Sektor ganda putra Indonesia selalu melahirkan legenda-legenda baru dari berbagai era. Mohammad Ahsan, merupakan salah seorang pebulutangkis ganda putra Indonesia yang mampu bertahta sebagai juara dunia dan juara All England.
Mohammad Ahsan lahir di Palembang tanggal 7 September 1987. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Tumin Atmadi dan Siti Rohana. Ia memiliki dua orang kakak bernama Nisa Tartiela dan M. Askyuru. Kakaknya M. Askyuru sempat menekuni olahraga bulutangkis juga meskipun prestasinya sebatas prestasi domestik.
Berawal dari menonton pertandingan bulutangkis, Ahsan kecil mulai bercita-cita menjadi pemain bulutangkis. Ia mulai berlatih di klub Sekanak, Palembang. Untuk mengembangkan kemampuannya Ahsan dan kakaknya pindah ke Jakarta. Tahun 2005, ia berhasil meraih gelar juara Milo Indonesia Open Junior berpasangan dengan Bona Septano. Salah satu catatan penting dalam karirnya adalah tahun 2007 dimana ia bergabung dengan klub ternama PB Djarum Kudus.
Prestasi Ahsan bersama Bona sebenarnya cukup baik, diantaranya juara Philipine Open GPG 2009, Vietnam Open GP 2010, India Open GP 2010, dan Indonesia GPG 2010-2011. Pasangan ini juga berhasil meraih medali emas SEA Games 2011 setelah mengalahkan peraih emas Olimpiade 2008 Markis Kido/Hendra Setiawan di babak final.
Dengan pasangan berbeda, Ahsan juga meraih medali perunggu Asian Games 2010. Ketika itu ia berpasangan dengan Alvent Yulianto kalah dari pasangan Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong di babak semifinal. Pasangan Malaysia tersebut dapat dijegal pasangan Indonesia lainnya Markis Kido/Hendra Setiawan pada perebutan medali emas.
Kiprah Ahsan bersama Bona sendiri mengalami kegagalan saat menjadi wakil Indonesia di Olimpiade London 2012. Meraka kalah di babak perempat final dari pasangan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae. Setelah itu, tim pelatih Pelatnas memanggil kembali Hendra Setiawan yang saat itu sempat bermain secara profesional di luar Pelatnas. Kemudian Ahsan dipasangkan dengan Hendra. Ahsan dan Bona resmi bercerai sebagai pasangan ganda.
Kiprah awal Ahsan/Hendra di penghujung tahun 2012 terbilang menjanjikan prestasi. Mereka menembus babak semifinal Denmark Open SSP sebelum dijegal pasangan Korea Yoo Yeon Seong/Shin Baek Cheol.
Barulah tahun 2013, Ahsan/Hendra menjadi pasangan yang fenomenal. Gelar bergengsi sebagai juara dunia berhasil diraihnya di diadakan di Tianhe Indoor Stadium, Guangzhou, China. Di babak final, mereka menumbangkan pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen, 21-13, 23-21. Disamping itu, mereka menjuarai Malaysia Open SS, Indonesia Open SSP, Singapore Open SSP dan Jepang Open SS. Menjadi pasangan peringkat satu dunia pun berhasil mereka raih. Namun pasangan ini terjegal di turnamen bergengsi lainnya All England setelah dikalahkan pasangan Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan di babak semifinal.
Tahun berikutnya (2014), gelar bergengsi All England diperoleh dalam genggaman. Di babak final, Ahsan/Hendra menundukkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, 21-19 dan 21-19. Kemenangan ini sekaligus mengobati kerinduan Indonesia meraih gelar ganda putra All England selama 11 tahun. Sebelumnya, pasangan terakhir yang menjadi juara All England adalah Candra Wijaya/Sigit Budiarto tahun 2003.
Di tahun ini pula, Ahsan/Hendra merebut medali emas Asian Games di Incheon, Korea Selatan. Terlebih istimewa karena mengalahkan ganda terkuat tuan rumah Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong, 21-16, 16-21 dan 21-17.
Ahsan/Hendra juga menjadi penyelamat Indonesia sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia tahun 2015. Mereka menyumbangkan satu-satunya gelar juara bagi publik Istora setelah mengalahkan pasangan Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan, 21-17 dan 21-14. Ahsan/Hendra juga menjuarai turnamen bergengsi penutup tahun BWF Superseries Final 2015.
