<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Bulutangkis &#187; &#187; Sosok</title>
	<atom:link href="http://jurnalbulutangkis.com/home/?cat=5&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalbulutangkis.com/home</link>
	<description>Rumah Bersama Bulutangkis Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 03:59:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.1.41</generator>
	<item>
		<title>Mengenal Sosok Alan Budi Kusuma</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3819</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3819#respond</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2021 00:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3819</guid>
		<description><![CDATA[Alan Budi Kusuma mempunyai nama lengkap Alexander Alan Budi Kusuma Wiratama lahir di Surabaya, 29 Maret 1968. Pebulutangkis yang mempunyai nama Thionghoa, Goei Ren Feng. Ia anak dari pasangan Arya Wiratama (Goei Hauw Tjing) dan The Lie Giok. Alan mengenal bulutangkis dari kedua orang tuanya yang juga merupakan atlet bulutangkis. Di usia delapan tahun, orang [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/af3420ec33128629a47a32b2c9bbfd3d.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3820" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/af3420ec33128629a47a32b2c9bbfd3d-300x200.jpg" alt="af3420ec33128629a47a32b2c9bbfd3d" width="300" height="200" /></a>Alan Budi Kusuma mempunyai nama lengkap Alexander Alan Budi Kusuma Wiratama lahir di Surabaya, 29 Maret 1968. Pebulutangkis yang mempunyai nama Thionghoa, Goei Ren Feng. Ia anak dari pasangan Arya Wiratama (Goei Hauw Tjing) dan The Lie Giok.</p>
<p>Alan mengenal bulutangkis dari kedua orang tuanya yang juga merupakan atlet bulutangkis. Di usia delapan tahun, orang tua-nya memasukkan Alan ke klub bulutangkis Rajawali, Surabaya. Empat tahun kemudian, Alan masuk klub Suryanaga Surabaya. Di usia 15 tahun, Alan diterima klub Djarum Kudus melalui penjaringan atlet berprestasi. Berbagai prestasi dibuatnya diantaranya menjuarai kejuaraan yunior Internasional Bimantara Jakarta Terbuka 1985. Di babak final kejuaraan tersebut Alan mengungguli rekan se-klubnya, Ardi Wiranata.</p>
<p>Prestasi mengkilap di kelompok yunior mengantarkan Alan menjadi bagian dari pemain Pelatnas. Alan berhasil lolos berkat menjuarai seleksi junior nasional tahun 1986. Ia semakin menancapkan diri sebagai pemain terbaik Indonesia setelah meraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 1989. Alan yang mewakili provinsi Jawa Timur berhasil mengungguli salah satu Juara Dunia yang dimiliki Indonesia, Icuk Sugiarto di babak final.</p>
<p>Alan juga mulai menapaki prestasinya di turnamen-turnamen Internasional. Kemunculan prestasi Alan di perbulutangkisan Internasional menjadi tonggak kebangkitan bulutangkis Indonesia yang menurun di era 80-an. Alan berhasil meraih gelar juara di Belanda dan Thailand Terbuka tahun 1989. Setelah kosong gelar juara tahun berikutnya, Alan kembali menjuarai Thailand Terbuka yang disusul China Terbuka tahun 1991. Kemudian gelar juara Jerman Terbuka berhasil digenggamnya ditahun 1992. Ditahun ini pula, Alan bersama Ardy Wiranata dan Hermawan Susanto berhasil lolos ke Olimpiade Barcelona mewakili Indonesia dinomor tunggal putra.</p>
<p>Kesempatan ini tidak disia-siakan Alan untuk menjadi atlet pertama Indonesia merebut medali emas Olimpiade. Pada partai puncak, Alan berhasil mengalahkan rekannya yang lebih diunggulkan Ardi Wiranata dengan 15-2, 18-13. Sebelumnya di semifinal, Alan mengalahkan pemain Denmark, Thomas Stuer Lauridsen 18-14, 15-8 serta di perempat final menumbangkan andalan Korea, Kim Hak Kyun 15-9, 15-4. Kemenangan Alan terasa semakin manis ketika sehari kemudian sang kekasih, Susy Susanti berhasil meraih medali emas tunggal putri. Pasangan emas ini menikah lima tahun kemudian.</p>
<p>Keperkasaan Alan masih ditunjukkan dengan menjadi juara Indonesia terbuka, Piala Dunia dan Kejuaraan Nasional 1993. Diajang Indonesia Terbuka, Alan memenangkan partai final atas rekannya Joko Suprianto. Setelah itu Alan mulai mengalami penurunan prestasi, yang membuatnya tidak terpilih di dalam tim inti Piala Thomas tahun 1994. Namun, Alan juga sempat mengecap kemenangan di Malaysia Terbuka 1995.</p>
<p>Sebelum memutuskan gantung raket, Alan sempat mendapatkan kenangan terindah dimana ia mengantarkan Indonesia menjuarai Piala Thomas 1996. Sebagai tunggal ketiga, ia selalu diturunkan dan menyumbangkan poin buat Indonesia. Atas jasa-jasa nya mengangkat prestasi bulutangkis Indonesia tersebut, pemerintah menyematkan penghargaan Bintang Jasa Utama.</p>
<p>Alan Budi Kusuma mewujudkan pernikahannya dengan pebulutangkis putri terbaik Indonesia, Susy Susanti pada tanggal 9 Februari 1997. Pasangan ini telah dikaruniahi  Lourencia Averina (lahir 1999), Albertus Edward (lahir 2000), dan Sebastianus Frederick (lahir 2003). Selepas gantung raket, Alan menekuni profesi sebagai pengusaha peralatan bulutangkis. Bersama sang istri, Alan meluncurkan brand Astec (Alan Susi Technology). Sumbangsih Alan untuk dunia bulutangkis tidak berhenti walaupun sudah tidak ikut bertanding. Perhatian Alan diwujudkan dengan menggelar turnamen bulutangkis Astec Open yang sudah mulai dipertandingkan sejak tahun 2004. Kecintaan Alan kepada bulutangkis tidak akan pernah pudar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Profil </strong></p>
<p>Nama                                                    : Alan Budi Kusuma</p>
<p>Tempat &amp; Tanggal lahir                  : Surabaya, 29 Maret 1968</p>
<p>Pegangan raket                                 : Kanan</p>
<p>Nama ayah                                         : Arya Wiratama (Goei Hauw Tjing)</p>
<p>Nama Ibu                                            : The Lie Giok</p>
<p>Nama istri                                            : Susy Susanti</p>
<p>Nama anak                                         : Lourencia Averina, Albertus Edward, Sebastianus Frederick</p>
<p>Penghargaan                                     : Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prestasi</p>
<p>Medali emas Olimpiade tahun 1992 di Barcelona</p>
<p>Juara Piala Thomas tahun 1996</p>
<p>Juara Indonesia Terbuka tahun 1993</p>
<p>Juara Junior International Jakarta Terbuka 1995</p>
<p>Juara Belanda Terbuka 1989</p>
<p>Juara Thailand Terbuka 1989 &amp; 1991</p>
<p>Juara China Terbuka 1991, 1994</p>
<p>Juara Jerman Terbuka 1992</p>
<p>Juara World Cup 1993</p>
<p>Juara Malaysia Terbuka 1995</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3819</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Susy Susanti</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3816</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3816#respond</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2021 00:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3816</guid>
		<description><![CDATA[Susy Susanti merupakan pemain putri terhebat Indonesia sepanjang masa sampai saat ini. Semua gelar bergengsi dicapainya seperti medali emas Olimpiade, juara dunia dan juara All England. Hanya medali emas Asian Games yang luput dari gengamannya. Susy Susanti merupakan anak dari pasangan Risad Hartono dan Purwo Benowati, kelahiran Tasikmalaya tanggal 11 Februari 1971. Ia memulai karirnya [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/78f9deee1a2635805c00abf97c1534d9.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3817" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/78f9deee1a2635805c00abf97c1534d9-300x166.jpg" alt="78f9deee1a2635805c00abf97c1534d9" width="300" height="166" /></a>Susy Susanti merupakan pemain putri terhebat Indonesia sepanjang masa sampai saat ini. Semua gelar bergengsi dicapainya seperti medali emas Olimpiade, juara dunia dan juara All England. Hanya medali emas Asian Games yang luput dari gengamannya.</p>
<p>Susy Susanti merupakan anak dari pasangan Risad Hartono dan Purwo Benowati, kelahiran Tasikmalaya tanggal 11 Februari 1971.</p>
<p>Ia memulai karirnya di klub milik pamannya, PB Tunas Tasikmalaya. Dengan dukungan penuh kedua orang tua, Susy menekuni latihan semenjak masih duduk di sekolah dasar(SD).  Bakat yang dimiliki Susi membuatnya menjadi langganan juara di turnamen-turnamen level yunior sampai akhirnya ia pindah ke Jakarta tahun 1985.</p>
<p>Di Jakarta, Susi bersekolah di sekolah khusus atlet Ragunan. Disinilah ia ditempa dengan disiplin yang ketat. Latihan di mulai pukul 07.00 sampai 11.000 dilanjutkan pukul 15.00-19.00 dan hanya libur di hari minggu.</p>
<p>Kedisiplinan dan kegigihan Susi mulai membuahkan hasil. Tahun 1983, ia menjuarai nomor ganda putri Jakarta Terbuka U-15 berpasangan dengan Ladawan. M dari Thailand. Tahun 1986 ia memenangkan dua gelar juara sekaligus di kelompok taruna Jakarta Terbuka yakni tunggal putri dan ganda putri berpasangan dengan Lilik Sudarwati. Sedangkan di ganda campuran, ia berpasangan Nunung Wibianto kalah dari Ardy Wiranata yang berpasangan dengan pemain China, Tan Jiuhong. Tan Jiuhong sendiri merupakan lawan yang dikalahkan Susy di final tunggal putri.</p>
<p>Prestasi Susy kian dikenal kala memborong tiga gelar juara sekaligus di arena Invitasi Dunia Yunior di Jakarta tahun 1987. Di tunggal putri, ia menundukkan Lee Jung Mi (Korea) di final. Lalu di ganda putri bersama Lilik Sudarwati mengalahkan Li Jung Mi/Gil Young Ah. Sementara di ganda campuran bersama Ardi Wiranata, berhasil mengalahkan rekannya sendiri Ricky Subagja/Lilik Sudarwati. Tahun berikutnya, Susi kembali menjuarai nomor tunggal setelah mengalahkan Huang Yin (China) di final. Ia mendapat gelar tambahan dari ganda putri bersama Lilik yang mengalahkan Bang Soo Hyun/Shoon Hye Joo (Korea)</p>
<p>Di usia masih muda, Susi mulai menapaki persaingan kelas dunia. Tahun 1989, ia menjuarai invitasi Piala Dunia dan Indonesia Terbuka.  Di babak final Indonesia Terbuka, Susy menaklukkan andalan China Huang Hua. Susy juga meraih medali emas diajang pesta olahraga Asia Tenggara, SEA Games yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.</p>
<p>Tahun 1990, Susy mencatatkan diri sebagai juara turnamen bergengsi All England setelah mengalahkan Huang Hua (China) di babak final. Gelar lainnya yang ia raih tahun 1990 ini adalah juara Australia Terbuka dan Grand Prix Final. Namun sayang, Susy tergejal di semifinal Asian Games di Beijing, China. Ia kalah dari pemain tuan rumah Zhou Lei dan harus puas dengan medali perunggu.</p>
<p>Tahun 1991, Susy mempertahankan gelar juara All England. Ia berhasil memenangkan partai “all Indonesia final” atas Sarwendah Kusumawardhani. Susy juga meraih kembali gelar juara Indonesia Terbuka yang lepas dari tangannya tahun 1990. Di babak final, Susy mengalahkan pebulutangkis Korea, Lee Heung Soon. Tahun ini menjadi menjadi tahun panen gelar bagi Susy. Selain All England dan Indonesia Terbuka, ia juara Chinese Taipei Terbuka, Denmark Terbuka, Swedia Terbuka, Thailand Terbuka dan turnamen penutup tahun, Grand Prix Final. Namun Susy masih terhalang untuk meraih juara dunia. Ia kalah di semifinal dari Tan Jiuhong (China) pada Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark.</p>
<p>Olimpiade Barcelona 1992 merupakan kenangan terindah dalam perjalanan karir Susi. Ia bersama Alan Budi Kusuma yang kemudian menjadi suami-nya, mencatatkan sebagai dua orang pertama Indonesia meraih medali emas Olimpiade. Di pertandingan final Susy berhasil mengalahkan Bang Soo Hyun dari Korea dengan rubber game 5-11, 11-5 dan 11-3. Gelar lainnya yang diraih Susy tahun 1992, yakni Jepang Terbuka, Denmark Terbuka, Jerman Terbuka, Denmark Terbuka, Thailand Terbuka dan Grand Prix Final.</p>
<p>Rasa penasaran Susy kepada atas gelar juara dunia, akhirnya terpuaskan pada Kejuaraan Dunia tahun 1993 yang berlangsung di Birmingham, Inggris. Di babak final, ia kembali mengalahkan musuh bebuyutannya Bang So Hyun di babak final. Lawan yang sama juga ditundukkan Susy saat meraih kembali gelar juara All England. Susy juga menjuarai Jerman Terbuka, Belanda Terbuka, Malaysia Terbuka, Thailand Terbuka, Invitasi Piala Dunia dan Grand Prix Final.</p>
<p>Panen gelar terus dicapai Susy. Ia menjuarai All England 1994, Jepang Terbuka 1994 dan Malaysia Terbuka 1994 dengan mengalahkan lawan yang sama di babak final, yakni Ye Zhaoying (China). Susy memenangkan turnamen Indonesia Terbuka 1994 dengan mengalahkan Bang So Hyun di babak final. Lalu ia juga menjuarai Thailand Terbuka, Chinese Terbuka, Invitasi Piala Dunia dan Grand Prix Final. Namun Susy kembali kurang beruntung di Asian Games. Ia hanya meraih perunggu setelah kalah dari Hisako Mizui (Jepang) di babak semifinal Asian Games yang berlangsung di Hiroshima, Jepang.</p>
<p>Perseteruan Susy dan Bang So Hyun mewarnai perjalan Susy meraih gelar juara tahun 1995. Empat gelar juara diraih dengan mengalahkan seterunya tersebut di babak final yakni, di Jepang Terbuka, Korea Terbuka, Malaysia Terbuka dan Indonesia Terbuka. Tetapi Bang membalasnya di semifinal China Terbuka.</p>
<p>Tahun 1996, Susy kembali tampil di arena Olimpiade yang berlangsung di Atlanta, Amerika Serikat. Kali ini, ia harus mengakui keunggulan Bang So Hyun di babak semifinal dan harus puas dengan medali perunggu. Bang sendiri akhirnya meraih medali emas setelah mengalahkan pemain Indonesia lainnya Mia Audina. Gelar yang diraih Suys di tahun 1996 ini, yakni Chinese Taipei Terbuka, Indonesia Terbuka , Invitasi Piala Dunia dan Grand Prix Final.</p>
<p>Susy melengkapkan gelar Indonesia Tebuka keenam kalinya. Ia menjuarai Indonesia Terbuka 1997 setelah mengalahkan Ye Zhaoying di babak final. Dengan kemenangan ini, Susy menjadi pemain tunggal putri dengan terbanyak gelar diajang Indonesia Terbuka (1989, 1991, 1994, 1995, 1996, 1997). Susy juga mencetak rekor peraih gelar terbanyak di ajang Grand Prix Final yakni sebanyak 6 kali (1990, 1991, 1992, 1993, 1994, 1996). Di kedua turnamen, Susy lebih baik dari pemain China Li Lingwei dengan 4 kali juara. Demikian pula diajang Invitasi Piala Dunia, Susy mencetak rekor terbanyak dengan lima kali juara (1989, 1993, 1994, 1996 dan 1997). Ia juga mengungguli Li Lingwei yang neraih empat kali juara.</p>
<p>Keperkasaan Susy semakin sempurna dengan keberhasilannya diajang beregu. Ia bersama rekan-rekannya merebut Piala Sudirman tahun 1989. Difinal Piala Sudirman 1989, ia menyelamatkan Indonesia dari kekalahan dibabak final, dimana Indonesia sempat tertinggal 0-2 dari Korea Selatan. Susy pun kalah di game pertama dari Lee Young Suk 10-12, serta tertinggal 7-10 di game kedua. Hanya 1 angka saja diperlukan bagi Korea untuk merebut Piala Sudirman. Sungguh dramatis, Susy mengejar ketinggalan menjadi 10-10, lalu menang 12-10. Di game ketiga, Susy tidak memberikan angka kepada lawannya dan skor pertandingan final menjadi 1-2. Indonesia membalikkan keadaan menjadi 3-2, setelah dua partai berikutnya berhasil dimenangkan pemain tunggal putra Eddy Kurniawan dan ganda campuran Eddy Hartono/Verawaty Fajrin.</p>
