Mengenal Sosok Praveen Jordan

1578981318_capture

Praveen Jordan (Foto : PB Djarum)

Pemain kelahiran Bontang, 26 April 1993 yang merupakan anak dari pasangan Setiyo Lemono dan Herlince Sinambela ini diberi nama Praveen Jordan. Nama belakang Jordan diambil dari nama pebasket terkenal Amerika Serikat, Michael Jordan. Sedangkan Praveen merupakan nama aktor asal India, Praveen Kumar yang memerankan tokoh Bima dalam film Mahabharata. Kedua orang tuanya berharap anaknya tersebut bertubuh kuat dan besar seperti Praveen dan Jordan.

Sebuah nama dapat mencerminkan doa berlaku untuk Praveen. Ia tumbuh menjadi sosok yang tinggi besar. Namun ia tidak mengikuti jejak kedua tokoh baik sebagai pebasket maupun aktor. Praveen dari Bontang ini menekuni bulutangkis sebagai jalan karirnya.

Praveen kecil awalnya tidak benar-benar serius berlatih bulutangkis meskipun ayahnya seorang pelatih bulutangkis. Kalau dilatih oleh ayahnya, ia jarang mau fokus dan lebih sering menganggu senior-seniornya. Namun darah bulutangkis melekat dari ayahnya yang pernah menjadi pemain level provinsi. Hal ini terbukti ketika Praveen mampu meraih gelar juara di Porseni (Pekan Olah raga dan Seni). Sejak itulah, ia mulai menekuni bulutangkis secara serius.

Menginjak duduk di bangku SMP, Praveen mulai mengikuti banyak pertandingan. Untuk meningkatkan kemampuannya, Praveen hijrah ke Jakarta. Ia bergabung ke klub Jaya Raya sebagai pemain tunggal selama 4 tahun. Tahun 2008, Praveen mendapat tawaran dari Ade Lukas untuk bergabung ke klub PB Djarum sebagai pemain ganda. Praveen menerima tawaran tersebut.

Kiprahnya sebagai pemain ganda merupakan pilihan yang tepat. Ia mulai mencetak prestasi di sektor ini. Tahun 2010, Praveen meraih 5 gelar juara Sirnas dalam satu tahun. Dimulai dari Sirnas Kalimantan Open di Balikpapan. Praveen menjuarai nomor ganda campuran taruna bersama Gloria Emmanuelle Widjajasetelah mengalahkan M. Andrean Permana/Aan Dwi C (Jaya Raya), 21-7, 21-18.

Empat gelar lainnya diraih dari nomor ganda taruna putra bersama Rangga Yave Rianto. Praveen/Rangga menjuarai Sirnas Sulawesi Open di Manado seusai menundukan Bayu Tri P/Rinov Dalle (Jaya Raya), 21-15 21-14. Lalu Sirnas Sumatera di Pekanbaru dengan menaklukan Ali Akbar /Apid Rosidin (Muatiara Bandung), 15-21 21-16 21-14 . Sirnas Jawa Barat dengan menghempaskan rekannya Kenas Adi Haryanto /Sigid Sudrajad (Djarum) 21-15 21-8. Sirnas Bali Open di Denpasar dengan mengalahkan Ade Yusuf/Rizky Hidayat (Wima), 21-18 21-14. Praveen/Rangga melengkapi gelarnya dengan memenangkan Chandra Wijaya Men’s Double Championships 2010.

Praveen/Rangga mencicipi beberapa turnamen Internasional, diantara Tangkas Alfamart Junior Challenge 2010. Pasangan ini terhenti di semifinal setelah kalah dari Ivandi Danang/Hardianto, 21-12, 21-17. Meskipun masih di usia junior, mereka juga mengikuti turnamen senior. Di 23rd SOTX Cyprus International Series 2010, mencapai babak semifinal sebelum dikalahkan Niclas Nohr/Mads Conrad Pedersen (Denmark).

Tahun 2011, Praveen mendapat kesempatan mewakili Indonesia di ajang Asian Junior Championships. Ia berhasil meraih perunggu di nomor ganda campuran bersama pasangannya Tiara Rosalia Nuraidah. Praveen/Tiara kalah di babak semifinal dari Pei Tianyi/ Ou Dongni (Tiongkok), 14-21, 21-23. Kiprahnya tersebut tidak cukup mengantarkannya sebagai pemain Pelatnas.

Klub PB Djarum memasangkan Praveen Jordan dengan Didit Juang di tahun 2012. Pasangan ini mengikuti beberapa turnamen internasional seperti Hanoi Vietnam International Challenge, Osaka International Challenge, Indonesia Open, Indonesia International Challenge dan Indonesia Open Grand Prix Gold. Hasil terbaik yang dicapai adalah semifinalis di Vietnam. Mereka kalah dari pasangan sesama dari Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Agripinna Prima Rahmanto Putra, 20-22, 21-19 dan 16-21.