Sayangnya, penampilan Ahsan/Hendra justru tidak mencapai puncak di Olimpiade Rio De Janeiro, Brazil 2016. Duet yang diharapkan meraih medali ini malah tersingkir di babak penyisihan grup setelah mengalami dua kali kekalahan. Mereka kalah dari Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok), 15-21, 17-21 dan dari Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang), 17-21, 21-16, 14-21. Kekalahan dari Endo/Hayakawa merupakan hal yang tak diduga karena Ahsan/Hendra selalu menang dalam sembilan pertemuan sebelumnya.
Selepas Olimpiade 2016, Ahsan/Hendra masih sempat berduet di dua turnamen, Japan Open dan Korea Open. Mereka terhenti di babak semifinal Japan Open setelah kalah dari Li Jun Hui/Li Yu Chen (Tiongkok). Sedangkan di Korea Open, sudah harus angkat koper di babak perempat final.
Kemudian Ahsan dicoba berpasangan dengan Berry Anggriawan. Kiprah Ahsan/Berry kurang memuaskan. Pasangan ini langsung kalah di babak pertama Denmark Open 2016 dari pasangan Korea Choi Solgyu/Kim Gi Jung, 21-23, 12-21. Di turnamen berikutnya French Open 2016, Ahsan/Berry kalah dari rekannya Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, 13-21, 21-14 dan 18-21.
Ahsan kembali dicoba dengan pasangan yang berbeda, Rian Agung Saputro. Setelah kalah di babak pertama China Open 2016, Ahsan/Rian berhasil menembus babak semifinal Hong Kong Open 2016. Tim pelatih Pelatnas akhirnya memilih Rian sebagai pasangan tetap Ahsan.
Memulai tur tahun 2017, Ahsan/Rian diturunkan di turnamen level yang lebih rendah, China International Challenge. Di turnamen ini Ahsan/Rian berhasil meraih gelar juara setelah mengalahkan Potieng Trawut/Yordphaisong Nanthakarn (Thailand), 8-11, 11-7, 11-4, 11-7. Sistem poin pada turnamen ini berbeda dari turnamen yang levelnya lebih tinggi sebagai uji coba sistem skor oleh BWF.
Sepanjang 2017, Ahsan/Rian mengikuti 12 turnamen internasional. Meskipun sebagian besar kurang memuaskan tetapi mereka membuat kejutan di Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia. Mereka berhasil menembus babak final setelah mengalahkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 21-12, 21-15. Namun Ahsan/Rian harus puas dengan medali perak setelah kalah dari Liu Cheng/Zhang Nan (Tiongkok), 10-21, 17-21. Prestasi lainnya yang dicetak Ahsan/Rian adalah semifinalis China Open Superseries Premier 2017.
Penghujung tahun 2017, Ahsan berduet kembali bersama Hendra di ajang Kejurnas yang berlangsung di Pangkal Pinang. Pasangan ini berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Frengky Wijaya Putra/Sabar Karyaman Gutama, 21-13, 21-17. Dengan hasil ini, Hendra berhak mendapatkan posisi di Pelatnas dengan status magang setelah sebelumnya sempat mundur dan menjalani karir secara profesional dengan menggandeng pemain Malaysia Tan Boon Heong.
Meskipun Hendra kembali ke Pelatnas tetapi tidak langsung dipasangkan dengan Ahsan karena Ahsan dicoba dulu berpasangan dengan Angga Pratama. Namun penampilan perdana Ahsan/Angga di BWF World Tour Super 500 – Indonesia Masters 2018 langsung tumbang di babak pertama.
Bersatunya kembali Ahsan/Hendra di arena Internasional terwujud di BWF World Tour Super 500 –India Open 2018. Kiprah mereka langsung mencapai babak semifinal sebelumnya dikalahkan juniornya sekaligus pasangan nomor satu dunia Kevin sanjaya/Marcus Fernaldi Giideon.
Pasangan Ahsan/Hendra yang sama-sama sudah menjadi ayah ini kerap dijuluki the Daddies baik oleh penggemar maupun media. Daddies mulai menemukan kekompakannya kembali. Mereka mampu meraih dua gelar juara di tahun 2018 yakni di Malaysia International Challenge dan BWF World Tour Super 500-Singapore Open. Daddies membuat prestasi cukup stabil di jajaran atas. Lima kali mereka meraih hasil sebagai semifinalis. Selain di India Open, mereka juga meraih empat besar di German Open, Denmark Open, Fuzhou China Open, Hong Kong Open. Peringkat mereka yang sempat berada pada urutan ke-162 dunia pada tanggal 8 Februari 2018 naik drastis menjadi ke-9 dunia pada tanggal 27 Desember 2018.
