 2006, China Open 2006 dan Invitasi Piala Dunia 2006.

Gelar juara dunia berhasil mereka genggam tahun 2007 di kejuaraan yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia dan Markis berhasil mengalahkan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dari Korea, 21-19 dan 21-19 di babak final.

Bertanding di negeri kandang macan China, sering membawa keberuntungan buat ia dan Markis. Setelah juara China Open 2006, dilanjutkan kembali menjadi juara di turnamen yang sama tahun 2007. Dan puncaknya tanggal 16 Agustus 2012, mereka memberikan kado manis jelang ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mempersembahkan medali emas Olimpiade Beijing 2008. Di final yang berlangsung dramatis, Hendra/Markis berhasil mengalahkan andalan tuan rumah Fu Haifeng/Cai Yun 12-21, 21-11, 21-16 Ini juga melanjutkan tradisi emas Indonesia di Olimpiade selama 16 tahun sejak Olimpiade Barcelona 1992.

Selepas Olimpiade, pasangan ini meraih beberapa gelar juara diantaranya Jepang Open 2009, France Open 2009 dan medali emas SEA Games 2009. Awal 2010 Markis dan Hendra memutuskan untuk mengundurkan diri dari Pelatnas. Mereka berkarir secara mandiri dengan dukungan berbagai sponsor.

Meskipun sudah di luar Pelatnas, mereka tetap meraih prestasi yang menonjol. Pasangan ini kembali mengibarkan bendera merah putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di ajang bergengsi. Kali ini di Asian Games 2010 yang berlangsung di Guangzhou, China, berhasil mereka menangkan. Persembahan emas diraih usai mengalahkan harapan malaysia Koo Kean Keat/Tan Boon Heong, 16-21, 26-24 dan 21-19.

Kebersamaan Hendra dengan Markis terputus di pertengahan tahun 2012. Hendra dipanggil kembali ke Pelatnas untuk berpasangan dengan Mohammad Ahsan, sementara Markis tetap menempuh karir di luar Pelatnas. Ahsan sendiri sebelumnya berpasangan dengan Bona Septano yang juga merupak adik dari Markis Kido.

Pasangan Hendra/Ahsan meraih gelar pertamanya di Malaysia Open Super Series 2013. Pasangan baru ini menundukkan pasangan kuat Korea Selatan, Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun. Hendra melengkapi berbagai gelar juara-nya bersama Mohammad Ahsan diantaranya juara Indonesia Open SSP 2013, Singapore Open SS 2013 dan Jepan Open SS 2013. Hendra pun meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya. Di Kejuaraan Dunia 2013 yang berlangsung di Guangzhou, China, Hendra bersama Ahsan menjadi juara setelah mengalahkan Mathias Boe/ Carsten Mogensen (Denmark), 21-13 dan 23-21.

Hendra/Ahsan juga menjadi pebulutangkis Indonesia pertama yang menjadi juara diajang BWF Superseries Final yang juga diraihnya tahun 2013. Pasangan ini pun segera menduduki peringkat nomor satu dunia. Tahun 2014, Hendra/Ahsan kembali membuat sensasi dengan menjuarai turnamen bergengsi All England dilanjutkan dengan medali emas Asian Games, serta juara Hong Kong  Open SS.

Tahun 2015 Hendra menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya di pertandingan yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta. Hendra/Ahsan merupakan penyumbang satu-satunya gelar bagi tuan rumah. Gelar bergengsi lainnya BWF Superseries Final, kembali mereka raih di penghujung tahun 2015.

Memasuki tahun 2016, prestasi Hendra bersama Ahsan mulai meredup. Mereka gagal memenuhi ambisi untuk meraih medali di Olimpiade Rio 2016. Duet ini malah tersingkir di babak penyisihan grup setelah mengalami dua kali kekalahan. Mereka kalah dari Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok), 15-21, 17-21 dan dari Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang), 17-21, 21-16, 14-21. Kekalahan dari Endo/Hayakawa merupakan hal yang tak diduga karena Ahsan/Hendra selalu menang dalam sembilan pertemuan sebelumnya.

Selepas Olimpiade 2016, Hendra/Ahsan masih sempat berduet di dua turnamen, Japan Open dan Korea Open. Mereka terhenti di babak semifinal Japan Open setelah kalah dari Li Jun Hui/Li Yu Chen (Tiongkok). Sedangkan di Korea Open, sudah harus angkat koper di babak perempat final.

Setelah itu, Hendra dan Ahsan berpisah. Hendra mulanya dicoba berpasangan dengan Rian Agung Saputro di Denmark Open dan French Open yang berlangsung bulan Oktober 2016. Namun hasilnya kurang memuaskan dengan langsung terhenti di babak 16 besar dan 32 besar. Lalu bulan berikutnya Hendra ditandemkan dengan Berry Anggriawan di turnamen China Open dan Hong Kong Open. Kiprah juga langsung tersingkir di babak pertama.