<p>Susy juga punya andil besar memimpin rekan-rekannya di perebutan Piala Uber. Dua kali berturut-turut yakni tahun 1994 dan 1996, piala beregu putri dunia tersebut bersemayam di tanah air.</p>
<p>Atas jasa-jasa nya mengangkat prestasi bulutangkis Indonesia tersebut, pemerintah menyematkan penghargaan Bintang Jasa Utama tahun 1992. Ia juga meraih penghargaan Herbert Scheele Trophy, 2002 dan Hall of Fame dari International Badminton Federation (IBF), Mei 2004.</p>
<p>Susy Susanti akhirnya dipersunting oleh pasangan emasnya Alan Budi Kusuma pada tanggal 9 Februari 1997. Pasangan ini telah dikaruniahi  Lourencia Averina (lahir 1999), Albertus Edward (lahir 2000), dan Sebastianus Frederick (lahir 2003). Selepas gantung raket,  Susymenekuni profesi sebagai pengusaha peralatan bulutangkis. Bersama sang suami, Susi meluncurkan brand Astec (Alan Susy Technology). Sumbangsih Susy dan Alan untuk dunia bulutangkis tidak berhenti walaupun sudah tidak ikut bertanding. Perhatian mereka diwujudkan dengan menggelar turnamen bulutangkis Astec Open yang sudah mulai dipertandingkan sejak tahun 2004.</p>
<p>Selain berbisnis, Susy juga sempat dipercaya sebagai manajer tim Piala Uber Indonesia tahun 2008. Ia berhasil membawa Maria Kristin dan kawan-kawan menduduki posisi runner up. Tahun 2012, Susiypun mulai berkiprah di kepengurusan PBSI yang dipimpin ketua umum Gita Wirjawan. Ia dipercaya menduduki jabatan staff ahli bidang pembinaan dan prestasi. Ketika kepengurusan berganti dibawah ketua umum Wiranto tahun 2016, Susy diberi kepercayaan sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi. Sebuah jabatan yang bertanggungjawab atas prestasi bulutangkis Indonesia.</p>
<p>Kisah prestasi Susy menginspirasi banyak pebulutangkis generasi setelahnya. Tak heran, kisah hidupnya diceritakan dalam semua film yang berjudul “Susi Susanti : Love All”. Artis Laura Basuki yang memerankan Susy, berhasil meraih Piala Citra sebagai pemeran utama wanita terbaik dalam Festival Film Indonesia 2020.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Profil </strong></p>
<p>Nama                                                    : Susy Susanti</p>
<p>Tempat Lahir                                      : Tasikmalaya</p>
<p>Tanggal Lahir                                      : 11 Februari 1971</p>
<p>Pegangan Raket                                : Kanan</p>
<p>Nama Bapak                                       : Risad Haditono</p>
<p>Nama Ibu                                            : Purwo Benowati</p>
<p>Nama Suami                                       : Alan Budi Kusuma</p>
<p>Nama Anak                                         : Lourencia Averina, Albertus Edward, Sebastianus Frederick</p>
<p>Penghargaan                                     : Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali emas Olimpiade 1992</p>
<p>Juara Dunia 1993</p>
<p>Juara Invitasi Piala Dunia 1989, 1993, 1994, 1996, 1997</p>
<p>Juara All England 1990, 1991, 1993, 1994</p>
<p>Juara Grand Prix Final 1990, 1991, 1992, 1993, 1994, 1996</p>
<p>Juara Indonesia Terbuka 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, 1997</p>
<p>Juara Malaysia Terbuka 1993, 1994, 1995, 1997</p>
<p>Juara Jepang Terbuka 1992, 1994, 1995</p>
<p>Juara Thailand Terbuka 1991, 1993, 1994</p>
<p>Juara ChineseTaipei Terbuka 1991, 1996</p>
<p>Juara Denmark Terbuka 1991, 1992</p>
<p>Juara Jerman Terbuka 1992, 1993</p>
<p>Juara Swedia Terbuka 1991</p>
<p>Juara Thailand Terbuka 1992</p>
<p>Juara Belanda Terbuka 1993</p>
<p>Juara Korea Terbuka 1995</p>
<p>Medali emas SEA Games 1989, 1991, 1995</p>
<p>Medali Perunggu Asian Games 1990, 1994</p>
<p>Juara Invitasi Dunia Yunior 1987, tunggal putri, ganda putri (/Lilik Sudarwati) &amp; ganda campuran (/Ardy Wiranata)</p>
<p>Juara Invitasi Dunia Yunior 1988, tunggal putri &amp; ganda putri (/Lilik Sudarwati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3816</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Taufik Hidayat</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3809</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3809#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2021 23:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3809</guid>
		<description><![CDATA[Taufik Hidayat merupakan nama yang fenomenal dalam perbulutangkisan Indonesia. Atlet yang mempunyai talenta tinggi ini, mampu menjadi daya tarik penonton setiap kali ia bertanding. Salah satu teknik yang dimiliki, yaitu smash backhand disebut-sebut sebagai yang terbaik di dunia. Taufik lahir di Bandung tanggal 10 Agustus 1981. Perkenalan awal Taufik dengan bulutangkis, bermula dari keinginan orang [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/41237948c84d53e01b7e5ece30cf673b.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3810" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/41237948c84d53e01b7e5ece30cf673b-300x192.jpeg" alt="41237948c84d53e01b7e5ece30cf673b" width="300" height="192" /></a>Taufik Hidayat merupakan nama yang fenomenal dalam perbulutangkisan Indonesia. Atlet yang mempunyai talenta tinggi ini, mampu menjadi daya tarik penonton setiap kali ia bertanding. Salah satu teknik yang dimiliki, yaitu smash backhand disebut-sebut sebagai yang terbaik di dunia.</p>
<p>Taufik lahir di Bandung tanggal 10 Agustus 1981. Perkenalan awal Taufik dengan bulutangkis, bermula dari keinginan orang tua agar perhatian Taufik kecil tidak tersedot kepada sepak bola sebagaimana anak-anak pada umumnya. Mulailah anak pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah ini menekuni olahraga tepok bulu ini di usia 7 tahun. Taufik merintis karir dengan masuk klub SGS (Sangkuriang Graha Sarana) Bandung. Di klub yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Bandung ini, Taufik ditempa oleh Lie Sumirat yang juga merupakan salah seorang pebulutangkis ternama di Indonesia. Ilmu dari Lie Sumirat berupa pukulan aneh yang menipu kelak menjadi salah satu andalan Taufik saat bertanding.</p>
<p>Taufik berlatih sepulang sekolah di SD Pengalengan dengan menempuh perjalan cukup jauh untuk mencapai GOR SGS. Bertahun-tahun ia menjalani rutinitas latihan sampai malam hari. Ketika menginjak bangku SMP, Taufik hidup mandiri dengan kos di Kota Bandung agar lebih dekat dengan tempat latihan. Tahun 1994, prestasi Taufik mulai menonjol dengan menjuarai Aqua Trophy di Solo dan dilanjut dengan gelar juara Aqua Master. Berbagai gelar juara ia raih membuatnya ditarik ke Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) di Cipayung, Jakarta pada tahun 1996 atau saat baru berusia 15 tahun. Kemampuan Taufik semakin terasah dibawah bimbingan pelatih Mulyo Handoyo.</p>
<p>Tahun 1997,  ia sudah meraih gelar juara Internasional dengan menjuarai Jerman Terbuka Yunior. Setahun kemudian Taufik meramaikan persaingan kelas dunia dengan menjuarai turnamen sekelas Grand Prix di Brunei Terbuka 1998. Bahkan di babak final, ia berhasil mengalahkan pebulutangkis andalan China, Dong Jiong.</p>
<p>Gelar demi gelar juara pun tidak tertahankan. Ia mulai meraih gelar juara Indonesia Terbuka untuk pertama kalinya tahun 1999, setelah mengalahkan rekannya Budi Santoso di babak akhir. Gelar ini, ia pertahankan setahun berikutnya. Di babak final Indonesia Terbuka 2000, Taufik menundukkan pemain Malaysia Ong Ewe Hock. Taufik menambah gelarnya di Malaysia terbuka dan Kejuaraan Asia 2000, dengan masing-masing kejuaraan ia mengalahkan Xia Xuanxe (China) dan Rony Agustinus (Indonesia) di babak akhir. Namun Taufik tidak beruntung di arena All England. Ia sudah mencapai babak final tetapi harus mengakui keunggulan Xia Xuanxe.</p>
<p>Di ajang beregu, ia memberikan sumbangsih saat Indonesia memboyong Piala Thomas tahun 2000 di Kuala Lumpur. Di debut pertama pada Piala Thomas tahun 2002, Taufik menjadi penentu kemenangan Indonesia atas China di final. Saat itu Indonesia sudah unggul 2-0 yang dihasilkan Hendrawan dan pasangan Rexy Mainaky/Tony Gunawan. Taufik pun menjadi pahlawan dengan mengalahkan Ji Xinpeng 15-9, 17-14 dan memastikan Piala Thomas kembali dalam genggaman pasukan merah putih.</p>
<p>Dua tahun berikutnya, Taufik kembali terpilih sebagai anggota tim Indonesia di Piala Thomas di Guangzhao, China. Namun ia gagal menyumbangkan poin dibabak final saat berhadapan dengan tim Malaysia. Faktor kekecewaan kepada wasit membuat konsentrasi Taufik terganggu dan kalah dari Lee Tsuen Seng 7-1, 5-7, 2-7, 7-2 dan 3-7. Namun Indonesia tetap unggul 3-2 atas pasukan negeri Jiran tersebut dan Indonesia mempertahankan Piala Thomas.</p>
<p>Tahun 2002 ini, Taufik meraih prestasi besar dengan merebut medali emas Asian Games yang berlangsung di Busan, Korea. Ia menumbangkan pemain Korea Lee Hyun Ill dibabak final dengan skor, 15-7 dan 15-9. Selain itu, Taufik menambah gelar juara Indonesia Terbuka untuk ketiga kalinya. Ia mengalahkan pemain China Chen Hong di babak pamungkas. Chen Hong pula yang dikalahkan Taufik dibabak final Indonesia Terbuka setahun kemudian dan perbendaharaan gelar juara yang diraih Taufik menjadi empat gelar juara.</p>
<p>Tahun 2004 nama Taufik Hidayat melambung ke kasta tertinggi perbulutangkisan. Ia meraih medali emas Olimpiade yang berlangsung di Athena, Yunani. Sebelum mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan berkibarnya bendera merah putih, Taufik mengalahkan wakil Korea Shon Seungmo, 15-8 dan 15-7. Di tahun ini pula Taufik meraih gelar juara Indonesia Terbuka untuk kelima kalinya. Ia kembali mengalahkan Chen Hong di babak final.</p>
<p>Meraih medali meas Olimpiade, tidak membuat Taufik cepat puas. Ia berhasil memburu gelar juara dunia. Taufik berhasil meraih juara pada Kejuaraan Dunia tahun 2005 yang berlangsung di Ahahem, Los Angeles, Amerika Serikat. Di babak final, ia menumbangkan pemain bintang asal China, Lin Dan, 15-3 dan 15-7.</p>
<p>Atas berbagai prestasi-nya tersebut, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan Bintang Jasa Utama yang disematkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 10 September 2005 bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional (Haornas).</p>
<p>Tonggak baru kehidupan Taufik terjadi 4 Februari 2006. Ia mempersunting Armi Diyanti Gumelar sebagai istri-nya. Ami merupakan putri bungsu pasangan yang dua-duanya pernah menjadi menteri yakni Agum dan Linda Gumelar. Dari pernikahannya, Taufik sudah dikaruniahi dua orang anak yakni Natarina Alika Hidayat dan Nayotama prawira Hidayat.</p>
<p>Tahun 2006 ini, Taufik berhasil menyamai rekor enam kali juara Indonesia Terbuka. Ia menyamai prestasi pendahulunya Ardy Wiranata. Taufik juara Indonesia Terbuka tahun 1999, 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2006. Di babak final Indonesia Terbuka 2006, Taufik mengalahkan Bao Chunlai dari China. Taufik juga berhasil mempertahankan medali emas Asian Games. Di babak final Asian Games 2006 yang berlangsung di Doha, Qatar, ia sukses mengalahkan Lin Dan dari China, 21-15, 22-20.</p>
<p>Setelahnya Taufik masih berkibar di level atas bulutangkis, walaupun gelar juara yang diraih, tidak sebanyak sebelumnya. Ia meraih juara di Kejuaraan Asia 2007 dan medali emas SEA Games 2007. Lalu, juara Makau Terbuka Grand Prix Gold 2008 dengan menundukkan pebulutangkis kebanggaan Malaysia Lee Chong Wei di babak final.</p>
<p>Awal tahun 2009, Taufik resmi mengundurkan diri dari Pelatnas. Ia meniti karirnya sebagai pemain profesional. Beberapa prestasi masih sempat dicatat olehnya di usia menjelang pensiun diantara juara Indonesia Grand Prix Gold 2010, Kanada Terbuka Grand Prix 2010, Perancis Terbuka Super Series 2010 dan India Terbuka Grand Prix Gold 2011. Bersamaan dengan penyelenggaraan Indonesia Terbuka Super Series Premier 2013, Taufik resmi mengundurkan diri dari kompetisi bulutangkis.</p>
<p>Sebagai baktinya untuk bulutangkis, Taufik membuat pusat pelatihan bulutangkis yang diberi nama Taufik Hidayat Arena (TH Arena). TH Arena ini diresmikan tanggal 10 Desember 2012 oleh Gubernur DKI Jakarta, Djoko Widodo.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/picb3d16dd22.jpg"><img class="aligncenter wp-image-3811 size-full" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/picb3d16dd22.jpg" alt="picb3d16dd22" width="630" height="429" /></a></p>
<p><strong>Profil :</strong></p>
<p>Nama                                                    :               Taufik Hidayat</p>
<p>Tempat Lahir                                      :               Bandung</p>
<p>Tanggal Lahir                                      :               10 Agustus 1981</p>
<p>Pegangan Raket                                :               Kanan</p>
<p>Nama Bapak                                       :               Aris Haris</p>
<p>Nama Ibu                                            :               Enok Dartilah</p>
<p>Nama Istri                                           :               Armi Diyanti Gumelar</p>
<p>Nama Anak                                         :               Natarina Alika Hidayat dan Nayotama prawira Hidayat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penghargaan                     </strong></p>
<ul>
<li>Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali Emas Olimpiade 2004</p>
<p>Medali Emas Asian Games 2002 &amp; 2006</p>
<p>Medali Emas SEA Games 1999 &amp; 2007</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2005</p>
<p>Juara Kejuaraan Asia 2000, 2004 &amp; 2007</p>
<p>Juara Indonesia Terbuka 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, 2006</p>
<p>Juara Indonesia Grand Prix Gold 2010</p>
<p>Juara Malaysia Terbuka 2000</p>
<p>Juara Brunei Terbuka 1998</p>
<p>Juara Singapura Terbuka 2001, 2005</p>
<p>Juara Taipei Terbuka 2002</p>
<p>Juara Macau Terbuka 2008</p>
<p>Juara India Grand Prix Gold 2009</p>
<p>Juara Amerika Serikat Terbuka 2009</p>
<p>Juara Kanada Terbuka 2010</p>
<p>Juara Perancis Terbuka Super Series 2010</p>
<p>Juara India Grand Prix Gold 2011</p>
<p>Runner up All England 1999 &amp; 2000</p>
<p>Runner up Singapore Terbuka 1999</p>
<p>Runner up Jepang Terbuka 2006, 2007 &amp; 2009</p>
<p>Runner up Macau Terbuka 2007</p>
<p>Runner up Perancis Terbuka Superseries 2009</p>
<p>Runner up Indonesia Terbuka Superseries 2010</p>
<p>Runner up Kejuaraan Dunia 2010</p>
<p>Runner up Malaysia Terbuka Superseries 2011</p>
