Mengenal Sosok Liliyana Natsir

WhatsApp Image 2021-05-12 at 06.11.22Sederet prestasi di capai Liliyana Natsir dalam perjalanan karirnya di dunia bulutangkis. Ia berhasil menyabet gelar juara dunia tahun 2005 dan 2007 bersama Nova Widianto serta tahun 2013 dan 2017 bersama Tontowi Ahmad. Liliyana juga meraih gelar bergengsi All England tiga kali berturut-turut tahun 2012, 2013 dan 2014 bersama Tontowi Ahmad. Bahkan puncak mencapai prestasi tertinggi, medali emas Olimpiade pada tahun 2016 di Rio de Janeiro, Brazil. Pemain yang akrab dipanggil Butet ini, mampu juga berprestasi di sektor ganda putri.

Liliyana Natsir lahir di Manado Sulawesi Utara tanggal 9 September 1985, bertepatan dengan hari olahraga nasional. Ia merupakan anak dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis. Liliyana memulai latihan bulutangkis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia tergabung dalam klub Pisok, Manado. Tahun 1997, Liliyana pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan klub Tangkas. Ia pun mulai menunjukan prestasi di level nasional.

Tahun 2002, ia terpilih masuk ke Pelatnas Cipayung. Bakatnya di nomor ganda campuran sudah langsung terlihat. Bersama Markis Kido, ia menjuarai Kejuaraan Asia Junior dan Indonesia Open Junior.

Kemudian Liliyana difokuskan di sektor ganda putri. Ia sempat berganti-ganti pasangan ketika awal karirnya bergabung di Pelatnas antara lain dengan Eny Erlangga, Rintan Apriliana, Nathalia Poluakan dan Greysia Polii hingga pertengahan tahun 2014.

Setelah itu, ia dipindahkan ke sektor ganda campuran Liliyana ditunjuk untuk menggantikan Vita Marissa sebagai pasangan Nova Widianto. Penyebabnya Vita Marissa mengalami cedera bahu. Saat itu Liliyana Natsir masih sangat muda, berusia 19 tahun. Perbedaan usia 8 tahun dengan Nova Widianto, tidak membuat kaku permainan mereka. Bahkan di tahun yang sama Nova/Liliyana sudah meraih gelar juara Singapore Open. Di partai puncak Nova/Liliyana menaklukkan pasangan Koo Kean Keat/Wong Pei Tty dari Malaysia.

Gelar prestisius berhasil dipersembahkan Nova/Liliyana di ajang Kejuaraan Dunia 2005 yang berlangsung di Ahahem, Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka memenangkan partai final atas andalan China, Xie Xongbo/Zhang Yawen. Gelar tersebut semakin lengkap dengan kemenangan di ajang bergengsi tanah air, Indonesia Open serta Kejuaraan Asia. Nova/Liliyana pun menjelma sebagai salah satu pasangan terbaik dunia dengan berbagai gelar juara yang berhasil mereka persembahkan.

Liliyana bersama Nova memenangkan kembali gelar juara Singapore Open di tahun 2006. Disusul dengan gelar juara Chinese Taipei Open dan Korea Open. Pasangan ini juga meraih gelar salah satu bergengsi saat itu, Invitasi Piala Dunia 2006.

Tahun 2007, Nova/Liliyana kembali mengukuhkan diri sebagai juara dunia. Mereka berhasil menuntaskan perlawanan andalan China, Zheng Bo/Gao Ling di pertandingan akhir. Nova/Liliyana juga melengkapi gelar juara nya dengan kemenangan di Philipine Open, China Open dan Hong Kong Open. Selain itu, Liliyana juga tampil cukup baik ketika turun di nomor ganda putri. Ia yang berpasangan dengan Vita Marissa, mampu meraih emas SEA Games dan juara China Master Super Series 2007. Bahkan Liliyana/Vita memenangkan Indonesia Open Super Series 2008 setelah mengalahkan Miyuki Maeda/Satako Suetsuna dari Jepang di babak final.

Harapan besar tertumpu kepada Nova/Liliyana untuk meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Asa itu semakin besar setelah mereka menuntaskan perlawanan andalan tuan rumah He Hanbing/Yu Yang dengan 15-21, 21-11 dan 23-21 di babak semifinal. Namun akhirnya mereka harus puas dengan medali perak setelah kalah 11-21, 17-21 dari pasangan Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo jung.

Selepas Olimpiade, pasangan ini masih mempersembahkan gelar juara diantaranya juara Malaysia Open 2009, French Open 2009 dan medali emas SEA Games 2009.  Tahun berikutnya, pelatih ganda campuran Pelatnas memutuskan  untuk memisahkan Nova dengan Liliyana. Liliyana perlu dicarikan pasangan yang lebih muda.