Hendra memutuskan untuk keluar dari Pelatnas PBSI dan berkarir secara profesional. Ia menggandeng pemain asal negeri jiran Malaysia, Tan Boon Heong. Duet Hendra/Tan ini mengikuti 18 turnamen internasional sepanjang tahun 2017. Hasil terbaiknya adalah menjadi runner up Australian Open Superseries. Saat babak semifinal, mereka berhasil mengalahkan juara dunia 2017, Liu Cheng/Zhang Nan, 21-15, 14-21, 21-17. Namun harus takluk dari Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 17-21 dan 19-21. Hendra/Tan juga meraih posisi semifinalis pada China Masters GPG 2017.

Penghujung tahun 2017, Hendra berduet kembali bersama Ahsan di ajang Kejurnas yang berlangsung di Pangkal Pinang. Pasangan ini berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Frengky Wijaya Putra/Sabar Karyaman Gutama, 21-13, 21-17. Dengan hasil ini, Hendra berhak mendapatkan posisi di Pelatnas dengan status magang.

Meskipun Hendra kembali ke Pelatnas tetapi tidak langsung dipasangkan dengan Ahsan karena Hendra dicoba lagi berpasangan dengan Rian Agung Saputro. Namun duet Hendra/Rian di BWF World Tour Super 500 – Indonesia Masters 2018 langsung tumbang di babak kedua dari pasangan nomor satu dunia saat itu Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Berduetnya kembali Hendra dan Ahsan di arena Internasional terwujud di BWF World Tour Super 500 –India Open 2018. Kiprah mereka langsung mencapai babak semifinal sebelum dikalahkan Kevin/Marcus.

Pasangan Ahsan/Hendra yang sama-sama sudah menjadi ayah ini kerap dijuluki the Daddies baik oleh penggemar maupun media. Daddies mulai menemukan kekompakannya kembali. Mereka mampu meraih dua gelar juara di tahun 2018 yakni di Malaysia International Challenge dan BWF World Tour Super 500-Singapore Open. Daddies membuat prestasi cukup stabil di jajaran atas. Lima kali mereka meraih hasil sebagai semifinalis. Selain di India Open, mereka juga meraih empat besar di German Open, Denmark Open, Fuzhou China Open, Hong Kong Open. Peringkat mereka yang sempat berada pada urutan ke-162 dunia pada tanggal 8 Februari 2018 naik drastis menjadi ke-9 dunia pada tanggal 27 Desember 2018.

Menjelang tur tahun 2019, Daddies memutuskan untuk mundur dari status pemain Pelatnas. Mereka menjalani tur dengan profesional atau biaya sendiri. Namun Daddies tetap berlatih di Pelatnas serta ditangani pelatih Pelatnas. Kebangkitan Daddies semakin terlihat di sepanjang tahun 2019. Mereka mampu meraih tiga gelar bergengsi sekaligus dalam satu tahun yakni Kejuaraan Dunia, All England dan BWF World Tour Final.

Di All England 2019, Daddies menjadi juara setelah mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/ Wooi Yik Soh, 11-21, 21-14 dan 21-12. Untuk ketiga kalinya Daddies merengkuh gelar juara setelah memenangkan Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Basel, Swiss. Mereka menumbangkan Takuro Hoki/ Yugo Kobayashi (Jepang), 25-23, 9-21, 21-15. Daddies menutup tahun dengan gelar BWF World Tour setelah mengalahkan Yuta Watanabe/Hiroyuki Endo, 24-22, 21-19.

Selain itu, Daddies juga meraih posisi runner up di turnamen Indonesia Masters, Singapore Open, Indonesia Open, Japan Open, China Open, Denmark Open dan Hong Kong Open. Mereka kalah dari Kevin/Marcus pada lima dari tujuh kekalahan di final. Pencapaian prestasi yang fenomenal di tahun 2019 telah mengangkat peringkat menjadi kedua dunia dibawah juniornya Kevin/Marcus sejak bulan Agustus 2019.

Sebelum turnamen dihentikan karena pandemi Covid-19, Daddies sempat mengikuti tiga turnamen di tahun 2020. Indonesia Masters 2020 menjadi hasil terbaiknya dengan mencapai babak final. Namun lagi-lagi, Daddies kalah dalam hal kecepatan dari Kevin/Marcus yang lebih muda. Mereka kalah dengan skor 15-21, 16-21. Sedangkan di turnamen lainnya, Daddies terhenti di babak semifinal Malaysia Masters dan perempat final All England. Namun Daddies tetap kokoh di peringkat dua dunia.