Berpasangan dengan Vita Marissa

Lompatan besar dilakukan klub PB Djarum dengan memasangkan Praveen yang masih minim pengalaman internasional dengan pemain kawakan Vita Marissa.

“Saya sempat turun ke Sirnas Surabaya untuk melihat siapa saja pemain yang potensial untuk saya bawa. Di sana saya bertemu Praveen. Saya tanya kepada klubnya boleh nggak anak ini saya bawa. Dan saya tanya ke dia langsung. Ternyata dia siap,” jelas Vita saat itu.

Pasangan senior-junior ini tampil perdana di Korea Open Superseries Premier 2013. Setelah melewati babak kualifikasi, Praveen/Vita kalah di babak 32 besar dari Muhammad Rijal/Debby Susanto, 15-21, 16-21.

Praveen/Vita mulai tampil mengesankan di turnamen kedua di Malaysia Open Superseries 2013. Setelah mencatat dua kemenangan di babak kualifikasi, mereka mengalahkan Kona Tarun/Ashwini Ponnapa (India), 22-20, 21-17 di babak 32 besar. Kemudian membalas kekalahan dari Muhammad Rijal/Debby Susanto dengan 28-26, 20-22 dan 21-17 di babak 16 besar. Kemudian di babak perempat final mengalahkan Zhang Nan/Tang Jin Hua (Tiongkok), 21-12, 21-19. Praveen/Vita baru terhenti di babak semifinal dari pasangan berpengalaman lainnya Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersan (Denmark), 14-21, 17-21.

Gelar juara untuk pertama kali diperoleh dari New Zealand Open Grand Prix 2013 atau di turnamen ke-5 sejak mereka berpasangan. Praveen/Vita menaiki podium tertinggi setelah mengalahkan Riky Widianto/Richi Puspita Dili, 21-18, 21-8.

Praveen/Vita kembali menjadi juara di turnamen berikutnya, Malaysia Open Grand Prix Gold 2013. Di semifinal, mereka menundukan pasangan kuat tuan rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 21-17, 21-12. Gelar juara dapat dipastikan setelah menghempaskan pasangan tuan rumah lainnya Tan Aik Quan/Lai Pei Jing, 20-22, 21-13, 21-17. Praveen/Vita juga menembus semifinal Singapore Open 2013, namun dihentikan pasangan terkuat Indonesia saat itu Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, 11-21, 21-16, 18-21.

Disela-sela kiprahnya di ganda campuran, Praveen sempat meraih gelar ganda putra di Indonesia International Challenge. Praveen yang kembali berduet dengan Didit Juang berhasil menaklukan Agripinna Prima Rahmanto Putra/Hardianto, 17-21, 21-16, 23-21 di babak final.

Praveen yang kembali berpasangan dengan Vita, berhasil membalas kekalahannya dari Tontowi/Lilyana. Mereka mengalahkan pasangan nomor satu Indonesia tersebut di babak final Indonesia Open Grand Prix Gold 2013. Mereka menang dengan 20-22, 9-21, 21-14 sekaligus memastikan gelar juara.

Berpasangan Dengan Debby Susanto

Prestasi Praveen yang cemerlang bersama Vita menarik perhatian pelatih ganda campuran Pelatnas, Richard Mainaky. Praveen diminta untuk bergabung ke Pelatnas awal tahun 2014. Ia diduetkan dengan Debby Susanto yang sebelumnya merupakan pasangan Muhammad Rijal. Sedang M. Rijal sendiri dipulangkan ke klub dan sempat kembali berpasangan dengan Vita Marissa.

Debut Praveen/Debby dimulai dari Malaysia Open Superseries 2014. Dua lawan pertama yang ditaklukan adalah pasangan tuan rumah Tak Aik Quan/Lai Pei Jing, 21-14, 21-13 dan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-17 dan 24-22. Namun langkahnya dihentikan pasangan Denmark Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersen, 12-21, 19-21 di babak perempat final.

Final pertama Praveen/Debby diraih pada turnamen kelima mereka di Malaysia Open Grand Prix Gold 2014. Namun gelar juara masih belum berhasil diperoleh karena kalah dari Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok), 14-21, 13-21.

Kejutan berhasil dibuat Praveen/Debby dengan meraih medali perunggu Asian Games 2014 di Incheon, Korea. Mereka berhasil melaju ke babak empat besar setelah mengalahkan andalan tuan rumah Ko Sung Hyung/Kim Ha Na, 21-9, 9-21 dan 21-15. Namun ambisi untuk mendaki partai puncak, dihentikan Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok), 19-21, 17-21.