Terdapat tiga kandidat pengganti Nova sebagai pasangan Liliyana yakni Tontowi Ahmad, Devin Lahardi dan Muhammad Rijal. Liliyana disempat dicoba dengan Devin di turnamen Malaysia GPG 2010 dan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan pasangan Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam dari Thailand, 13-21, 21-16, 21-17 di babak final. Demikian pula ketika di coba dengan Tontowi Ahmad di Macau Open GPG 2010 pun menjadi juara setelah unggul atas rekannya Nova Widianto/Vita Marissa, 21-14, 21-18 di partai puncak. Akhirnya sang pelatih Richard Mainaky memutuskan Tontowi Ahmad menjadi tandem baru Liliyana.

Liliyana yang akrab dipanggil Butet dan Tontowi yang sering dipanggil Owi memulai perjalanan mereka menjadi pasangan ganda campuran legenda. Mereka berhasil meraih gelar keduanya di ajang Indonesia Grand Prix Gold 2010. Owi/Butet mampu mengatasi perlawanan rekannya Markis Kido/Lita Nurlita di babak akhir dengan skor, 21-11, 21-13.

Tahun 2011, pasangan Owi/Butet mulai mengumpulkan berbagai gelar juara. Mereka memenangkan India Open SS setelah menaklukan rekannya Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet, 21-18, 23-21. Lalu, Malaysia Open GPG setelah menundukan andalan tuan rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-15, 21-19. Kemudian, Singapore Open Super Series setelah menghempaskan Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing (Chinese Taipei), 21-14, 27-25 dan Macau Open GPG yang unggul tanpa bertanding atas Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing di babak final. Sedangkan di Kejuaraan Dunia, duet ini terhenti di babak semifinal. Mereka menelan kekalahan dari Chris Adcock/Imogen Bankier (Inggris/Skotlandia), 16-21, 19-21.

Bersama Tontowi, prestasi Liliyana makin mentereng. Ia meraih gelar juara All England tahun 2012 setelah di final mengalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Ryhter Juhl, 21-17 dan 21-19. Ini merupakan penantian selama 33 tahun bagi ganda campuran Indonesia setelah terakhir gelar juara dipersembahkan Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada tahun 1979.

Selepas juara All England, Owi/Butet tidak langsung pulang ke tanah air, melainkan memburu gelar juara di Swiss Open di pekan berikutnya. Owi/Butet mengandaskan asa pasangan Prapakamol/Saralee Thoungthongkam , 21-16, 21-14. Gelar juara lainnya direbut pasangan ini adalah India Open Super Series, Indonesia GPG dan Macau Open GPG.

Kekecewaan mendalam pernah menerpa Liliyana dan Tontowi ketika gagal meraih medali di Olimpiade London 2012. Mereka sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang melaju ke semifinal, harus menderita kekalahan dari Xu Chen/Ma Jin (China). Lalu, mereka gagal meraih medali perunggu setelah kalah dari Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pederden (Denmark) yang menandai terhentinya tradisi medali bagi bulutangkis Indonesia di Olimpiade.

Owi/Butet mampu mempertahankan gelar All England di tahun 2013 dengan mengalahkan lawan yang kuat dari Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei di final, 21-13 dan 21-17. Gelar juara dunia tidak luput dari gengaman Owi/Butet. Mereka berhasil menjadi juara tahun 2013 di kandang macan Guangzhou, Tiongkok. Bahkan mereka mengalahkan dua pasangan tuan rumah yang sangat diunggulkan, Zhang Nan/Zhao Yunlei di semifinal dan Xu Chen/Ma Jin di final. Gelar juara lainnya yang direngkuh tahun 2013 adalah Singapore Open Super Series dan China Open Super Series Premier.

Owi/Butet mencetak hattrick di turnamen All England setelah kembali menjadi juara tahun 2014 dengan mengalahkan lawan yang sama seperti tahun 2013, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Uniknya skornya pun sama seperti tahun sebelumnya yakni, 21-13 dan 21-17. Mereka juga meraih gelar ketiga di arena Singapore Open. Lalu menambah satu gelar lagi di French Open Super Series 2014.

Owi/Butet seolah mengalami paceklik prestasi di tahun 2015 atau setahun menjelang Olimpiade Rio de Janeiro. Pasangan ini sering kali mengalami kekalahan di babak semifinal maupun final. Owi/Butet terhadang di babak semifinal di turnamen Malaysia Open SSP, Singapore Open SS, Australian Open SS, Indonesia Open SS dan Kejuaraan Dunia. Mereka juga harus puas di podium kedua di turnamen All England, Korea Open SS dan Denmark Open SS. Namun Owi/Butet masih mampu meraih gelar juara pada Kejuaraan Asia dan Indonesia Masters GPG.