Menjelang tur tahun 2019, Daddies memutuskan untuk mundur dari status pemain Pelatnas. Mereka menjalani tur dengan profesional atau biaya sendiri. Namun Daddies tetap berlatih di Pelatnas serta ditangani pelatih Pelatnas. Kebangkitan Daddies semakin terlihat di sepanjang tahun 2019. Mereka mampu meraih tiga gelar bergengsi sekaligus dalam satu tahun yakni Kejuaraan Dunia, All England dan BWF World Tour Final.
Di All England 2019, Daddies menjadi juara setelah mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/ Wooi Yik Soh, 11-21, 21-14 dan 21-12. Untuk ketiga kalinya Daddies merengkuh gelar juara setelah memenangkan Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Basel, Swiss. Mereka menumbangkan Takuro Hoki/ Yugo Kobayashi (Jepang), 25-23, 9-21, 21-15. Daddies menutup tahun dengan gelar BWF World Tour setelah mengalahkan Yuta Watanabe/Hiroyuki Endo, 24-22, 21-19.
Selain itu, Daddies juga meraih posisi runner up di turnamen Indonesia Masters, Singapore Open, Indonesia Open, Japan Open, China Open, Denmark Open dan Hong Kong Open. Mereka kalah dari Kevin/Marcus pada lima dari tujuh kekalahan di final. Pencapaian prestasi yang fenomenal di tahun 2019 telah mengangkat peringkat menjadi kedua dunia dibawah juniornya Kevin/Marcus sejak bulan Agustus 2019.
Sebelum turnamen dihentikan karena pandemi Covid-19, Daddies sempat mengikuti tiga turnamen di tahun 2020. Indonesia Masters 2020 menjadi hasil terbaiknya dengan mencapai babak final. Namun lagi-lagi, Daddies kalah dalam hal kecepatan dari Kevin/Marcus yang lebih muda. Mereka kalah dengan skor 15-21, 16-21. Sedangkan di turnamen lainnya, Daddies terhenti di babak semifinal Malaysia Masters dan perempat final All England. Namun Daddies tetap kokoh di peringkat dua dunia.
Dari luar lapangan, Ahsan melepas masa lajangnya tanggal 24 Maret 2013. Ia menikahi kekasihnya yang bernama Christinne Novitania. Dari pernikahannya, Ahsan sudah dikaruniahi dua orang anak. Yang tertua, seorang putra bernama Chayra Maritza Ahsan yang lahir tanggal 3 Januari 2014. Menyusul kemudian seorang putra bernama King Arsakha Ahsan yang lahir tanggal 12 Juni 2015.
Profil
Nama : Mohammad Ahsan
Tanggal Lahir : 7 September 1987
Tempat Lahir : Palembang
Nama Ayah : Tumin Atmadi
Nama Ibu : Siti Rohana
Nama Saudara : Nisa Tartiela & M. Askyuru
Nama Istri : Christinne Novitania
Nama Anak : Chayra Maritza Ahsan & King Arsakha Ahsan
Pegangan Raket : Kanan
Prestasi :
Juara Dunia (BWF World Championships) 2013, 2015, 2019 (/Hendra Setiawan)
Runner up BWF World Championships 2017 (/Rian Agung Saputro)
Juara BWF World Superseries Final 2013 &2015 (/Hendra Setiawan)
Juara BWF World Tour Finals 2019
Medali emas Asian Games 2014 (/Hendra Setiawan)
Medali Perunggu Asian Games 2010 (/Alvent Yulianto)
Juara All England 2014 & 2019 (/Hendra Setiawan)
Juara Indonesia Open SSP 2013 (/Hendra Setiawan)
Juara Malaysia Open 2013 & 2015 (/Hendra Setiawan)
Juara Singapore Open 2013 & 2018 (/Hendra Setiawan)
Juara Jepang Terbuka 2013 (/Hendra Setiawan)
Juara Hong Kong Open 2014 (/Hendra Setiawan)
Juara Thailand Masters GPG 2016 (/Hendra Setiawan)
Juara New Zealand Open 2019 (.Hendra Setiawan)
Juara Malaysia International Challenge 2018 (/Hendra Setiawan)
Juara China International Challenge 2017 (/Rian Agung Saputro)
Medali Emas SEA Games 2011 (/Bona Septano)
Juara Indonesia GPG 2010 & 2011 (/Bona Septano)
Juara India Open GP 2010 (/Bona Septano)
Juara Vietnam Open GP 2010 (/Bona Septano)
Juara Philipine Open GPG 2009 (/Bona Septano)
Juara Vietnam Satelitte 2007 (/Bona Septano)
Juara Junior Indonesia Open 2005 (/Bona Septano)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.