<p>Runner up Kanada Terbuka Grand Prix 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3809</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Debby Susanto</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3807</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3807#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2021 03:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3807</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak pasangan ganda campuran Indonesia yang berhasil menjadi juara di turnamen tertua di dunia, All England. Debby Susanto menjadi pemain putri ketiga yang mampu meraihnya setelah Imelda Wiguna yang berpasangan dengan Christian Hadinata tahun 1979. Lalu disusul Liliyana Natsir bersama duetnya Tontowi Ahmad tahun 2012, 2013, 2014. Sedangkan Debby Susanto meraihnya juara di turnamen [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2017/06/20170625_PBSI_AustraliaSS_Final_PraveenDebby11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3057" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2017/06/20170625_PBSI_AustraliaSS_Final_PraveenDebby11-300x284.jpg" alt="20170625_PBSI_AustraliaSS_Final_PraveenDebby11" width="300" height="284" /></a>Tidak banyak pasangan ganda campuran Indonesia yang berhasil menjadi juara di turnamen tertua di dunia, All England. Debby Susanto menjadi pemain putri ketiga yang mampu meraihnya setelah Imelda Wiguna yang berpasangan dengan Christian Hadinata tahun 1979. Lalu disusul Liliyana Natsir bersama duetnya Tontowi Ahmad tahun 2012, 2013, 2014. Sedangkan Debby Susanto meraihnya juara di turnamen tertua di dunia tersebut bersama pasangannya dengan Praveen Jordan di tahun 2016.</p>
<p>Debby Susanto, pebulutangkis putri kelahiran Palembang, 3 Mei 1989 merupakan anak pasangan dokter Susanto Darmawan dan Sugianti Budiman. Debby mulai berlatih bulutangkis dibawah pengawasan ayahnya. Sang ayah membuat program sendiri untuk melatih Debby. Ia dilatih tanding dengan anak laki-laki. Kadang-kadang melawan dua atau tiga anak laki-laki sekaligus. Debby menjalani program latihan dengan disiplin dan kemauan keras.</p>
<p>Setelah beranjak duduk di bangku SMP, Debby memutuskan untuk lebih menekuni karir bulu tangkis daripada sekolah. Ia mulai berlatih klub Darmajaya, Palembang, dengan pelatih pertamanya bernama Aguscik. Kemudian ia pindah ke Pusdiklat Pusri, disamping latihan yang diberikan ayahnya.  Perhatian ayahnya sangat besar kepada karir Debby. Ayahnya bahkan mundur dari dosen PNS di Fakultas Kedokteran bagian gizi di Universitas Sriwijaya, Palembang, untuk menemani Debby mengikuti pertandingan.</p>
<p>Untuk meningkatkan kemampuannya, Debby hijrah ke Jakarta dan bergabung ke PB Tangkas. Tahun 2006, ia direkrut oleh PB Djarum sesuai targetnya sejak masih berlatih di kota kelahirannya.</p>
<p>Tahun 2007, Debby mulai mencetak prestasi level internasional dengan menjadi juara ganda putri Kejuaraan Asia Junior berpasangan dengan Richi Puspita Dili. Di Kejuaraan Dunia Junior, ia berpasangan dengan Afiat Yuris Wirawan, mampu menembus babak semifinal sebelum dikalahkan pasangan Malaysia Lim Khim Wah/Ng Hu Lin.</p>
<p>Debby terus bermain rangkap di nomor ganda putri dan ganda campuran. Di sektor ganda putri, ia meraih semifinalis Vietnam Challenge 2008 bersama Komala Dewi dan juara Vietnam Challenge 2009 berpasangan dengan Pia Zebadiah. Sedangkan di nomor ganda campuran, duetnya dengan Mochamad Rizki Delynugraha menempati posisi perempatfinalis GGJP Indonesia Challenge 2008.</p>
<p>Prestasi Debby ternyata lebih bersinar di sektor ganda campuran, terutama sejak berpasangan dengan Muhammad Rijal. Diantara prestasi Debby dan Rijal antara lain semifinalis Vietnam Challenge 2009, semifinalis Philipine Opem 2009, semifinalis India Open Superseries 2009, medali perunggu SEA Games 2009 dan semifinalis India Grand Prix Gold 2010.</p>
<p>Gelar juara berhasil disabet Debby/Rijal di turnamen Chinese Tapei Open GPG 2012. Dibabak final, mereka berhasil mengalahkan Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah dari Hongkong dengan skor 21-14 dan 21-14. Ditahun 2010 ini, mereka juga meraih runner up Indonesia Grand Prix Gold dan Macau Open Grand Prix Gold. Di kedua babak final, Debby/Rijal kalah dari rekannya sendiri Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.</p>
<p>Duet Debby/Rijal berhasil menembus babak semifinal turnamen bergengsi All England tahun 2013. Namun perjalanan untuk menuju babak akhir terhadang pasangan terbaik China Zhang Nan/Zhao Yunlei, dengan skor, 17-21 dan 16-21. Zhang/Zhao sendiri takluk dari pasangan Indonesia lainnya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di babak final.</p>
<p>Debby/Rijal mencatatkan diri dalam sejarah peraih medali emas SEA Games. Pasangan ini merebut medali emas SEA Games 2013 yang berlangsung di Ni Phi Tay, Myanmar, setelah mengalahkan pasangan Maneepong Jongjit/Sapsiree Taerattanachai dari Thailand dengan skor, 21-18 dan 21-19.</p>
<p>Tahun 2014, tim pelatih Pelatnas merombak duet Debby dan Rijal. Debby dipasangkan dengan atlet yang lebih muda, Praveen Jordan. Kombinasi baru ini langsung mencatat beberapa prestasi yang cukup baik. Mereka menjadi finalis Malaysia Grand Prix Gold dan meraih medali perunggu Asian Games.</p>
<p>Tahun 2015, Debby/Praveen mencetak banyak prestasi hingga babak semifinal dan final, namun sayangnya keberuntungan menjadi juara masih belum menjadi milik mereka. Tercatat, mereka finalis di turnamen Malaysia Masters GPG, Thailand Open GPG, French Open Superseries dan Indonesia Masters GPG. Selain itu mereka juga menjadi semifinalis All England, India Open superseries dan BWF Superseries Final. Dengan pencapaian tersebut, pasangan ini melonjak menempati rangking papan atas dunia.</p>
<p>Satu-satunya kemenangan Debby/Praveen di tahun 2015 adalah merebut medali emas SEA Games yang berlangsung di Singapura. Di babak final, mereka mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dari Malaysia, dengan skor, 18-21, 21-13 dan 25-23.</p>
<p>Awal cerah terlihat diawal tahun 2016. Debby/Praveen meraih gelar juara India Grand Prix Gold. Di partai akhir, mereka mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai dari Thailand, dengan skor, 23-25, 9-21 dan 16-21.</p>
<p><strong>Juara All England</strong></p>
<p>Puncak prestasi Debby/ Praveen adalah meraih juara di turnamen tertua di dunia All England. Pertanda juara sudah terlihat sejak babak semifinal dimana mereka berhasil mengalahkan pasangan nomor satu dunia sekaligus juara bertahan Zhang Nan/Zhao Yunlei dari China dengan skor, 21-15 dan 21-10. Gelar juara dipastikan setelah memenangkan partai final atas Joachim Fisheer Nilesen/Christinna Pedersen dari Denmark dengan skor, 21-12 dan 21-17.</p>
<p>Debby/Praveen juga tampil di ajang multi cabang tertinggi di dunia, Olimpiade yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brazil. Sayangnya undian tidak menguntungkan. Mereka harus berhadapan dengan rekannya sendiri Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di babak perempat final. Debby/Praveen harus mengakui keunggulan rekan berlatihnya tersebut yang kemudian meraih medali emas.</p>
<p>Di tahun 2017, Debby/Praveen sebenarnya masih meraih prestasi seperti juara di Korea Open Superseries setelah mengalahkan pasangan China Wang Yilyu/Huang Dongping, 21-17 dan 21-18. Namun sepekan kemudian, mereka kalah dari pasangan yang sama di babak semifinal Japan Open Superseries, dengan skor, 14-21 dan 19-21. Catatan prestasi lainnya, pasangan ini menjadi runner up Swiss Open GPG dan Australia Open Superseries. Selebihnya, mereka kalah sebelum mencapai babak empat besar.</p>
<p>Pencapaian di tahun 2017 ini dianggap kurang memuaskan untuk pasangan sekelas mereka. Debby dan Praveen pun diceraikan sebagai pasangan bermain seusai BWF World Superseries Final 2017 yang berlangsung di Dubai. Debby mendapat pasangan baru, Ricky Karanda Suwardi yang pindah dari sektor ganda putra. Sedangkan Praveen dipasangkan dengan Melati Daeva Oktaviani.</p>
<p>Tahun 2017 ini ditandai juga pelepasan masa lajang bagi Debby. Ia dinikahi kekasihnya Haptiwan Daya, setelah selama 11 tahun berpacaran. Pernikahan Debby dan Haptiwan ini berlangsung hari Sabtu tanggal 21 Oktober 2017. Resepsi dilaksanakan di The Spring Club Summarecon Serpong.</p>
<p>Kiprah Debby/Ricky dimulai dari turnamen Malaysia Masters yang berlangsung awal tahun 2018. Setelah melewati babak kualifikasi, pasangan ini harus terhenti di babak 32 besar. Sepanjang tahun 2018, mereka mengikuti 15 kejuaraan dengan hasil terbaik adalah mencapai babak perempat final All England, Kejuaraan Asia, Indonesia Open dan China Open.</p>
<p>Awal tahun 2019, Debby dicoba berpasangan dengan Tontowi Ahmad. Mereka tampil di Malaysia Masters 2020. Kiprah Debby/Tontowi hanya mencapai babak kedua. Pekan berikutnya, Debby diduetkan dengan Ronald Alexander pada turnamen Indonesia Masters 2020. Debby/Ronald harus angkat koper di babak pertama setelah kalah dari Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich (Jerman), 15-21, 13-21. Inilah pertandingan terakhir Debby di kompetisi internasional karena setelahnya ia menyampaikan niatnya untuk pensiun.</p>
<p>Acara Farewell Event untuk Debby Susanto digelar tanggal 24 Februari 2019 di Gedung Sabuga, Bandung. Acara ini dilaksanakan tepat sebelum digelarnya babak final beregu putra Djarum Superliga 2019.</p>
<p><em>“Hari ini saya secara resmi memutuskan untuk pensiun. Saya merasa beruntung mempunyai kesempatan untuk membela negara Indonesia selama ini. Terima kasih atas semua yang telah memberikan dukungan untuk saya. Terutama untuk keluarga dan suami saya yang selalu mendorong saya untuk terus bisa selalu bangkit,”</em> ujar Debby</p>
<p>Pada pidato perpisahannya Debby juga menyampaikan mengatakan bahwa apapun bisa terjadi asalkan ada kerja keras, kemauan dan keyakinan.</p>
<p><em>“<em>Bahwa kerja keras dan keyakinan bisa mengalahkan bakat dan talenta” katanya.</em></em></p>
<p>Tak lama setelah pengunduran dirinya, Debby mengumumkan kehamilannya pada tanggal 16 Maret 2019 di media sosial. Kemudian kebahagiaannya menjadi sempurna setelah melahirkan seorang bayi laki-laki pada tangal 18 Oktober 2019 yang diberi nama Mikhael Kayana Daya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Profil</strong></p>
<p>Nama                                                    : Debby Susanto</p>
<p>Tanggal Lahir                                      : 3 Mei 1989</p>
<p>Tempat Lahir                                      : Palembang</p>
<p>Jenis Kelamin                                     : Perempuan</p>
<p>Nama Ayah                                         : Susanto Darmawan</p>
<p>Nama Ibu                                            : Sugianti budiman</p>
<p>Nama Suami                                       : Haptiwan Daya</p>
<p>Nama Anak                                         : Mikhael Kayana Daya</p>
<p>Pegangan Raket                                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Juara All England Superseries Premier 2016 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Medali emas SEA Games 2013 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Medali emas SEA Games 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Juara Korea Open Superseries 2017 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Juara India GPG 2016 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Juara Chinese Taipei Terbuka GPG (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Juara Vietnam Challenge 2009 (/Pia Zebadiah – ganda putri)</p>
<p>Juara Kejuaraan Asia Junior 2007 (/Richi Puspita Dili – ganda putri)</p>
<p>Runner up Indonesia GPG 2012 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Runner up Indonesia Masters GPG 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up Macau Open GPG 2012 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Runner up Dutch Open GP 2013 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Runner up Malaysia Grand Prix Gold 2014 &amp; 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up Thailand Open GPG 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up French Open Superseries 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up Swiss Open GPG 2017 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up Australia Open Superseries 2017 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis All England Superseries Premier 2013 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Semifinalis All England Superseries Premier 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Medali Perunggu Asian Games 2014 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Medali Perunggu SEA Games 2011 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Semifinalis BWF Super Series Final 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis Australian Open Superseries 2016 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis India Open Superseries 2011 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Semifinalis India Open Superseries 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis Japan Open Superseries 2017 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis Philipine Open GPG 2009 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Semifinalis India GPG 2010 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Semifinalis Chinese Taipei Open GPG 2015 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis Vietnam Challenge 2008 (Komala Dewi-ganda putri)</p>
<p>Semifinalis Vietnam Challenge 2009 (/Muhammad Rijal)</p>
<p>Semifinalis German Junior 2007 (/Luluk Maria Ulfah-ganda putri)</p>
<p>Semifinalis Kejuaraan Dunia Junior 2007 (/Afiat Yuris Wirawan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3807</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Greysia Polii</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3803</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3803#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2021 23:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3803</guid>
		<description><![CDATA[Greysia Polii merupakan pemain ganda putri terbaik Indonesia selama bertahun-tahun di era tahun 2000an. Berbeda dengan bintang putri lainnya yang lebih banyak mencetak prestasi  di ganda campuran, justru Greysia menjaga gawang ganda putri Indonesia. Contoh sepak terjangnya adalah menyumbangkan medali emas Asian Games setelah 38 tahun tidak diraih ganda putri Indonesia. Greysia Polii, lahir di [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/12/20151203PBSI_INAMasters_GreysiaNitya2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2174" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/12/20151203PBSI_INAMasters_GreysiaNitya2-300x200.jpg" alt="20151203PBSI_INAMasters_GreysiaNitya2" width="300" height="200" /></a>Greysia Polii merupakan pemain ganda putri terbaik Indonesia selama bertahun-tahun di era tahun 2000an. Berbeda dengan bintang putri lainnya yang lebih banyak mencetak prestasi  di ganda campuran, justru Greysia menjaga gawang ganda putri Indonesia. Contoh sepak terjangnya adalah menyumbangkan medali emas Asian Games setelah 38 tahun tidak diraih ganda putri Indonesia.</p>