Memasuki tahun 2016, pencapaian Owi/Butet masih belum membaik. Bahkan mereka sudah kalah di babak perempat final All England setelah selama 4 tahun sebelumnya selalu menembus partai puncak. Owi/Butet sempat menjuarai Malaysia Open SSP. Namun kemudian kalah di semifinal Singapore Open, babak final Kejuaraan Asia, 16 besar Indonesia Open dan babak pertama Australian Open.

Owi/Butet pun memiliki catatan kurang baik bila bertemu pasangan nomor satu dunia saat itu Zhang Nan/Zhao Yunlei. Mereka selalu kalah dari pasangan Tiongkok tersebut sejak pertemuan di final Asian Games 2014.

Tibalah saat yang paling dinantikan, Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro. Meskipun mengalami masa prestasi yang kurang cemerlang, namun Owi/Butet sudah melakukan persiapan dengan berlatih keras termasuk melakukan karantina di kota Kudus. Owi/Butet berhasil mengatasi Zhang Nan/Zhao Yunlei, 21-16, 21-15 di babak semifinal. Kemudian, mereka mengembalikan tradisi medali emas bulutangkis Indonesia setelah mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) di final dengan skor,21-14 dan 21-12. Liliyana merupakan salah satu dari sedikit legenda bulutangkis yang mampu meraih gelar-gelar prestisius All England, Kejuaraan Dunia dan Olimpiade sekaligus.

Selepas Olimpiade, Owi/Butet seperi lepas dari beban berat. Mereka berhasil meraih dua gelar juara berturut-turut China Open SSP dan Hong Kong Open SS dalam dua pekan berturut-turut. Di final China Open, mereka mengalahkan pasangan tuan rumah Zhang Nan/Li Yi Hui, 21-13, 22-24 dan 21-16. Sementara di Hong Kong, mereka unggul atas juniornya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, 21-19 dan 21-17.

Ditengah deraan cedera lutut, Liliyana masih mampu meraih tiga gelar juara di tahun 2017. Liliyana bersama Tontowi, berhasil meraih gelar juara Indonesia Open untuk pertama kali sejak kedua berpasangan. Owi/Butet berhasil mengatasi Zheng Si Wei/Chen Qing Chen (Tiongkok), 22-20, 21-15 di pertandingan akhir. Namun turnamen Indonesia Open ini tidak dilaksanakan di Istora, Senayan melainkan di Jakarta Convention Centre terkait renovasi Istora untuk persiapan Asian Games.

Lalu, mereka sukses merebut kembali gelar juara dunia. Owi/Butet kembali berhasil mengatasi Zheng Si Wei/Chen Qing Chen dengan, 15-21, 21-16 dan 21-15. Owi/Butet berhasil menambah satu gelar superseries di French Open. Mereka kembali unggul atas Zheng Si Wei/Chen Qing Chen, 22-20, 21-15 di babak final.

Setelah mendapat stigma selalu gagal di turnamen Indonesia Open yang berlangsung di Istora, akhirnya Owi/Butet berhasil menembusnya. Mereka berhasil menjadi Indonesia Open 2018 yang dilaksanakan di Istora. Hasil ini diperoleh setelah mengalahkan Chang Peng Soon/Goh Li Ying, 21-17, 21-8 di babak final.

Namun niat Owi/Butet untuk melengkapi prestasinya dengan medali emas Asian Games, gagal terlaksana. Mereka harus puas meraih medali perunggu setelah kalah di babak semifinal dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 13-21 dan 18-21.

Tibalah waktu perpisahan dengan sang legenda. Liliyana Natsir atau Butet tampil dalam pertandingan terakhirnya di Indonesia Masters 2019. Butet bersama Owi berhasil menembus babak final turnamen ini. Mereka harus puas menaiki podium kedua setelah kalah dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 19-21, 16-21.

Sebelum acara final, dilangsungkan sebuah persembahan perpisahan dalam acara Liliyana Natsir’s Farewell Event dengan tema #Thank You Butet. Tagar tersebut menjadi salah satu trending topik di media sosial pada hari itu. Dalam kesempatan ini tersebut, Butet memberikan motivasi kepada penerusnya.

“Saya akan memberikan kesempatan dengan adik-adik saya untuk menjadi pemenang baru. Saya juga ingin menyampaikan pesan motivasi kepada adik-adik saya, para pemain pemain muda. Kekalahan itu tidak memalukan, yang memalukan itu menyerah,” kata Liliyana.