Gelar juara pertama Praveen/Debby dicetak pada SEA Games 2015. Mereka memastikan medali emas setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-13 dan 25-23. Pasangan ini mulai merangkak menjadi pasangan elit dunia. Mereka meraih empat kali runner up dan tiga kali semifinalis. Runner up diperoleh dari turnamen Malaysia Masters GPG, Thailand Open GPG, French Open Superseries dan Indonesia Masters GPG. Sedangkan posisi sebagai semifinalis diperoleh dari All England Superseries Premier, India Open Superseries dan BWF World Superseries Finals 2015.

Prestasi Praveen/Debby makin meningkat. Mareka memenangkan turnamen Syed Modi India Grand Prix Gold 2015. Di final, mereka mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), 23-25, 21-9, 21-16.

Prestasi besar dibuat Praveen/Debby dengan menjuarai turnamen bulutangkis tertua di dunia, All England 2016. Di semifinal, mereka mengalahkan pasangan nomor satu dunia Zhang Nan/Zhao Yunlei, 21-19 dan 21-16. Kemudian di babak final menghempaskan pasangan Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersen, 21-12 dan 21-17.

Praveen/Debby kembali menembus babak final Hong Kong Open Superseries 2016, namun kali ini kalah dari seniornya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, 19-21, 17-21.

Memasuki rangkaian turnamen tahun 2017, Praveen/Debby langsung tersingkir di babak pertama All England dari Yuta Watanbe/Arisa Higashino, 17-21, 21-19 dan 12-21. Sepekan setelah gagal mempertahankan gelar di All England, Praveen/Debby langsung menembus babak final Swiss Open Grand Prix Gold 2016 setelah di babak semifinal mengalahkan Zhang Nan/Li Yin Hui, 17-21 21-19, 21-16. Namun kalah dalam perebutan gelar juara dari Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, 18-21, 15-21.

Mereka kembali menembus babak akhir Australian Open Superseries 2017. Mereka harus puas sebagai runner up karena takluk dari Zheng Si Wei/Chen Qing Chen, 21-18, 14-21, 17-21. Pasangan Tiongkok ini juga yang mengalahkan Praveen/Debby di perempat final Kejuaraan Dunia.

Gelar juara di tahun 2017 ini akhir diperoleh di Korea Open Superseries. Mereka mengalahkan Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping di babak final dengan, 21-17, 21-18. Namun sepekan kemudian Praveen/Debby kalah dari pasangan Tiongkok tersebut di babak semifinal Japan Open Superseries.

Berpasangan Dengan Melati

Tim pelatih Pelatnas ganda campuran merombak pasangan pemain ganda campuran di awal tahun 2018. Praveen tidak lagi dipasangkan dengan Debby yang sudah mendekati masa pensiun. Ia mendapat pasangan baru Melati Daeva Oktavianti, sementara Debby dicoba berduet dengan Ricky Karandasuwardi. Sebenarnya Praveen/Melati pernah berpasangan sebelumnya di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dan berhasil meraih medali emas. Namun pasangan dadakan ini hanya untuk ajang PON tersebut.

Debut pasangan Praveen/Melati terjadi di BWF World Tour Super 500-Malaysia Masters 2018. Pertandingan pertama, Praveen/Melati sukses menundukan Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), 25-23, 21-16. Namun mereka terhenti di babak kedua setelah kalah dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 16-21, 12-21.

Di turnamen kedua, Praveen/Melati meraih prestasi yang cukup baik. Mereka menggapai babak semifinal Indonesia Masters 2019 yang levelnya meningkat menjadi BWF World Tour Super 500 atau setara superseries. Lalu, menembus babak final di turnamen ketiga di BWF World Tour Super 500-India Open 2019. Sayang, gelar juara belum bisa diraih. Mereka kalah dari Mathias Christiansen/Christinna Pedersen, 14-21, 15-21.

Tetapi setelahnya, Praveen/Melati gagal ke babak 4 besar dalam 15 turnamen berturut-turut. Mereka baru mencicipi babak semifinal kembali di BWF World Tour Super 300 – Korea Masters yang berlangsung pada penghujung tahun 2018.

Praveen membawa Melati mencicipi babak empat besar turnamen bergengsi All England 2019. Namun mereka belum mampu melangkah lebih jauh setelah ditundukan Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 21-13, 20-22, 13-21. Setelahnya, dari beberapa turnamen yang diikuti, Praveen/Melati menembus babak final di empat turnamen yakni India Open (super 500), New Zealand Open (super 300), Australian Open (super 300) dan Japan Open (super 750). Di India, Australia dan Jepang, mereka kalah dari lawan yang sama, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (Tiongkok). Sedangkan di Australia, kalah dari Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia).