<p>Greysia Polii, lahir di Jakarta 11 Agustus 1987, putri pasangan Willy Polii dan Evie Pakasi. Greysia mulai mengenal bultangkis sejak umur 5 tahun. Keluarga Greysia Polii tinggal di kota Manado. Lalu, untuk mendukung karir Greysia, keluarganya pindah ke Jakarta tahun 1995.</p>
<p>Greysia Polii terpilih masuk ke Pelatnas tahun 2003. Meskipun lebih banyak bermain sebagai pemain ganda putri, Greysia sempat merangkap di sektor ganda campuran. Awal karir internasionalnya berpasangan dengan Muhammad Rijal untuk nomor ganda campuran dan Heni Budiman di ganda putri. Bersama Rijal, ia meraih juara Indonesia Terbuka Junior 2003-2004. Sedangkan dengan Heni, ia mencapai semifinalis Malaysia Satelitte 2003 dan Swiss Terbuka 2005.</p>
<p>Tahun 2005, Greysia dipasangkan dengan Jo Novita, pemain yang jauh lebih senior darinya. Ia semakin banyak mencetak prestasi diantaranya semifinalis Kejuaraan Asia 2005, Hong Kong Open 2005 dan Singapura Open 2005, serta medali perak SEA Games.</p>
<p>Gelar juara bersama Jo Novita baru bisa diraih di Philipine Open 2006. Selebihnya mereka kembali menjadi semifinalis Denmark Open 2006, runner up Korea Open 2006, semifinalis Philipine Open 2007 dan semifinalis French Open 2007. Ditahun 2007 ini, Greysia sempat dipasangkan dengan Vita Marissa dan berhasil menjadi runner up Malaysia Open.</p>
<p>Tahun 2008, Greysia mendapat pasangan baru, Nitya Krishinda Maheswari. Pasangan ini menjanjikan harapan dengan mencapai empat besar beberapa turnamen. Nitya/Greysia meraih prestasi semifinal Denmark Open 2008, semifinalis Jepang Open 2009, French Open 2009 dan runner up Singapura Open 2009. Namun, kebersamaan dengan Nitya tidak berlangsung lama. Pelatih menganggap prestasinya tidak maksimal dan memecah pasangan ini tahun 2010. Greysia lalu diduetkan dengan Meiliana Jauhari.</p>
<p>Prestasi Greysia/Nitya cukup baik dengan bertengger di papan atas dunia. Namun prestasinya masih lebih banyak sebatas semifinalis dan final. Diantaranya finalis Indonesia Grand Prix Gold 2010, finalis Chinese Taipei Open Grand Prix Gold 2011, semifinalis Swiss Open GPG 2011, semifinalis India Open Superseries 2011, semifinalis Malaysia GPG 2011, semfinalis Indonesia Terbuka SSP 2012 dan semifinalis Singapura Open Superseries 2012.</p>
<p>Berbagai capaian prestasi tersebut, membuat pasangan ini lolos ke Olimpiade London 2012. Diajang multi cabang tertinggi di dunia ini, justru Greysia/Meiliana mengalami cerita kelabu. Greysia/Meiliana dan pasangan Korea Ha Jung Eun/Kim Min Jung dianggap saling mengalah di babak penyisihan grup C agar menghindari pasangan kuat China Wang Xiaoli/Yu Yang di babak perempat final. Pasangan Indonesia ini bersama 3 pasangan lainnya didiskualifikasi oleh BWF (Badminton World Federation). Akibat lanjutan, PBSI memberikan sangsi larangan bertanding selama 4 bulan kepada Greysia/Meiliana.</p>
<p>Menjelang Piala Sudirman 2013 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pelatih Pelatnas memadukan kembali Nitya dengan Greysia Polii. Bermula dari “rujuk” inilah prestasi besar mulai dicapai keduanya. Gelar grand prix gold pertama bisa mereka capai di Thailand Open 2013. Di babak final, Greysia/Nitya mengalahkan pasangan Jepang, Yuriko Miki/Koharu Yanemoto, 21-7 dan 21-13. Lalu, kejutan dibuat Greysia/ Nitya di kejuaraan Chinese Taipei Open 2014. Mereka bukan hanya sekedar menjadi juara tetapi mengalahkan pasangan juara dunia dua kali asal China Yu Yang/Wang Xiaoli, 21-18 dan 21-11 di babak final.</p>
<p>Prestasi yang sangat membanggakan ketika mengumandangkan Indonesia Raya sebagai tanda raihan medali emas Asian Games di Incheon, Korea Selatan. Keberhasilan ini dicapai setelah mengalahkan Tian Qing/Zhao Yunlei (China), 21-17, 19-21, 21-17 di semifinal dan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang), 21-15 dan 21-9, di final. Mereka memutus dahaga 38 tahun raihan emas sektor ganda putri Indonesia di Asian Games. Terakhir, pebulutangkis ganda putri Indonesia meraihnya tahun 1978 di Bangkok melalui Verawaty Fajrin/Imelda Wiguna.</p>
<p>Korea menjadi tempat keberuntungan bagi Greysia/ Nitya. Mereka menyabet gelar superseries pertama kali di Korea Open 2015 setelah mengalahkan andalan tuan rumah Chang Ye Na/Lee So Hee, 21-15 dan 21-18. Gelar ganda putri superseries sebelumnya diraih Indonesia sudah tujuh tahun berlalu dimana Vita Marissa/Liliyana Natsir menjuarai Indonesia Open 2008.</p>
<p>Selain itu Greysia/ Nitya meraih gelar juara Chinese Taipei Open Grand Prix Gold 2015 setelah mengalahkan pasangan kembar asal China Lou Ying/Lou Yu di final dengan skor, 21-17 dan 21-17. Prestasi lainnya sepanjang tahun 2015 antara lain semifinalis Kejuaraan Dunia, French Open, Superseries, Hong Kong Open Superseries dan BWF Superseries Final.</p>
<p>Tahun 2016, Greysia/ Nitya menambah koleksi gelar superseries setelah menjuarai Singapore Open. Di babak final, mereka meraih kemenangan WO dari Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang).  Prestasi Nitya/Greysia termasuk stabil di jajaran atas. Selain juara di Singapura, mereka meraih runner up Australia Open Superseries 2016, semifinalis India Terbuka Superseries 2016, semifinalis Malaysia Open Superseries Premier 2016 dan semifinalis Denmark Open Superseries Premier 2016.</p>
<p>Greysia dan Nitya kembali harus berpisah. Penghujung tahun 2016, Nitya melakukan operasi untuk mengobati cedera lutut yang dideritanya. Hal tersebut menyebabkan Nitya harus beristirahat selama 6 bulan.</p>
<p>Diawal tahun 2017, Greysia kemudian dicoba berpasangan dengan Rosyita Eka Putri Sari, lalu kemudian dengan Rizki Amelia Pradibta. Dengan kedua pemain tersebut, hasil yang diraih tidak terlalu menggembirakan. Kemudian Greysia dipasangkan dengan pemain yang lebih junior lagi, Apriani Rahayu. Duet Greysia/Apriani langsung menggebrak dengan menjadi juara Thailand Open Grand Prix Gold. Inilah gelar GPG pertama buat Apriani Rahayu.</p>
<p>Lalu, Greysia berhasil membawa Apriani Rahayu untuk meraih gelar Superseries pertama di French Open. Dibabak final, mereka mengalahkan andalan Korea Shin Seung Chan /Lee So Hee, 21-17 dan 21-15. Greysia/Apriani juga menembus babak final Hong Kong Open Superseries 2017, namun kalah dari pasangan juara dunia Jia Yifan/Chen Qingchen, 21-14, 16-21 dan 15-21.</p>
<p>Tahun 2018, Greysia/Apriani memperoleh satu gelar juara yakni di India Open super 500 setelah di babak final mengalahkan Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand), 21-18 dan 21-15. Lalu, satu kali runner up di Indonesia Masters Super 500. Mereka kalah dari Misaki Matsutomo/ Ayaka Takahashi (Jepang), 17-21 dan 12-21. Di tahun ini, mereka juga meraih medali perunggu di Asian Games dan Kejuaraan Dunia.</p>
<p>Greysia/Apriani mencatat beberapa kali di posisi semifinalis yakni Japan Open Super 750, China Open Super 1000, Denmark Open Super 750, French Open Super 750 dan Hong Kong Open super 500. Uniknya semua kekalahan di babak semifinal tahun 2018 terjadi dari pemain-pemain putri Jepang. Pasangan Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, Misaki Matsutomo/ Ayaka Takahashi dan Yuki Fukushima /Sayaka Hirota menjadi penyebab tujuh kekalahan di babak empat besar tersebut.</p>
<p>Tahun 2019, Greysia/Apriani mengalami penurunan prestasi dibandingkan tahun 2018. Mereka memang berhasil mempertahankan gelar juara di India Open super 500 setelah mengalahkan Chow Mei Kuan/ Lee Meng Yean (Malaysia), 21-11, 25-23. Selebihnya, mereka mencapai runner up Malaysia Masters super 500, semifinalis Indonesia Masters super 500 dan mempertahankan medali perunggu Kejuaraan Dunia. Dua semifinalis lainya dicetak dari turnamen level lebih rendah, Australian Open super 300 dan New Zealand Open super 300.</p>
<p>Untungnya, Greysia/Apriani memperoleh hiburan dengan meraih medali emas di SEA Games yang berlangsung di Manila, Philipina. Medali emas SEA Games ini cukup berarti bagi Gresyia Polii setelah tiga kali kandas di babak final. Ia harus puas dengan medali perak berpasangan dengan Jo Novita (2005, 2007) dan Nitya (2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suasana haru terjadi di turnamen Indonesia Masters 2020. Setelah sepekan sebelumnya meraih semifinalis Malaysia Masters, Greysia/Apriani berhasil merebut juara di Istora Senayan, Jakarta. Kemenangan menghapus dahaga 12 tahun sektor ganda putri Indonesia untuk menjadi juara di Istora. Sebelumnya, Vita Marissa/Liliyana Natsir meraihnya di Indonesia Open Superseries 2008. Selain itu bagi Greysia/Apriani, kemenangan ini sekaligus membangkitkan kembali semangat dari keterpurukan prestasi tahun 2019. Di babak final, Greysia/Apriani mencatat kemenangan dramatis atas Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark), 18-21, 21-11, 23-21.</p>
<p>Greysia/Apriani menambah koleksi gelar juaranya dari ajang Barcelona Spain Masters 2020. Di final turnamen super 300 tersebut, mereka mengungguli duet bersaudara Gabriela Stoeva/Stefani Stoefa (Bulgaria), 18-21, 22-20, 21-17. Sebelum pertandingan internasional dihentikan sementara karena wabah Covid-19, Greysia/Apriani sempat turun di turnamen All England 2020, namun terhenti di pertandingan perdana.</p>
<p>Sejak masuk Pelatnas tahun 2003 hingga tahun 2020, berarti Greysia telah 17 tahun mengawal ganda putri Indonesia. Dengan suka dukanya, Greysia Polii merupakan salah satu dari sedikit pemain ganda putri terbaik Indonesia.</p>
<p>Greysia melepas masa lajangnya pada tanggal 23 Desember 2020. Ia dinikahi oleh kekasihnya yang bernama, Felix Djimin. Namun ia harus rela memangkas bulan madunya karena persiapan menuju tiga turnamen Asia pertama setelah terhentinya kejuaraan akibat pandemic covid19.</p>
<p>Greysia memberikan kado terbaik untuk pernikahannya. Ia Bersama Apriani Rahayu berhasil meraih juara gadan putri pada turnamen Yonex Thailand Open. Dibabak final, mereka mengandaskan pasangan tuan rumah Jongkolphan Kititharakul/ Rawinda Prajongjai, 21-15, 21-12. Ini merupakan gelar turnamen super 1000 pertama bagi Apri/Greysia khususnya dan ganda putri Indonesia umumnya.</p>
<p>Sepekan berikutnya, diajang Toyota Thailand Open atau dikenal juga dengan Thailand Open II, Apri/Greysia meraih hasil sebagai semifinalis. Mereka kalah dari Lee So Hee/ Shin Seung Chan (Korea), 16-21, 18-21 di babak empat besar tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Profil</strong></p>
<p>Nama                                    : Greysia Polii</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 11Agustus 1987</p>
<p>Tempat Lahir                      : Jakarta</p>
<p>Nama Ayah                         : Willy Polii</p>
<p>Nama Ibu                            : Evie Pakasi</p>
<p>Pegangan Raket                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali emas Asian Games 2014 (/Nitya Krishinda Maheswari)</p>
<p>Medali emas SEA Games 209 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 1000 – Yonex Thailand Open 2021 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 300 – Barcelona Spain Masters 2020 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2018 &amp; 2019 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara ganda putri French Open Superseries 2017 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara ganda putri Thailand Open Grand Prix Gold 2017 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara Korea Open Superseries 2015 (/Nitya Krishinda Maheswari)</p>
<p>Juara Singapore Open Superseries 2016 (/Nitya Krishinda Maheswari)</p>
<p>Juara Perancis Open Superseries 2017 (/Apriani Rahayu)</p>
<p>Juara Chinese Taipei Open Grand Prix Gold 2014 &amp; 2015 (/Nitya Krishinda Maheswari)</p>
<p>Juara Thailand Open Grand Prix Gold 2013 (/Nitya Krishinda Maheswari)</p>
<p>Juara Philipine Open 2006 (/Jo Novita)</p>
<p>Medali emas PON 2008 (/Nathalia Poluakan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3803</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Jonatan Christie</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3800</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3800#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2021 00:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3800</guid>
		<description><![CDATA[Asian Games Jakarta-Palembang 2018 melambungkan nama Jonatan Christie. Pemain yang akrab dipanggil Jojo ini secara mengejutkan berhasil meraih medali emas tunggal putra. Keberhasilan tersebut membuat namanya dikenal luas di tanah air. Namun sebenarnya di kalangan bulutangkis, namanya sudah dikenal sejak kecil karena prestasi-prestasinya. Jojo lahir di Jakarta tanggal 15 September 1997 merupakan anak dari pasangan [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2018/08/asiangames2018-278-8-jonatan4-individu-final.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3434" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2018/08/asiangames2018-278-8-jonatan4-individu-final-300x200.jpg" alt="asiangames2018-278-8-jonatan4-individu-final" width="300" height="200" /></a>Asian Games Jakarta-Palembang 2018 melambungkan nama Jonatan Christie. Pemain yang akrab dipanggil Jojo ini secara mengejutkan berhasil meraih medali emas tunggal putra. Keberhasilan tersebut membuat namanya dikenal luas di tanah air. Namun sebenarnya di kalangan bulutangkis, namanya sudah dikenal sejak kecil karena prestasi-prestasinya.</p>
<p>Jojo lahir di Jakarta tanggal 15 September 1997 merupakan anak dari pasangan Andreas Adi Siswa dan Marlanti Djaja. Ia diperkenalkan dengan cabang olah raga bulutangkis oleh ayahnya. Sang ayah pula yang awalnya berkeinginan agar Jojo menjadi seorang pemain bulutangkis. Jojo sudah mulai berlatih sejak umur 6 tahun.</p>
<p>Untuk meningkatkan kemampuannya, Jojo bergabung dengan klub Tangkas Jakarta. Di usia cukup belia sekitar 11 tahun, Jojo sudah meraih prestasi tingkat DKI Jakarta, nasional bahkan Internasional. Diantaranya menjadi juara Kejurda DKI Jakarta 2008 dan Tetra Pack Open 2008. Selain itu, Jojo yang mewakili klub Tangkas, menjuarai Kejuaraan Astec Open 2008 mengalahkan Fiky Murpala (SGS Bandung).</p>
<p>Kemenangan Jojo di Olimpiade Olah raga Siswa Nasional (O2SN) 2008 mengantarnya mewakili Indonesia diajang APSSO (ASEAN Primary School Sport Olympiad). Di Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara di Jakarta tersebut, Jojo berhasil meraih medali emas dari nomor tunggal putra setelah mengalahkan rekannya Rohmat, 21-19 dan 21-17.</p>
<p>Dari prestasi Jojo diajang APSSO 2008 tersebut, ia mendapatkan penghargaan Satya Lencana dari presiden RI ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009. Tahun 2009 pula, Jojo sempat ikut bermain dalam film King. Dalam film yang bertema bulutangkis itu, Jojo berperan sebagai Arya yang menjadi saingannya Guntur, sang tokoh utama dalam film ini.</p>