Dengan bulir-bulir air mata, Butet pun menyatakan keputusannya untuk pensiun.

“Hari ini adalah hari yang berat buat saya. Minggu 27 Januari 2019, saya menyatakan pensiun sebagai atlet bulutangkis,” ucap Butet di depan ribuan penonton yang hadir di Istora Senayan Jakarta.

WhatsApp Image 2021-05-12 at 06.11.22 (1)

Profil :

Nama                                                                    : Liliyana Natsir

Tempat Lahir                                                      : Manado

Tanggal Lahir                                                      : 9 September 1985

Pegangan Raket                                                 :  Kanan

Nama Bapak                                                       : Beno Natsir

Nama Ibu                                                            : Olly Maramis

 

Prestasi

Juara Indonesia Open Junior 2002 (/Markis Kido)

Juara Kejuaraan Asia Junior 2002  (/Markis Kido)

Juara Singapore Open 2004 (/Nova Widianto)

Juara Ganda Putri PON 2004 (/Nathalia Poluakan)

Juara Kejuaraan Dunia 2005 (/Nova Widianto)

Juara Indonesia Open 2005 (/Nova Widianto)

Medali Emas SEA Games 2005 (/Nova Widianto)

Juara Kejuaraan Asia 2006 (/Nova Widianto)

Juara Singapore Open 2006 (/Nova Widianto)

Juara ChineseTaipei Open 2006 (/Nova Widianto)

Juara Korea Open 2006 (/Nova Widianto)

Juara World Cup 2006 (/Nova Widianto)

Juara Philipine Open 2007 (/Nova Widianto)

Juara Kejuaraan Dunia 2007 (/Nova Widianto)

Juara China Open SS 2007 (/Nova Widianto)

Juara Hongkong Open SS 2007 (/Nova Widianto)

Juara Ganda Putri China Master SS 2007 (/Vita Marissa)

Medali Ganda Putri Emas SEA Games 2007 (/Vita Marissa)

Juara Swiss Open SS 2008 (/Nova Widianto)

Juara Ganda Putri Indonesia Open Super Series 2008 (/Vita Marissa)

Malaysia Open SS 2009 (/Nova Widianto)

Juara French Open SS 2009 (/Nova Widianto)

Medali emas SEA Games 2009 (/Nova Widianto)

Juara Malaysia Open GPG 2010 (/Devin Lahardi)

Juara Macau Open GPG 2010 (/Tontowi Ahmad)

Juara Indonesia Open GPG 2010 (/Tontowi Ahmad)

Juara India Open SS 2011 (/Tontowi Ahmad)

Juara Malaysia GPG 2011 (/Tontowi Ahmad)

Juara Singapore Open SS 2011 (/Tontowi Ahmad)

Juara Macau Open GPG 2011 (/Tontowi Ahmad)

Juara All England SSP 2012 (/Tontowi Ahmad)

Juara Swiss Open GPG 2012 (/Tontowi Ahmad)

Juara India Open SS 2012 (/Tontowi Ahmad)

Semifinalis Olimpiade 2012 (/Tontowi Ahmad)

Juara Indonesia Open GPG 2012 (/Tontowi Ahmad)

Juara Macau Open GPG 2012 (/Tontowi Ahmad)

Juara All England SSP 2013 (/Tontowi Ahmad)

Juara India Open SS 2013 (/Tontowi Ahmad)

Juara Singapore Open SS 2013 (/Tontowi Ahmad)

Juara Kejuaraan Dunia 2013 (/Tontowi Ahmad)

Juara China Open SSP 2013 (/Tontowi Ahmad)

Juara All England Open SSP 2014 (/Tontowi Ahmad)

Juara Singapore Open Super Series 2014 (/Tontowi Ahmad)

Juara French Open SS 2014 (/Tontowi Ahmad)

Juara Kejuaraan Asia 2015 (/Tontowi Ahmad)

Juara Indonesia Masters GPG 2015 (/Tontowi Ahmad)

Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016 (/Tontowi Ahmad)

Medali emas Olimpiade 2016 (/Tontowi Ahmad)

Juara China Open SSP 2016 (/Tontowi Ahmad)

Juara Hong Kong Open SS 2016 (/Tontowi Ahmad)

Juara Indonesia Open SSP 2017 (/Tontowi Ahmad)

Juara Kejuaraan Dunia 2017 (/Tontowi Ahmad)

Juara French Open 2017 (/Tontowi Ahmad)

Juara BWF World Tour Super 1000 – Indonesia Open 2018

 

Leave a Reply