Legenda bulutangkis Indonesia Candra Wijaya, menggelar turnamen bulutangkis untuk ketujuh kali-nya dengan tajuk Yonex-Sunrise Double Special Championships 2015. Berbeda dengan enam turnamen sebelumnya yang mempertandingkan khusus ganda putra, di tahun ketujuh ini merambah juga ke nomor ganda putri dan ganda campuran. Turnamen iniakan berlangsung di GOR Asia Afrika, Jakarta tanggal 29 Juli sampai 1 Agustus 2015.
Perbedaan bukan hanya disisi jumlah nomor yang dipertandingan, melainkan juga Candra melakukan terobosan baru untuk sebuah turnamen. Dimana, peserta kelompok remaja dan taruna yang lolos ke babak 8 besar diwajibkan tes forensik untuk mencegah pencurian umur.
“Bulutangkis sebagai salah satu cabang olahraga yang menjunjung tinggi sportifitas dan kejujuran. Itulah perlu dilakukan tes forensik untuk perkiraan usia biologis. Selain itu, para pembina akan mendapatkan bibit-bibit yang baik sesuai kelompok usianya,” tutur Candra Wijaya.
Pemeriksaan ilmiah forensik akan dilakukan oleh tim kodekteran forensik yang dipimpin oleh Dr. Djaja Surya Atmadja, SpF, PhD, SH, DFM. Ia merupakan staf pengajar kedokteran Forensik pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pemeriksaan ini didukung pula tim kedokteran Gigi Forensik yang dipimpin salah satu dokter terbaik Indonesia Drg, Alphons R Quendangen, DFM. Ia adalah staf pengajar Kedokteran Gigi Forensik pada Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.
Pemeriksaan yang akan dilakukan meliputi pemeriksaan usia biologis melalui analisa radiologis terhadap gigi (foto panoramik dan foto dental) dan tulang (foto telapak tangan, tulang hasta dan pengumpil, tulang telapak kaki, tulang kering dan tulang betis). Hasil analisa akan menunjukkan range usia paling mendekati Usia 17 dan 19 tahun.
Dengan pemeriksaan forensik ini diharapkan bibit-bibit atlet bulutangkis dapat dinilai kemampuannya sesuai level usianya.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.