<p>Di lapangan pertandingan, Jojo terus mencetak prestasi. Ia berhasil menjadi juara tunggal putra dalam ajang Asia Junior Championships U15 tahun 2010 di Ichiba, Jepang. Di babak final, ia mengalahkan pemain tuan rumah Koga Minaru, 21-13 dan 21-11. Tahun 2012, Jojo mencapai babak semifinal dalam ajang Australian U19 Junior International.</p>
<p>Kiprahnya diajang Kejuaraan dunia Junior kandas di babak perempat final. Di Kejuaraan Dunia Junior 2013 di Taipei, ia harus mengakui keunggulan Zhao Jun Peng dari Tiongkok. Demikian pula diajang yang sama tahun berikutnya di Alor Setar, Malaysia, Jojo ditaklukan Lin Gui Pu yang juga dari Tiongkok. Namun di tingkat regional, Jojo berhasil menyumbangkan medali emas di ASEAN School Games 2013 setelah mengalahkan Lim Chi Wing (Malaysia).</p>
<p>Momen mengharukan terjadi di acara pelepasan legenda tunggal putra Indonesia Taufik Hidayat yang menyatakan pensiun. Dalam acara yang digelar bersamaan dengan turnamen Indonesia Open 2013 tersebut, Taufik memberikan salah satu raket terakhirnya kepada Jonatan Christie. Tujuannya adalah agar Jojo lebih berprestasi sepeninggal Taufik.</p>
<p>Mulai tahun 2013 pula, Jojo mulai berprestasi di level senior walaupun ia baru berusia 15 tahun. Ia meraih gelar pertamanya diajang senior di Indonesia International Challenge 2013. Di babak final, Jojo mengalahkan seniornya Alamsyah Yunus, 21-17, 21-10. Jojo tidak berhasil mempertahankan gelarnya setelah pada Indonesia International Challenge tahun 2014. Ia kalah di final dari Lee Hyun Il (Korea), 11-10, 9-11, 5-11, 11-8, 11-3. Namun ia memperoleh gelar juara baru di Swiss International Challenge 2014 setelah mengalahkan Ng Ka Long Angus, 9-11, 9-11, 11-6, 11-9, 11-10. Pada tahun tersebut, untuk turnamen International Challenge sedang diujicobakan sistem skor yang berbeda dengan turnamen superseries.</p>
<p>Tahun 2015, Jonatan mulai banyak mengikuti turnamen-turnamen level atas seperti Grand Prix hingga Superseries Premier. Namun belum ada yang mencapai hingga babak empat besar. Di tahun ini juga, Jojo menjadi salah satu andalan Indonesia di Piala Sudirman.</p>
<p>Kiprahnya di turnamen superseries mulai menampakan hasilnya di Malaysia Open Superseries Premier 2016 dimana Jojo mampu merebut posisi semifinalis. Ia bermain tiga game dengan pemain kuat asal Tiongkok, Chen Long sebelum kalah dengan skor 21-8, 19-21 dan 14-21. Prestasi lainnya, Jojo menyumbangkan medali emas buat DKI Jakarta di arena PON Jawa Barat 2016. Di babak final, ia mengalahkan Wisnu Yuli Prasetyo yang mewakili Jawa Timur dengan skor, 21-16 dan 21-15.</p>
<p>Jojo mempunyai keberuntungan tersendiri di arena multi cabang. Setelah medali emas PON, ia juga meraih medali emas tunggal putra cabang bulutangkis SEA Games 2017 di Malaysia. Ia menghempaskan andalan Thailand, Khosit Phetpradab, 21-19 dan 21-10 di partai puncak. Jojo juga menembus babak final Thailand Open Grand Prix Gold, namun ia harus puas di posisi runner up setelah kalah dari Sai Praneeth (India), 21-17, 18-21 dan 19-21. Bahkan ia bersama rekannya Anthony Sinisuka Ginting, mencetak “all Indonesian final” di turnamen Korea Open Superseries 2017. Ia kalah dari rekannya di partai ini dengan skor, 13-21, 21-19 dan 20-22 dalam pertarungan selama lebih dari 1 jam.</p>
<p>Medali emas Asian Games 2018 dipersembahkan Jojo kepada pecinta bulutangkis Indonesia. Di babak final, ia mengalahkan Chou Tien Chen, 21-18, 20-22 dan 21-15. Medali emas ini melengkapi medali emas di event multi cabang sebelumnya dimana ia meraih medali emas PON dan SEA Games. Medali ini juga meneruskan keberhasilan seniornya Taufik Hidayat yang merebut medali emas Asian Games 2002 &amp; 2006. Ini seolah menegaskan bahwa kepercayaan Taufik menyerahkan raket terakhirnya ke Jojo lima tahun lalu, mampu dibalas dengan mengikuti jejak emas sang legenda.</p>
<p>Dua gelar juara berhasiil diraih Jojo di tahun 2019. Ia memenangkan turnamen super 300 New Zealand Open dan Australia Open. Di New Zealand Open, Jojo menundukan Ng Ka Long Angus di babak final dengan mudah, 21-12, 21-13. Sedangkan di Australia, ia mengalahkan rekannya Anthony Sinisuka Ginting di babak final dengan, 21-17, 13-21 dan 21-14. Sebelumnya di babak perempat final, Jojo mampu mengalahkan legenda bulutangkis Tiongkok, Lin Dan dengan 21-9 dan 24-22. Lalu di semifinal mengalahkan pemain kuat lainnya Chou Tien Chen, 22-20, 13-21, 21-16.</p>
<p>Dua gelar runner up satu semifinalis dicetak Jojo di turnamen BWF World Tour Super 750. Ia menembus babak final Japan Open dan French Open 2019 serta semifinal Malaysia Open 2019. Disamping itu, ia juga meraih hasil sebagai semifinalis turnamen super 500 di Indonesia Masters dan Hong Kong Open 2019. Dipenghujung tahun 2019, Jojo menempati peringkat 6 dunia tunggal putra atau merupakan peringkat terbaik diantara pemain tunggal putra Indonesia.</p>
<p><strong><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2017/06/PBSI20170413_Singapore-Open_Jonatan-1-of-7.jpg"><img class="aligncenter wp-image-2917 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2017/06/PBSI20170413_Singapore-Open_Jonatan-1-of-7-1024x684.jpg" alt="PBSI20170413_Singapore Open_Jonatan (1 of 7)" width="1024" height="684" /></a> </strong></p>
<p><strong>Profil </strong></p>
<p>Nama                                    : Jonatan Christie</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 15 September 1997</p>
<p>Tempat Lahir                      : Jakarta</p>
<p>Nama Ayah                         : Andreas Adi Siswa</p>
<p>Nama Ibu                            : Marlanti Djaja</p>
<p>Pegangan Raket                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali emas Asian Games 2018</p>
<p>Medali emas SEA Games 2017</p>
<p>Medali emas PON (Pekan Olahraga Nasional) 2016</p>
<p>Medali emas  ASEAN School Games 2013</p>
<p>Medali emas APPSO (ASEAN Primary School Sport Olympiad) 2008</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 300 New Zealand Open 2019</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 300 Australian Open 2019</p>
<p>Juara Swiss International Challenge 2014</p>
<p>Juara Indonesia International Challenge 2013</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 750 Japan Open 2019</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 750 French Open 2019</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 300 New Zealand Open 2018</p>
<p>Runner up Korea Open Superseries 2017</p>
<p>Runner up Thailand Open Grand Prix Gold 2017</p>
<p>Runner up Indonesia International Challenge 2014</p>
<p>Semifinal BWF World Tour Super 750 Malaysia Open 2019</p>
<p>Semifinal BWF World Tour Super 500 Indonesia Masters 2019</p>
<p>Semifinal BWF World Tour Super 500 Hong Kong Open 2019</p>
<p>Semifinal BWF World Tour Super 500 Korea Open 2018</p>
<p>Semifinal Malaysia Open Superseries Premier 2016</p>
<p>Semifinal Bahrain International Challenge 2014</p>
<p>Semifinalis Australian U19 Junior International 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3800</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Hendra Setiawan</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3798</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3798#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 00:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3798</guid>
		<description><![CDATA[Hendra Setiawan merupakan pemain ganda yang mempunyai kecepatan dalam mencegat bola di depan. Ia sangat piawai dalam permainan di sekitar net. Hendra telah memberi persembahan terbaik buat Indonesia dengan medali emas Asian Games,  juara All England, juara dunia dan bahkan meraih medali emas Olimpiade. Hendra lahir di Pemalang, Jawa Tengah, 24 Agustus 1984 dari pasangan [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/04/FinalMOSSP_HendraAhsan5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-297" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/04/FinalMOSSP_HendraAhsan5-300x200.jpg" alt="FinalMOSSP_HendraAhsan5" width="300" height="200" /></a>Hendra Setiawan merupakan pemain ganda yang mempunyai kecepatan dalam mencegat bola di depan. Ia sangat piawai dalam permainan di sekitar net. Hendra telah memberi persembahan terbaik buat Indonesia dengan medali emas Asian Games,  juara All England, juara dunia dan bahkan meraih medali emas Olimpiade.</p>
<p>Hendra lahir di Pemalang, Jawa Tengah, 24 Agustus 1984 dari pasangan Ferry Yoegianto dan Kartika Christyaningrum. Ayahnya merupakan mantan pemain tim PON Jateng semasa aktifnya. Sang ayah merupakan orang pertama yang mengenalkan bulutangkis kepada Hendra. Dengan bakat yang menonjol dari Hendra, ia pun menyusul kakak kandungnya Silvia Anggraeni yang menjadi pemain klub Jaya Raya, Jakarta.</p>
<p>Di saat junior, ia berpasangan dengan Joko Riyadi berhasil menjuarai Indonesia Open Junior dua tahun berturut-turut yakni tahun 2001 dan 2002. Bersama Joko Riyadi, ia juga sempat menjadi runner up Singapore Satellite 2002. Di tahun 2002 ini juga, Hendra mulai berpasangan dengan Markis Kido. Pasangan ini berhasil menembus semifinal Malaysia Satellite, walaupun harus mengakui keunggulan pasangan tuan rumah Jeremy Gan/GanTeik Chai. Selain itu, ia juga tampil sebagai semfinalis ganda campuran berduet dengan Devi Sukma Wijaya.</p>
<p>Bersama Markis, ia mulai mencetak prestasi–prestasi besar. Indonesia Terbuka 2005 menjadi bukti kiprah mereka.  Di final Hendra/Markis menundukkan pasangan legenda Indonesia Candra Wijaya/Sigit Budiarto, 15-10, 12-15, 15-3. Disamping itu mereka menjuarai Kejuaraan Asia 2005, medali emas SEA Games 2005, Hongkong Open 2006, China Open 2006 dan Invitasi Piala Dunia 2006.</p>
<p>Gelar juara dunia berhasil mereka genggam tahun 2007 di kejuaraan yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia dan Markis berhasil mengalahkan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dari Korea, 21-19 dan 21-19 di babak final.</p>
<p>Bertanding di negeri kandang macan China, sering membawa keberuntungan buat ia dan Markis. Setelah juara China Open 2006, dilanjutkan kembali menjadi juara di turnamen yang sama tahun 2007. Dan puncaknya tanggal 16 Agustus 2012, mereka memberikan kado manis jelang ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mempersembahkan medali emas Olimpiade Beijing 2008. Di final yang berlangsung dramatis, Hendra/Markis berhasil mengalahkan andalan tuan rumah Fu Haifeng/Cai Yun 12-21, 21-11, 21-16 Ini juga melanjutkan tradisi emas Indonesia di Olimpiade selama 16 tahun sejak Olimpiade Barcelona 1992.</p>
<p>Selepas Olimpiade, pasangan ini meraih beberapa gelar juara diantaranya Jepang Open 2009, France Open 2009 dan medali emas SEA Games 2009. Awal 2010 Markis dan Hendra memutuskan untuk mengundurkan diri dari Pelatnas. Mereka berkarir secara mandiri dengan dukungan berbagai sponsor.</p>
<p>Meskipun sudah di luar Pelatnas, mereka tetap meraih prestasi yang menonjol. Pasangan ini kembali mengibarkan bendera merah putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di ajang bergengsi. Kali ini di Asian Games 2010 yang berlangsung di Guangzhou, China, berhasil mereka menangkan. Persembahan emas diraih usai mengalahkan harapan malaysia Koo Kean Keat/Tan Boon Heong, 16-21, 26-24 dan 21-19.</p>
<p>Kebersamaan Hendra dengan Markis terputus di pertengahan tahun 2012. Hendra dipanggil kembali ke Pelatnas untuk berpasangan dengan Mohammad Ahsan, sementara Markis tetap menempuh karir di luar Pelatnas. Ahsan sendiri sebelumnya berpasangan dengan Bona Septano yang juga merupak adik dari Markis Kido.</p>
<p>Pasangan Hendra/Ahsan meraih gelar pertamanya di Malaysia Open Super Series 2013. Pasangan baru ini menundukkan pasangan kuat Korea Selatan, Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun. Hendra melengkapi berbagai gelar juara-nya bersama Mohammad Ahsan diantaranya juara Indonesia Open SSP 2013, Singapore Open SS 2013 dan Jepan Open SS 2013. Hendra pun meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya. Di Kejuaraan Dunia 2013 yang berlangsung di Guangzhou, China, Hendra bersama Ahsan menjadi juara setelah mengalahkan Mathias Boe/ Carsten Mogensen (Denmark), 21-13 dan 23-21.</p>
<p>Hendra/Ahsan juga menjadi pebulutangkis Indonesia pertama yang menjadi juara diajang BWF Superseries Final yang juga diraihnya tahun 2013. Pasangan ini pun segera menduduki peringkat nomor satu dunia. Tahun 2014, Hendra/Ahsan kembali membuat sensasi dengan menjuarai turnamen bergengsi All England dilanjutkan dengan medali emas Asian Games, serta juara Hong Kong  Open SS.</p>
<p>Tahun 2015 Hendra menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya di pertandingan yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta. Hendra/Ahsan merupakan penyumbang satu-satunya gelar bagi tuan rumah. Gelar bergengsi lainnya BWF Superseries Final, kembali mereka raih di penghujung tahun 2015.</p>
<p>Memasuki tahun 2016, prestasi Hendra bersama Ahsan mulai meredup. Mereka gagal memenuhi ambisi untuk meraih medali di Olimpiade Rio 2016. Duet ini malah tersingkir di babak penyisihan grup setelah mengalami dua kali kekalahan. Mereka kalah dari Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok), 15-21, 17-21 dan dari Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang), 17-21, 21-16, 14-21. Kekalahan dari Endo/Hayakawa merupakan hal yang tak diduga karena Ahsan/Hendra selalu menang dalam sembilan pertemuan sebelumnya.</p>
<p>Selepas Olimpiade 2016, Hendra/Ahsan masih sempat berduet di dua turnamen, Japan Open dan Korea Open. Mereka terhenti di babak semifinal Japan Open setelah kalah dari Li Jun Hui/Li Yu Chen (Tiongkok). Sedangkan di Korea Open, sudah harus angkat koper di babak perempat final.</p>
<p>Setelah itu, Hendra dan Ahsan berpisah. Hendra mulanya dicoba berpasangan dengan Rian Agung Saputro di Denmark Open dan French Open yang berlangsung bulan Oktober 2016. Namun hasilnya kurang memuaskan dengan langsung terhenti di babak 16 besar dan 32 besar. Lalu bulan berikutnya Hendra ditandemkan dengan Berry Anggriawan di turnamen China Open dan Hong Kong Open. Kiprah juga langsung tersingkir di babak pertama.</p>
<p>Hendra memutuskan untuk keluar dari Pelatnas PBSI dan berkarir secara profesional. Ia menggandeng pemain asal negeri jiran Malaysia, Tan Boon Heong. Duet Hendra/Tan ini mengikuti 18 turnamen internasional sepanjang tahun 2017. Hasil terbaiknya adalah menjadi runner up Australian Open Superseries. Saat babak semifinal, mereka berhasil mengalahkan juara dunia 2017, Liu Cheng/Zhang Nan, 21-15, 14-21, 21-17. Namun harus takluk dari Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 17-21 dan 19-21. Hendra/Tan juga meraih posisi semifinalis pada China Masters GPG 2017.</p>