Seolah tak mau dijuluki sebagai spesialis runner up, Praveen/Melati berhasil menaiki poium tertinggi. Momen kebangkitan Praveen/Melati berhasil diraih dalam dua pekan tur Eropa di bulan Oktober 2019. Dimulai dari Denmark Open (super 750), Praveen/Melati mengalahkan pasangan peringkat satu dunia, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 18-21, 21-16 dan 22-20 di babak perempat final. Lalu menang mudah atas Wang Chi Lin/Cheng Chi Ya (Chinese Taipei), 21-12 dan 21-12 di semifinal. Gelar juara dipastikan setelah mengandaskan musuh bebuyutanya Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping di babak final dengan skor 21-18, 18-21 dan 21-19.

Pekan berikutnya, Praveen/Melati kembali tampil gemilang. Setelah melewati dua babak awal French Open (super 750), mereka mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), 21-14, 21-7. Lalu, mengalahkan pasangan suami-istri Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris), 21-19, 21-12. Di babak final, Praveen/Melati kembali bertemu Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan berhasil menang dengan, 22-24, 21-16 dan 21-12. Dan mereka meraih dua gelar berturut-turut sekaligus mengalah pasangan peringkat 1 dunia dua kali dalam dua pekan. Keberhasilan ini membuat nama Praveen/Melati masuk dalam nominasi “Most improved players of the Year 2019”, walaupun akhirnya tidak terpilih sebagai pemenang.

Praveen/Melati berhasil meraih medali emas di ajang SEA Games ke-30 yang berlangsung di Manila, Philipina. Mereka berhasil mengubur impian pasangan Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai di pertandingan pamungkas dengan skor, 21-19, 19-21 dan 23-21. Peningkatan prestasi Praveen/Melati ini membuat awan cerah ganda campuran Indonesia yang ditinggal pensiun oleh dua bintangnya Liliyana Natsir dan Debby Susanto di awal tahun 2019.

Praveen mencatatkan dirinya sebagai pemain ganda campuran pertama yang meraih gelar juara All England dengan dua pasangan yang berbeda. Setelah juara tahun 2016 dengan Debby Susanto, Praveen kembali menjadi juara di All England 2020 berpasangan dengan Melati. Praveen/Melati menaiki podium tertinggi setelah mengalahkan pasangan Dechapol Puavaranukroh/ Sapsiree Taerattanachai dari Thailand, 21-15, 17-21 dan 21-8.

Setelah vakum turnamen Internasional selama hampir satu tahun, Praveen/Melati Kembali terjun ke arena pertandingan pada bulan Januari 2021. Di turnamen Yonex Thailand Open 2021, Praveen/Melati harus puas menjadi runner up. Kali ini, mereka harus mengakui keunggulan Dechapol/Sapsiree, 3-21, 22-20 dan 18-21.

1579164045_capture

Profil

Nama                                    : Praveen Jordan

Tanggal Lahir                      : 26 April 1993

Tempat Lahir                      : Bontang, Kalimantan Timur

Jenis Kelamin                     : Laki laki

Nama Ayah                         : Setiyo Lesmono

Nama Ibu                            : Herlince Sinambela

Pegangan Raket                : Kanan

 

Prestasi

Medali emas SEA Games 2015 (/Debby Susanto)

Medali emas SEA Games 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

Medali Perunggu Asian Games 2014 (Debby Susanto)

Juara All England Superseries Premier 2016 (/Debby Susanto)

Juara BWF World Tour Super 1000 – All England 2020 (/Melati Daeva Oktavianti)

Juara BWF World Tour Super 750  Denmark Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

Juara BWF World Tour Super 750 French Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

Juara Korea Open Superseries 2017 (/Debby Susanto)

Juara India Grand Prix Gold 2016 (/Debby Susanto)

Juara New Zealand Open GP2013 (/Vita Marissa)

Juara Malaysia Open GPG2013 (/Vita Marissa)

Juara Indonesia Open GPG2013 (/Vita Marissa)

Juara ganda putra Indonesia International Challenge 2013 (/Didit Juang Indrianto)

Runner up Malaysia Open GPG 2014 (/ Debby Susanto)

Runner up Malaysia Master GPG 2015 (/ Debby Susanto)

Runner up Thailand Open GPG 2015 (/ Debby Susanto)

Runner up French Open SS 2015 (/ Debby Susanto)

Runner up Indonesia Masters GPG 2015 (/ Debby Susanto)

Runner up Hong Kong Open 2016 (/ Debby Susanto)

Runner up Swiss Open GPG 2017 (/ Debby Susanto)

Runner up Australia Open SS 2017 (/ Debby Susanto)

Runner up BWF World Tour Super 500 – India Open 2018 (/Melati Daeva Oktavianti)

Runner up BWF World Tour Super 500 – India Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

Runner up BWF World Tour Super 300 – New Zealand Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

Runner up BWF World Tour Super 300 – Australian Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

Runner up BWF World Tour Super 750 – Japan Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)

 

Leave a Reply