Dari luar lapangan, Hendra mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Sandiani Arief atau lebih akrab dipanggil San San pada tanggal 9 Oktober 2011. Acara pernikahan dilangsungkan di hotel JW Marriot, Jakarta. Kebahagian Hendra dan Sansan semakin bertambah sekitar Sansan mengandung anak pertama mereka tahun 2014. Dari kehamilan umur 4 bulan, plasentanya terus dibawah sehingga Sansan memilih berada di Surabaya yang dekat dengan keluarga dibandingkan di Jakarta. Ternyata, hasil USG menujukkan bahwa mereka akan dikaruniahi anak kembar. Dikarenakan akan melahirkan kembar, maka dokter mengharuskan dengan operasi cecar.

“Waktu itu saya persiapan pertandingan All England sehingga kelahirannya dipercepat walaupun belum genap waktunya. Daripada nanti menjadi pikiran saat pertandingan,” ujar Hendra.

Tanggal 19 Februari 2014, lahirlah kedua anak kembar laki-laki dan perempuan di Rumah Sakit RKZ Surabaya. Anaknya yang laki-laki diberi nama Richard Heinrich Setiawan, sedangkan yang perempuan diberi nama Richelle Hillary Setiawan. Namun Hendra tidak bisa melihat proses kelahirannya secara langsung karena dilarang oleh dokter.

Dua minggu kemudian Hendra terbang ke London dan mempersembahkan kado yang indah buat kedua buah hatinya. Ia bersama Mohammad Ahsan membawa pulang gelar juara turnamen tertua di dunia tersebut.

Hendra kembali diberi karuniah seorang anak laki-laki yang lahir pada hari Rabu, 26 Juli 2017. Sang anak diberi nama Russel Howard Setiawan. Kali ini, Hendra melihat proses kelahirannya secara langsung di Rumah sakit Mitra Cibubur. Proses kelahirannya kembali dilakukan dengan operasi cesar karena bobot bayi yang terlalu besar yakni diatas 4 kilogram.

20150812PBSI_BWF WC_HENDRA AHSAN2

Hendra Setiawan (depan), berpasangan dengan Mohammad Ahsan

 

Profil :

Nama                                    : Hendra Setiawan

Tempat Lahir                      : Pemalang, Jawa Tengah

Tanggal Lahir                      : 24 Agustus 1984

Pegangan Raket                 : Kanan

Nama Bapak                       : Ferry Yoegianto

Nama Ibu                            : Kartika Christyaningrum

Nama Istri                           : Sandiani Arief

Nama Anak                         : Richard Heinrich Setiawan, Richelle Hillary Setiawan & Russel Howard Setiawan

 

Prestasi

Medali Emas Olimpiade Beijing  2008 (/Markis Kido)

Medali emas Asian Games 2010 (/Markis Kido)

Medali emas Asian Games 2014 (/Mohammad Ahsan)

Medali emas SEA Games 2005, 2007 & 2009 (/Markis Kido)

Juara Kejuaraan Dunia 2007 (/Markis Kido)

Juara Kejuaraan Dunia 2013, 2015, 2019 (/Mohammad Ahsan)

Juara Invitasi Piala Dunia 2006 (/Markis Kido)

Juara Kejuaraan Asia 2005 & 2009 (/Markis Kido)

Juara BWF Super Series Finals  2013 & 2015 (/Mohammad Ahsan)

Juara BWF World Tour Final 2019 (/Mohammad Ahsan)

Juara All England 2014 & 2019 (/Mohammad Ahsan)

Juara Indonesia Open 2005 (/Markis Kido)

Juara Indonesia Open SSP 2013 (/Mohammad Ahsan)

Juara China Open 2006 & 2007 (/Markis Kido)

Juara Hongkong Open 2006 & Hongkong Open SS 2007 (/Markis Kido)

Juara Hongkong Open SS 2014 (/Mohammad Ahsan)

Juara Malaysia Open 2008 (/Markis Kido)

Juara Malaysia Open SS 2013 & Malaysia Open SSP 2015 (/Mohammad Ahsan)

Juara Singapore Open SS 2012 (/Markis Kido)

Juara Singapore Open SS 2013 (/Mohammad Ahsan)

Juara BWF World Tour Super 500 – Singapore Open 2018 (/Mohammad Ahsan)

Juara Malaysia International Challenge 2018 (/Mohammad Ahsan)

Juara BWF World Tour Super 300 – New Zealand Open 2019 (/Mohammad Ahsan)

Juara Japan Open SS 2009 (/Markis Kido)

Juara Japan Open SS 2013 (/Mohammad Ahsan)

Juara Denmark Open SS 2008 (/Markis Kido)

Juara Perancis Open SS 2008 & 2009 (/Markis Kido)

Juara China Masters SS 2008 (/Markis Kido)

Juara Australian Open GPG 2012 (/Markis Kido)

Juara Malaysia Grand Prix Gold 2010 (/Markis Kido)

Juara Chinese Taipei Open 2007 (/Markis Kido)

Juara Thailand Masters GPG 2016 (/Mohammad Ahsan)

Indonesia Junior 2001 & 2002 (/Joko Riyadi)

 

 

 

Leave a Reply