<p>Penghujung tahun 2017, Hendra berduet kembali bersama Ahsan di ajang Kejurnas yang berlangsung di Pangkal Pinang. Pasangan ini berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Frengky Wijaya Putra/Sabar Karyaman Gutama, 21-13, 21-17. Dengan hasil ini, Hendra berhak mendapatkan posisi di Pelatnas dengan status magang.</p>
<p>Meskipun Hendra kembali ke Pelatnas tetapi tidak langsung dipasangkan dengan Ahsan karena Hendra dicoba lagi berpasangan dengan Rian Agung Saputro. Namun duet Hendra/Rian di BWF World Tour Super 500 – Indonesia Masters 2018 langsung tumbang di babak kedua dari pasangan nomor satu dunia saat itu Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.</p>
<p>Berduetnya kembali Hendra dan Ahsan di arena Internasional terwujud di BWF World Tour Super 500 –India Open 2018. Kiprah mereka langsung mencapai babak semifinal sebelum dikalahkan Kevin/Marcus.</p>
<p>Pasangan Ahsan/Hendra yang sama-sama sudah menjadi ayah ini kerap dijuluki the Daddies baik oleh penggemar maupun media. Daddies mulai menemukan kekompakannya kembali. Mereka mampu meraih dua gelar juara di tahun 2018 yakni di Malaysia International Challenge dan BWF World Tour Super 500-Singapore Open. Daddies membuat prestasi cukup stabil di jajaran atas. Lima kali mereka meraih hasil sebagai semifinalis. Selain di India Open, mereka juga meraih empat besar di German Open, Denmark Open, Fuzhou China Open, Hong Kong Open. Peringkat mereka yang sempat berada pada urutan ke-162 dunia pada tanggal 8 Februari 2018 naik drastis menjadi ke-9 dunia pada tanggal 27 Desember 2018.</p>
<p>Menjelang tur tahun 2019, Daddies memutuskan untuk mundur dari status pemain Pelatnas. Mereka menjalani tur dengan profesional atau biaya sendiri. Namun Daddies tetap berlatih di Pelatnas serta ditangani pelatih Pelatnas. Kebangkitan Daddies semakin terlihat di sepanjang tahun 2019. Mereka mampu meraih tiga gelar bergengsi sekaligus dalam satu tahun yakni Kejuaraan Dunia, All England dan BWF World Tour Final.</p>
<p>Di All England 2019, Daddies menjadi juara setelah mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/ Wooi Yik Soh, 11-21, 21-14 dan 21-12. Untuk ketiga kalinya Daddies merengkuh gelar juara setelah memenangkan Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Basel, Swiss. Mereka menumbangkan Takuro Hoki/ Yugo Kobayashi (Jepang), 25-23, 9-21, 21-15. Daddies menutup tahun dengan gelar BWF World Tour setelah mengalahkan Yuta Watanabe/Hiroyuki Endo, 24-22, 21-19.</p>
<p>Selain itu, Daddies juga meraih posisi runner up di turnamen Indonesia Masters, Singapore Open, Indonesia Open, Japan Open, China Open, Denmark Open dan Hong Kong Open. Mereka kalah dari Kevin/Marcus pada lima dari tujuh kekalahan di final. Pencapaian prestasi yang fenomenal di tahun 2019 telah mengangkat peringkat menjadi kedua dunia dibawah juniornya Kevin/Marcus sejak bulan Agustus 2019.</p>
<p>Sebelum turnamen dihentikan karena pandemi Covid-19, Daddies sempat mengikuti tiga turnamen di tahun 2020. Indonesia Masters 2020 menjadi hasil terbaiknya dengan mencapai babak final. Namun lagi-lagi, Daddies kalah dalam hal kecepatan dari Kevin/Marcus yang lebih muda. Mereka kalah dengan skor 15-21, 16-21. Sedangkan di turnamen lainnya, Daddies terhenti di babak semifinal Malaysia Masters dan perempat final All England. Namun Daddies tetap kokoh di peringkat dua dunia.</p>
<p>Dari luar lapangan, Hendra mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Sandiani Arief atau lebih akrab dipanggil San San pada tanggal 9 Oktober 2011. Acara pernikahan dilangsungkan di hotel JW Marriot, Jakarta. Kebahagian Hendra dan Sansan semakin bertambah sekitar Sansan mengandung anak pertama mereka tahun 2014. Dari kehamilan umur 4 bulan, plasentanya terus dibawah sehingga Sansan memilih berada di Surabaya yang dekat dengan keluarga dibandingkan di Jakarta. Ternyata, hasil USG menujukkan bahwa mereka akan dikaruniahi anak kembar. Dikarenakan akan melahirkan kembar, maka dokter mengharuskan dengan operasi cecar.</p>
<p>“Waktu itu saya persiapan pertandingan All England sehingga kelahirannya dipercepat walaupun belum genap waktunya. Daripada nanti menjadi pikiran saat pertandingan,” ujar Hendra.</p>
<p>Tanggal 19 Februari 2014, lahirlah kedua anak kembar laki-laki dan perempuan di Rumah Sakit RKZ Surabaya. Anaknya yang laki-laki diberi nama Richard Heinrich Setiawan, sedangkan yang perempuan diberi nama Richelle Hillary Setiawan. Namun Hendra tidak bisa melihat proses kelahirannya secara langsung karena dilarang oleh dokter.</p>
<p>Dua minggu kemudian Hendra terbang ke London dan mempersembahkan kado yang indah buat kedua buah hatinya. Ia bersama Mohammad Ahsan membawa pulang gelar juara turnamen tertua di dunia tersebut.</p>
<p>Hendra kembali diberi karuniah seorang anak laki-laki yang lahir pada hari Rabu, 26 Juli 2017. Sang anak diberi nama Russel Howard Setiawan. Kali ini, Hendra melihat proses kelahirannya secara langsung di Rumah sakit Mitra Cibubur. Proses kelahirannya kembali dilakukan dengan operasi cesar karena bobot bayi yang terlalu besar yakni diatas 4 kilogram.</p>
<div id="attachment_1691" style="width: 1034px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/08/20150812PBSI_BWF-WC_HENDRA-AHSAN2.jpg"><img class="wp-image-1691 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/08/20150812PBSI_BWF-WC_HENDRA-AHSAN2-1024x683.jpg" alt="20150812PBSI_BWF WC_HENDRA AHSAN2" width="1024" height="683" /></a><p class="wp-caption-text">Hendra Setiawan (depan), berpasangan dengan Mohammad Ahsan</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Profil :</p>
<p>Nama                                    : Hendra Setiawan</p>
<p>Tempat Lahir                      : Pemalang, Jawa Tengah</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 24 Agustus 1984</p>
<p>Pegangan Raket                 : Kanan</p>
<p>Nama Bapak                       : Ferry Yoegianto</p>
<p>Nama Ibu                            : Kartika Christyaningrum</p>
<p>Nama Istri                           : Sandiani Arief</p>
<p>Nama Anak                         : Richard Heinrich Setiawan, Richelle Hillary Setiawan &amp; Russel Howard Setiawan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali Emas Olimpiade Beijing  2008 (/Markis Kido)</p>
<p>Medali emas Asian Games 2010 (/Markis Kido)</p>
<p>Medali emas Asian Games 2014 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Medali emas SEA Games 2005, 2007 &amp; 2009 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2007 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2013, 2015, 2019 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Invitasi Piala Dunia 2006 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Kejuaraan Asia 2005 &amp; 2009 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara BWF Super Series Finals  2013 &amp; 2015 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara BWF World Tour Final 2019 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara All England 2014 &amp; 2019 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Indonesia Open 2005 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Indonesia Open SSP 2013 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara China Open 2006 &amp; 2007 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Hongkong Open 2006 &amp; Hongkong Open SS 2007 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Hongkong Open SS 2014 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Malaysia Open 2008 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Malaysia Open SS 2013 &amp; Malaysia Open SSP 2015 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Singapore Open SS 2012 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Singapore Open SS 2013 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Singapore Open 2018 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Malaysia International Challenge 2018 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 300 &#8211; New Zealand Open 2019 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Japan Open SS 2009 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Japan Open SS 2013 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Juara Denmark Open SS 2008 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Perancis Open SS 2008 &amp; 2009 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara China Masters SS 2008 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Australian Open GPG 2012 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Malaysia Grand Prix Gold 2010 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Chinese Taipei Open 2007 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Thailand Masters GPG 2016 (/Mohammad Ahsan)</p>
<p>Indonesia Junior 2001 &amp; 2002 (/Joko Riyadi)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3798</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Mohammad Ahsan</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3795</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3795#respond</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2021 00:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3795</guid>
		<description><![CDATA[Sektor ganda putra Indonesia selalu melahirkan legenda-legenda baru dari berbagai era. Mohammad Ahsan, merupakan salah seorang pebulutangkis ganda putra Indonesia yang mampu bertahta sebagai juara dunia dan juara All England. Mohammad Ahsan lahir di Palembang tanggal 7 September 1987. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Tumin Atmadi dan Siti Rohana. Ia memiliki dua orang kakak [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/06/IMG_7463.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1231" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/06/IMG_7463-300x200.jpg" alt="IMG_7463" width="300" height="200" /></a>Sektor ganda putra Indonesia selalu melahirkan legenda-legenda baru dari berbagai era. Mohammad Ahsan, merupakan salah seorang pebulutangkis ganda putra Indonesia yang mampu bertahta sebagai juara dunia dan juara All England.</p>
<p>Mohammad Ahsan lahir di Palembang tanggal 7 September 1987. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Tumin Atmadi dan Siti Rohana. Ia memiliki dua orang kakak bernama Nisa Tartiela dan M. Askyuru. Kakaknya M. Askyuru sempat menekuni olahraga bulutangkis juga meskipun prestasinya sebatas prestasi domestik.</p>
<p>Berawal dari menonton pertandingan bulutangkis, Ahsan kecil mulai bercita-cita menjadi pemain bulutangkis. Ia mulai berlatih di klub Sekanak, Palembang. Untuk mengembangkan kemampuannya Ahsan dan kakaknya pindah ke Jakarta. Tahun 2005, ia berhasil meraih gelar juara Milo Indonesia Open Junior berpasangan dengan Bona Septano. Salah satu catatan penting dalam karirnya adalah tahun 2007 dimana ia bergabung dengan klub ternama PB Djarum Kudus.</p>
<p>Prestasi Ahsan bersama Bona sebenarnya cukup baik, diantaranya juara Philipine Open GPG 2009, Vietnam Open GP 2010, India Open GP 2010, dan Indonesia GPG 2010-2011. Pasangan ini juga berhasil meraih medali emas SEA Games 2011 setelah mengalahkan peraih emas Olimpiade 2008 Markis Kido/Hendra Setiawan di babak final.</p>
<p>Dengan pasangan berbeda, Ahsan juga meraih medali perunggu Asian Games 2010. Ketika itu ia berpasangan dengan Alvent Yulianto kalah dari pasangan Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong di babak semifinal. Pasangan Malaysia tersebut dapat dijegal pasangan Indonesia lainnya Markis Kido/Hendra Setiawan pada perebutan  medali emas.</p>
<p>Kiprah Ahsan bersama Bona sendiri mengalami kegagalan saat menjadi wakil Indonesia di Olimpiade London 2012. Meraka kalah di babak perempat final dari pasangan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae. Setelah itu, tim pelatih Pelatnas memanggil kembali Hendra Setiawan yang saat itu sempat bermain secara profesional di luar Pelatnas. Kemudian Ahsan dipasangkan dengan Hendra. Ahsan dan Bona resmi bercerai sebagai pasangan ganda.</p>
<p>Kiprah awal Ahsan/Hendra di penghujung tahun 2012 terbilang menjanjikan prestasi. Mereka menembus babak semifinal Denmark Open SSP sebelum dijegal pasangan Korea Yoo Yeon Seong/Shin Baek Cheol.</p>
<p>Barulah tahun 2013, Ahsan/Hendra menjadi pasangan yang fenomenal. Gelar bergengsi sebagai juara dunia berhasil diraihnya di diadakan di Tianhe Indoor Stadium, Guangzhou, China. Di babak final, mereka menumbangkan pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen, 21-13, 23-21. Disamping itu, mereka menjuarai Malaysia Open SS, Indonesia Open SSP, Singapore Open SSP dan Jepang Open SS. Menjadi pasangan peringkat satu dunia pun berhasil mereka raih. Namun pasangan ini terjegal di turnamen bergengsi lainnya All England setelah dikalahkan pasangan Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan di babak semifinal.</p>
<p>Tahun berikutnya (2014), gelar bergengsi All England diperoleh dalam genggaman. Di babak final, Ahsan/Hendra menundukkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, 21-19 dan 21-19. Kemenangan ini sekaligus mengobati kerinduan Indonesia meraih gelar ganda putra All England selama 11 tahun. Sebelumnya, pasangan terakhir yang menjadi juara All England adalah Candra Wijaya/Sigit Budiarto tahun 2003.</p>
<p>Di tahun ini pula, Ahsan/Hendra merebut medali emas Asian Games di Incheon, Korea Selatan. Terlebih istimewa karena mengalahkan ganda terkuat tuan rumah Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong, 21-16, 16-21 dan 21-17.</p>
<p>Ahsan/Hendra juga menjadi penyelamat Indonesia sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia tahun 2015. Mereka menyumbangkan satu-satunya gelar juara bagi publik Istora setelah mengalahkan pasangan Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan, 21-17 dan 21-14. Ahsan/Hendra juga menjuarai turnamen bergengsi penutup tahun BWF Superseries Final 2015.</p>
<p>Sayangnya, penampilan Ahsan/Hendra justru tidak mencapai puncak di Olimpiade Rio De Janeiro, Brazil 2016. Duet yang diharapkan meraih medali ini malah tersingkir di babak penyisihan grup setelah mengalami dua kali kekalahan. Mereka kalah dari Chai Biao/Hong Wei (Tiongkok), 15-21, 17-21 dan dari Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang), 17-21, 21-16, 14-21. Kekalahan dari Endo/Hayakawa merupakan hal yang tak diduga karena Ahsan/Hendra selalu menang dalam sembilan pertemuan sebelumnya.</p>
<p>Selepas Olimpiade 2016, Ahsan/Hendra masih sempat berduet di dua turnamen, Japan Open dan Korea Open. Mereka terhenti di babak semifinal Japan Open setelah kalah dari Li Jun Hui/Li Yu Chen (Tiongkok). Sedangkan di Korea Open, sudah harus angkat koper di babak perempat final.</p>
<p>Kemudian Ahsan dicoba berpasangan dengan Berry Anggriawan. Kiprah Ahsan/Berry kurang memuaskan. Pasangan ini langsung kalah di babak pertama Denmark Open 2016 dari pasangan Korea Choi Solgyu/Kim Gi Jung, 21-23, 12-21. Di turnamen berikutnya French Open 2016, Ahsan/Berry kalah dari rekannya Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi, 13-21, 21-14 dan 18-21.</p>
<p>Ahsan kembali dicoba dengan pasangan yang berbeda, Rian Agung Saputro. Setelah kalah di babak pertama China Open 2016, Ahsan/Rian berhasil menembus babak semifinal Hong Kong Open 2016. Tim pelatih Pelatnas akhirnya memilih Rian sebagai pasangan tetap Ahsan.</p>
<p>Memulai tur tahun 2017, Ahsan/Rian diturunkan di turnamen level yang lebih rendah, China International Challenge. Di turnamen ini Ahsan/Rian berhasil meraih gelar juara setelah mengalahkan Potieng Trawut/Yordphaisong Nanthakarn (Thailand), 8-11, 11-7, 11-4, 11-7. Sistem poin pada turnamen ini berbeda dari turnamen yang levelnya lebih tinggi sebagai uji coba sistem skor oleh BWF.</p>
<p>Sepanjang 2017, Ahsan/Rian mengikuti 12 turnamen internasional. Meskipun sebagian besar kurang memuaskan tetapi mereka membuat kejutan di Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia. Mereka berhasil menembus babak final setelah mengalahkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang), 21-12, 21-15. Namun Ahsan/Rian harus puas dengan medali perak setelah kalah dari Liu Cheng/Zhang Nan (Tiongkok), 10-21, 17-21. Prestasi lainnya yang dicetak Ahsan/Rian adalah semifinalis China Open Superseries Premier 2017.</p>
<p>Penghujung tahun 2017, Ahsan berduet kembali bersama Hendra di ajang Kejurnas yang berlangsung di Pangkal Pinang. Pasangan ini berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Frengky Wijaya Putra/Sabar Karyaman Gutama, 21-13, 21-17. Dengan hasil ini, Hendra berhak mendapatkan posisi di Pelatnas dengan status magang setelah sebelumnya sempat mundur dan menjalani karir secara profesional dengan menggandeng pemain Malaysia Tan Boon Heong.</p>
<p>Meskipun Hendra kembali ke Pelatnas tetapi tidak langsung dipasangkan dengan Ahsan karena Ahsan dicoba dulu berpasangan dengan Angga Pratama. Namun penampilan perdana Ahsan/Angga di BWF World Tour Super 500 – Indonesia Masters 2018 langsung tumbang di babak pertama.</p>
<p>Bersatunya kembali Ahsan/Hendra di arena Internasional terwujud di BWF World Tour Super 500 –India Open 2018. Kiprah mereka langsung mencapai babak semifinal sebelumnya dikalahkan juniornya sekaligus pasangan nomor satu dunia Kevin sanjaya/Marcus Fernaldi Giideon.</p>
<p>Pasangan Ahsan/Hendra yang sama-sama sudah menjadi ayah ini kerap dijuluki the Daddies baik oleh penggemar maupun media. Daddies mulai menemukan kekompakannya kembali. Mereka mampu meraih dua gelar juara di tahun 2018 yakni di Malaysia International Challenge dan BWF World Tour Super 500-Singapore Open. Daddies membuat prestasi cukup stabil di jajaran atas. Lima kali mereka meraih hasil sebagai semifinalis. Selain di India Open, mereka juga meraih empat besar di German Open, Denmark Open, Fuzhou China Open, Hong Kong Open. Peringkat mereka yang sempat berada pada urutan ke-162 dunia pada tanggal 8 Februari 2018 naik drastis menjadi ke-9 dunia pada tanggal 27 Desember 2018.</p>
<p>Menjelang tur tahun 2019, Daddies memutuskan untuk mundur dari status pemain Pelatnas. Mereka menjalani tur dengan profesional atau biaya sendiri. Namun Daddies tetap berlatih di Pelatnas serta ditangani pelatih Pelatnas. Kebangkitan Daddies semakin terlihat di sepanjang tahun 2019. Mereka mampu meraih tiga gelar bergengsi sekaligus dalam satu tahun yakni Kejuaraan Dunia, All England dan BWF World Tour Final.</p>
<p>Di All England 2019, Daddies menjadi juara setelah mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/ Wooi Yik Soh, 11-21, 21-14 dan 21-12. Untuk ketiga kalinya Daddies merengkuh gelar juara setelah memenangkan Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Basel, Swiss. Mereka menumbangkan Takuro Hoki/ Yugo Kobayashi (Jepang), 25-23, 9-21, 21-15. Daddies menutup tahun dengan gelar BWF World Tour setelah mengalahkan Yuta Watanabe/Hiroyuki Endo, 24-22, 21-19.</p>
<p>Selain itu, Daddies juga meraih posisi runner up di turnamen Indonesia Masters, Singapore Open, Indonesia Open, Japan Open, China Open, Denmark Open dan Hong Kong Open. Mereka kalah dari Kevin/Marcus pada lima dari tujuh kekalahan di final. Pencapaian prestasi yang fenomenal di tahun 2019 telah mengangkat peringkat menjadi kedua dunia dibawah juniornya Kevin/Marcus sejak bulan Agustus 2019.</p>
<p>Sebelum turnamen dihentikan karena pandemi Covid-19, Daddies sempat mengikuti tiga turnamen di tahun 2020. Indonesia Masters 2020 menjadi hasil terbaiknya dengan mencapai babak final. Namun lagi-lagi, Daddies kalah dalam hal kecepatan dari Kevin/Marcus yang lebih muda. Mereka kalah dengan skor 15-21, 16-21. Sedangkan di turnamen lainnya, Daddies terhenti di babak semifinal Malaysia Masters dan perempat final All England. Namun Daddies tetap kokoh di peringkat dua dunia.</p>
<p>Dari luar lapangan, Ahsan melepas masa lajangnya tanggal 24 Maret 2013. Ia menikahi kekasihnya yang bernama Christinne Novitania. Dari pernikahannya, Ahsan sudah dikaruniahi dua orang anak. Yang tertua, seorang putra bernama Chayra Maritza Ahsan yang lahir tanggal 3 Januari 2014. Menyusul kemudian seorang putra bernama King Arsakha Ahsan yang lahir tanggal 12 Juni 2015.</p>
<div id="attachment_3609" style="width: 1034px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2019/08/PBSI_World-Champhionships-2019_2408_Podium-MD-Hendra_Ahsan-8.jpg"><img class="wp-image-3609 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2019/08/PBSI_World-Champhionships-2019_2408_Podium-MD-Hendra_Ahsan-8-1024x684.jpg" alt="PBSI_World Champhionships 2019_2408_Podium MD Hendra_Ahsan-8" width="1024" height="684" /></a><p class="wp-caption-text">Ahsan (kanan), Saat Juara Dunia 2019</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Profil</p>
<p>Nama                                    : Mohammad Ahsan</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 7 September 1987</p>
<p>Tempat Lahir                      : Palembang</p>
<p>Nama Ayah                         : Tumin Atmadi</p>
<p>Nama Ibu                            : Siti Rohana</p>
<p>Nama Saudara                   : Nisa Tartiela &amp; M. Askyuru</p>
<p>Nama Istri                           : Christinne Novitania</p>
<p>Nama Anak                         : Chayra Maritza Ahsan &amp; King Arsakha Ahsan</p>
<p>Pegangan Raket : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prestasi :</p>
<p>Juara Dunia (BWF World Championships) 2013, 2015, 2019 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Runner up BWF World Championships 2017 (/Rian Agung Saputro)</p>
<p>Juara BWF World Superseries Final 2013 &amp;2015 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara BWF World Tour Finals 2019</p>
<p>Medali emas Asian Games 2014 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Medali Perunggu Asian Games 2010 (/Alvent Yulianto)</p>
<p>Juara All England 2014 &amp; 2019 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Indonesia Open SSP 2013 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Malaysia Open 2013 &amp; 2015 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Singapore Open 2013 &amp; 2018 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Jepang Terbuka 2013 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Hong Kong Open 2014 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Thailand Masters GPG 2016 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara New Zealand Open 2019 (.Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara Malaysia International Challenge 2018 (/Hendra Setiawan)</p>
<p>Juara China International Challenge 2017 (/Rian Agung Saputro)</p>
<p>Medali Emas SEA Games 2011 (/Bona Septano)</p>
<p>Juara Indonesia GPG 2010 &amp; 2011 (/Bona Septano)</p>
<p>Juara India Open GP 2010 (/Bona Septano)</p>
<p>Juara Vietnam Open GP 2010 (/Bona Septano)</p>
<p>Juara Philipine Open GPG 2009 (/Bona Septano)</p>
<p>Juara Vietnam Satelitte 2007 (/Bona Septano)</p>
<p>Juara Junior Indonesia Open 2005 (/Bona Septano)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3795</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Tontowi Ahmad</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3793</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3793#respond</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2021 09:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3793</guid>
		<description><![CDATA[Gelar- gelar perorangan bergengsi berhasil disabet Tontowi Ahmad. Di turnamen tertua di dunia All England, ia berhasil mencetak hattrick. Juara Dunia dan emas Olimpiade yang  merupakan puncak impian atlet bulutangkis, juga berhasil dicapai. Tontowi Ahmad lahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 18 Juli 1987 merupakan anak laki-laki pasangan Muhammad Husni Muzaitun dan Masruroh. Tontowi yang akrab [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/08/tontowi-bertahan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1728" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/08/tontowi-bertahan-300x202.jpg" alt="tontowi bertahan" width="300" height="202" /></a>Gelar- gelar perorangan bergengsi berhasil disabet Tontowi Ahmad. Di turnamen tertua di dunia All England, ia berhasil mencetak hattrick. Juara Dunia dan emas Olimpiade yang  merupakan puncak impian atlet bulutangkis, juga berhasil dicapai.</p>
<p>Tontowi Ahmad lahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 18 Juli 1987 merupakan anak laki-laki pasangan Muhammad Husni Muzaitun dan Masruroh. Tontowi yang akrab dipanggi Owi, mengenal bulutangkis dari ayahnya sekaligus pelatih pertamanya. Untuk melatih anak-anaknya, sang ayah membangun lapangan bulutangkis di belakang Toko Bangunan miliknya.</p>
<p>Owi kecil sebenarnya kurang menyukai bulutangkis, sehingga ayahnya harus mencari cara agar Owi mau berlatih. Ketika SMP, Owi sudah mulai membuat prestasi. Kemudian ia bergabung dengan klub Argo Pantes Tangerang, lalu pindah ke Pusdiklat Gresik. Karir Owi sebagai pebulutangkis hampir tamat. Ia sempat memutuskan untuk meneruskan studi di perguruan tinggi dan berhenti bulutangkis. Penyebabnya karena ia tidak mempunyai pasangan untuk meneruskan karir sebagai pemain ganda.</p>
<p>Saat yang tepat, ia ditawari oleh pelatih ganda PB Djarum, Denny Kantono untuk bergabung di klub yang banyak menghasilkan pemain ganda kelas dunia tersebut. Tidak lama setelah itu, ia pun terpilih menjadi pemain Pelatnas. Prestasinya di sektor ganda campuran mulai terlihat tahun 2007. Ia berpasangan dengan Yulianti berhasil meraih gelar juara Thailand Satelitte, Surabaya Challenge dan Vietnam Open Grand Prix.</p>
<p>Tahun berikutnya, ia mempertahankan gelar juara Vietnam Open, namun kali ini berpasangan dengan Shendy Puspa. Ia juga sempat menjuarai Vietnam Challenge 2009 bersama Richi Puspita Dili.</p>
<p>Tahun 2010, pelatih Pelatnas mengadakan perombakan pasangan. Saat itu pasangan ganda campuran nomor satu Indonesia masih dipegang Nova Widianto/Liliyana Natsir. Nova/Liliyana merupakan pasangan juara dunia dua kali 2005 dan 2007 serta peraih perak Olimpiade Beijing 2008. Namun pelatih mencarikan pasangan yang lebih muda untuk Liliyana Natsir, karena Nova sudah bersiap untuk memasuki masa gantung raket. Tentu saja, pelatih akan mencarikan pelatih yang sepadan untuk Liliyana.</p>
<p>Owi menjadi salah satu kandidat pendamping Liliyana. Ketika itu, masih ada nama pemain-pemain lain seperti Fran Kurniawan, Muhammad Rijal dan Devin Lahardi. Liliyana dicoba dengan Devin Lahardi di turnamen Malaysia Grand Prix Gold 2010 dan berhasil meraih juara. Kemudian baru dengan Tontowi di Macau Open Grand Prix Gold 2010 yang juga meraih juara. Akhirnya diputuskan Tontowi Ahmad sebagai pendamping Liliyana Natsir di lapangan hijau.</p>
<p>Liliyana yang akrab dipanggil Butet dan Owi memulai perjalanan mereka menjadi pasangan ganda campuran legenda. Mereka berhasil meraih gelar keduanya di ajang Indonesia Grand Prix Gold 2010. Owi/Butet mampu mengatasi perlawanan rekannya Markis Kido/Lita Nurlita di babak akhir dengan skor, 21-11, 21-13.</p>
<p>Tahun 2011, pasangan Owi/Butet mulai mengumpulkan berbagai gelar juara. Mereka memenangkan India Open SS setelah menaklukan rekannya Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet, 21-18, 23-21. Lalu, Malaysia Open GPG setelah menundukan andalan tuan rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-15, 21-19. Kemudian, Singapore Open Super Series setelah menghempaskan Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing (Chinese Taipei), 21-14, 27-25 dan Macau Open GPG yang unggul tanpa bertanding atas Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing di babak final. Sedangkan di Kejuaraan Dunia, duet ini terhenti di babak semifinal. Mereka menelan kekalahan dari Chris Adcock/Imogen Bankier (Inggris/Skotlandia), 16-21, 19-21.</p>
<p>Bersama Tontowi, prestasi Liliyana makin mentereng. Ia meraih gelar juara All England tahun 2012 setelah di final mengalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Ryhter Juhl, 21-17 dan 21-19. Ini merupakan penantian selama 33 tahun bagi ganda campuran Indonesia setelah terakhir gelar juara dipersembahkan Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada tahun 1979.</p>
<p>Selepas juara All England, Owi/Butet tidak langsung pulang ke tanah air, melainkan memburu gelar juara di Swiss Open di pekan berikutnya. Owi/Butet mengandaskan asa pasangan Prapakamol/Saralee Thoungthongkam , 21-16, 21-14. Gelar juara lainnya direbut pasangan ini adalah India Open Super Series, Indonesia GPG dan Macau Open GPG.</p>
<p>Kekecewaan mendalam pernah menerpa Liliyana dan Tontowi ketika gagal meraih medali di Olimpiade London 2012. Mereka sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang melaju ke semifinal, harus menderita kekalahan dari Xu Chen/Ma Jin (China). Lalu, mereka gagal meraih medali perunggu setelah kalah dari Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pederden (Denmark) yang menandai terhentinya tradisi medali bagi bulutangkis Indonesia di Olimpiade.</p>
<p>Owi/Butet mampu mempertahankan gelar All England di tahun 2013 dengan mengalahkan lawan yang kuat dari Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei di final, 21-13 dan 21-17. Gelar juara dunia tidak luput dari gengaman Owi/Butet. Mereka berhasil menjadi juara tahun 2013 di kandang macan Guangzhou, Tiongkok. Bahkan mereka mengalahkan dua pasangan tuan rumah yang sangat diunggulkan, Zhang Nan/Zhao Yunlei di semifinal dan Xu Chen/Ma Jin di final. Gelar juara lainnya yang direngkuh tahun 2013 adalah Singapore Open Super Series dan China Open Super Series Premier.</p>
<p>Owi/Butet mencetak hattrick di turnamen All England setelah kembali menjadi juara tahun 2014 dengan mengalahkan lawan yang sama seperti tahun 2013, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Uniknya skornya pun sama seperti tahun sebelumnya yakni, 21-13 dan 21-17. Mereka juga meraih gelar ketiga di arena Singapore Open. Lalu menambah satu gelar lagi di French Open Super Series 2014.</p>
<p>Owi/Butet seolah mengalami paceklik prestasi di tahun 2015 atau setahun menjelang Olimpiade Rio de Janeiro. Pasangan ini sering kali mengalami kekalahan di babak semifinal maupun final. Owi/Butet terhadang di babak semifinal di turnamen Malaysia Open SSP, Singapore Open SS, Australian Open SS, Indonesia Open SS dan Kejuaraan Dunia. Mereka juga harus puas di podium kedua di turnamen All England, Korea Open SS dan Denmark Open SS. Namun Owi/Butet masih mampu meraih gelar juara pada Kejuaraan Asia dan Indonesia Masters GPG.</p>
<p>Memasuki tahun 2016, pencapaian Owi/Butet masih belum membaik. Bahkan mereka sudah kalah di babak perempat final All England setelah selama 4 tahun sebelumnya selalu menembus partai puncak. Owi/Butet sempat menjuarai Malaysia Open SSP. Namun kemudian kalah di semifinal Singapore Open, babak final Kejuaraan Asia, 16 besar Indonesia Open dan babak pertama Australian Open.</p>
<p>Owi/Butet pun memiliki catatan kurang baik bila bertemu pasangan nomor satu dunia saat itu Zhang Nan/Zhao Yunlei. Mereka selalu kalah dari pasangan Tiongkok tersebut sejak pertemuan di final Asian Games 2014.</p>
<p>Tibalah saat yang paling dinantikan, Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro. Meskipun mengalami masa prestasi yang kurang cemerlang, namun Owi/Butet sudah melakukan persiapan dengan berlatih keras termasuk melakukan karantina di kota Kudus. Owi/Butet berhasil mengatasi Zhang Nan/Zhao Yunlei, 21-16, 21-15 di babak semifinal. Kemudian, mereka mengembalikan tradisi medali emas bulutangkis Indonesia setelah mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) di final dengan skor,21-14 dan 21-12. Liliyana merupakan salah satu dari sedikit legenda bulutangkis yang mampu meraih gelar-gelar prestisius All England, Kejuaraan Dunia dan Olimpiade sekaligus.</p>
<p>Selepas Olimpiade, Owi/Butet seperi lepas dari beban berat. Mereka berhasil meraih dua gelar juara berturut-turut China Open SSP dan Hong Kong Open SS dalam dua pekan berturut-turut. Di final China Open, mereka mengalahkan pasangan tuan rumah Zhang Nan/Li Yi Hui, 21-13, 22-24 dan 21-16. Sementara di Hong Kong, mereka unggul atas juniornya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, 21-19 dan 21-17.</p>
<p>Sebagai persiapan bila Butet pensiun dari bulu tangkis, Owi dicoba berpasangan dengan pemain yang lebih muda. Ia ditandemkan dengan Gloria Emmanuelle Wijaya di beberapa turnamen, namun tetap dengan Butet untuk turnamen-turnamen level super series. Owi/Gloria tampil di Malaysia Masters GPG 2020 dengan hasil menembus babak semifinal. Mereka kalah dari pasangan tuan rumah Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai, 17-21, 18-21. Lalu, Owi/Gloria hanya mencapai babak 16 besar di turnamen Swiss Open GPG. Kiprah pasangan ini tidak dilanjutkan lagi dan Owi kembali fokus berpasangan dengan Butet.</p>
<p>Ditengah deraan cedera lutut yang menimpa Butet, mereka masih mampu meraih tiga gelar juara di tahun 2017. Owi/Butet berhasil meraih gelar juara Indonesia Open untuk pertama kali sejak kedua berpasangan. Owi/Butet berhasil mengatasi Zheng Si Wei/Chen Qing Chen (Tiongkok), 22-20, 21-15 di pertandingan akhir. Namun turnamen Indonesia Open ini tidak dilaksanakan di Istora, Senayan melainkan di Jakarta Convention Centre terkait renovasi Istora untuk persiapan Asian Games.</p>
<p>Lalu, mereka sukses merebut kembali gelar juara dunia. Owi/Butet kembali berhasil mengatasi Zheng Si Wei/Chen Qing Chen dengan, 15-21, 21-16 dan 21-15. Owi/Butet berhasil menambah satu gelar superseries di French Open. Mereka kembali unggul atas Zheng Si Wei/Chen Qing Chen, 22-20, 21-15 di babak final.</p>
<p>Setelah mendapat stigma selalu gagal di turnamen Indonesia Open yang berlangsung di Istora, akhirnya Owi/Butet berhasil menembusnya. Mereka berhasil menjadi Indonesia Open 2018 yang dilaksanakan di Istora. Hasil ini diperoleh setelah mengalahkan Chang Peng Soon/Goh Li Ying, 21-17, 21-8 di babak final.</p>
<p>Namun niat Owi/Butet untuk melengkapi prestasinya dengan medali emas Asian Games, gagal terlaksana. Mereka harus puas meraih medali perunggu setelah kalah di babak semifinal dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 13-21 dan 18-21.</p>
<p>Tibalah waktu perpisahan Owi dan Butet. Pasangan ini tampil dalam pertandingan terakhirnya di Indonesia Masters 2019. Owi/Butet berhasil menembus babak final turnamen ini. Mereka harus puas menaiki podium kedua setelah kalah dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 19-21, 16-21. Sebelum acara final, dilangsungkan sebuah persembahan perpisahan dalam acara Liliyana Natsir’s Farewell Event dengan tema #Thank You Butet.</p>
<p>Sepekan sebelum Indonesia Masters 2019, Owi sempat dicoba dengan Debby Susanto namun hanya mencapai babak kedua. Setelah Indonesia Masters 2019, Owi mendapat pasangan baru yakni Winny Oktavina Kandow. Penampialn Owi/Winny di Spain Barcelona Masters 2019, menembus hingga perempat final. Demikian pula di All England 2019, India Open 2019, Malaysia Open 2019, Indonesia Open 2019, Chinese Taipei Open 2019 dan China Open 2019. Selebihnya kalah sebelum babak 8 besar.</p>
<p>Prestasi selama setahun bersama Winny kurang memuaskan buat seorang Owi. Ia mencoba berganti pasangan. Apriyani Rahayu yang merupakan pemain ganda putri terbaik Indonesia bersama Greysia Polii, menjadi pilihan Owi. Namun pasangan Owi/Apri tidak memiliki peringkat yang cukup sehingga harus melalui tahapan babak kualifikasi. Owi/Apri pun hanya sempat bertanding satu turnamen di Indonesia Masters 2020. Pasangan ini mengalami kekalahan di babak 16 besar dari pasangan suami istri Chris Adcock/Gabrielle Adcock, 9-21, 12-21.</p>
<p>Tanggal 18 Mei 2020, Owi mengunggah pengumuman pensiunnya melalui akun instagram miliknya.  Sebelumnya, ia terlebih dahulu mengirimkan surat pengunduran dirinya ke Pelatnas PBSI. Dalam unggahannya, Owi juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung karirnya di bulu tangkis.</p>
<p>Dari luar lapangan, Owi telah membangun keluarga kecilnya sendiri. Ia menikahi kekasihnya yang bernama Michelle Nabila Harminc tanggal 2 Agustus 2014. Uniknya resepsi pernikahannya baru dilaksanakan tanggal 18 Januari 2015 di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah. Dari pernikahannya, Owi telah memiliki dua buah hatinya yang bernama Danish Arsenio Ahmad dan Arsya Alfarezel Ahmad. Danish lahir tanggal 29 April 2015 di RS Pondok Indah, Jakarta. Sedangkan Arsya lahir tanggal 19 Januari 2018 juga di Rumah sakit Pondok Indah, Jakarta.</p>
<p><strong><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/04/20150402PBSI_MOSSP_TontowiLiliyana4.jpg"><img class="aligncenter wp-image-222 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/04/20150402PBSI_MOSSP_TontowiLiliyana4-1024x683.jpg" alt="20150402PBSI_MOSSP_TontowiLiliyana4" width="1024" height="683" /></a></strong></p>
<p><strong>Profil</strong></p>
<p>Nama                                                    : Tontowi Ahmad</p>
<p>Tanggal Lahir                                      : 18 Juli 1987</p>
<p>Tempat Lahir                                      : Banyumas</p>
<p>Nama Ayah                                         : Muhammad Husni Muzaitun</p>
<p>Nama Ibu                                            : Masruroh</p>
<p>Nama Saudara                                   : Maria Uswatun Hasanah &amp; Yahya Hasan</p>
<p>Nama Istri                                           : Michelle Nabila Harminc</p>
<p>Nama Anak                                         : Danish Arsenio Ahmad &amp; Arsya Alfarezel Ahmad</p>
<p>Pegangan Raket                                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara BWF World Championships 2013 &amp; 2017 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara All England Open Superseries Premier 2012, 2013 &amp; 2014 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Indonesia Open SSP 2017 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2018(/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Asia Championships 2015 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara China Open SSP 2013 &amp; 2016 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara French Open Superseries 2014, 2017 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Hong Kong Open SS 2016 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Singapore Open Super Series 2011, 2013, 2014 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara India Open SS 2011, 2012, 2013 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Indonesia GPG 2010, 2012, 2015 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Swiss Open GPG 2012 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Macau Open GPG 2010, 2011, 2012 (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Malaysia GPG (/Liliyana Natsir)</p>
<p>Juara Vietnam Chalenge 2009 (/Richi Puspita Dili)</p>
<p>Juara Vietnam Open GP 2008 (/Shendy Puspa)</p>
<p>Juara Thailand Satelitte 2007 (/Yulianti)</p>
<p>Juara Surabaya Challenge 2007 (/Yulianti)</p>
<p>Juara GP Vietnam Terbuka 2007 (/Yulianti)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3793</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Liliyana Natsir</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3789</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3789#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2021 23:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3789</guid>
		<description><![CDATA[Sederet prestasi di capai Liliyana Natsir dalam perjalanan karirnya di dunia bulutangkis. Ia berhasil menyabet gelar juara dunia tahun 2005 dan 2007 bersama Nova Widianto serta tahun 2013 dan 2017 bersama Tontowi Ahmad. Liliyana juga meraih gelar bergengsi All England tiga kali berturut-turut tahun 2012, 2013 dan 2014 bersama Tontowi Ahmad. Bahkan puncak mencapai prestasi [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-12-at-06.11.22.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3790" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-12-at-06.11.22-300x200.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-12 at 06.11.22" width="300" height="200" /></a>Sederet prestasi di capai Liliyana Natsir dalam perjalanan karirnya di dunia bulutangkis. Ia berhasil menyabet gelar juara dunia tahun 2005 dan 2007 bersama Nova Widianto serta tahun 2013 dan 2017 bersama Tontowi Ahmad. Liliyana juga meraih gelar bergengsi All England tiga kali berturut-turut tahun 2012, 2013 dan 2014 bersama Tontowi Ahmad. Bahkan puncak mencapai prestasi tertinggi, medali emas Olimpiade pada tahun 2016 di Rio de Janeiro, Brazil. Pemain yang akrab dipanggil Butet ini, mampu juga berprestasi di sektor ganda putri.</p>
<p>Liliyana Natsir lahir di Manado Sulawesi Utara tanggal 9 September 1985, bertepatan dengan hari olahraga nasional. Ia merupakan anak dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis. Liliyana memulai latihan bulutangkis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia tergabung dalam klub Pisok, Manado. Tahun 1997, Liliyana pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan klub Tangkas. Ia pun mulai menunjukan prestasi di level nasional.</p>
<p>Tahun 2002, ia terpilih masuk ke Pelatnas Cipayung. Bakatnya di nomor ganda campuran sudah langsung terlihat. Bersama Markis Kido, ia menjuarai Kejuaraan Asia Junior dan Indonesia Open Junior.</p>
<p>Kemudian Liliyana difokuskan di sektor ganda putri. Ia sempat berganti-ganti pasangan ketika awal karirnya bergabung di Pelatnas antara lain dengan Eny Erlangga, Rintan Apriliana, Nathalia Poluakan dan Greysia Polii hingga pertengahan tahun 2014.</p>
<p>Setelah itu, ia dipindahkan ke sektor ganda campuran Liliyana ditunjuk untuk menggantikan Vita Marissa sebagai pasangan Nova Widianto. Penyebabnya Vita Marissa mengalami cedera bahu. Saat itu Liliyana Natsir masih sangat muda, berusia 19 tahun. Perbedaan usia 8 tahun dengan Nova Widianto, tidak membuat kaku permainan mereka. Bahkan di tahun yang sama Nova/Liliyana sudah meraih gelar juara Singapore Open. Di partai puncak Nova/Liliyana menaklukkan pasangan Koo Kean Keat/Wong Pei Tty dari Malaysia.</p>
<p>Gelar prestisius berhasil dipersembahkan Nova/Liliyana di ajang Kejuaraan Dunia 2005 yang berlangsung di Ahahem, Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka memenangkan partai final atas andalan China, Xie Xongbo/Zhang Yawen. Gelar tersebut semakin lengkap dengan kemenangan di ajang bergengsi tanah air, Indonesia Open serta Kejuaraan Asia. Nova/Liliyana pun menjelma sebagai salah satu pasangan terbaik dunia dengan berbagai gelar juara yang berhasil mereka persembahkan.</p>
<p>Liliyana bersama Nova memenangkan kembali gelar juara Singapore Open di tahun 2006. Disusul dengan gelar juara Chinese Taipei Open dan Korea Open. Pasangan ini juga meraih gelar salah satu bergengsi saat itu, Invitasi Piala Dunia 2006.</p>
<p>Tahun 2007, Nova/Liliyana kembali mengukuhkan diri sebagai juara dunia. Mereka berhasil menuntaskan perlawanan andalan China, Zheng Bo/Gao Ling di pertandingan akhir. Nova/Liliyana juga melengkapi gelar juara nya dengan kemenangan di Philipine Open, China Open dan Hong Kong Open. Selain itu, Liliyana juga tampil cukup baik ketika turun di nomor ganda putri. Ia yang berpasangan dengan Vita Marissa, mampu meraih emas SEA Games dan juara China Master Super Series 2007. Bahkan Liliyana/Vita memenangkan Indonesia Open Super Series 2008 setelah mengalahkan Miyuki Maeda/Satako Suetsuna dari Jepang di babak final.</p>
<p>Harapan besar tertumpu kepada Nova/Liliyana untuk meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Asa itu semakin besar setelah mereka menuntaskan perlawanan andalan tuan rumah He Hanbing/Yu Yang dengan 15-21, 21-11 dan 23-21 di babak semifinal. Namun akhirnya mereka harus puas dengan medali perak setelah kalah 11-21, 17-21 dari pasangan Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo jung.</p>
<p>Selepas Olimpiade, pasangan ini masih mempersembahkan gelar juara diantaranya juara Malaysia Open 2009, French Open 2009 dan medali emas SEA Games 2009.  Tahun berikutnya, pelatih ganda campuran Pelatnas memutuskan  untuk memisahkan Nova dengan Liliyana. Liliyana perlu dicarikan pasangan yang lebih muda.</p>
<p>Terdapat tiga kandidat pengganti Nova sebagai pasangan Liliyana yakni Tontowi Ahmad, Devin Lahardi dan Muhammad Rijal. Liliyana disempat dicoba dengan Devin di turnamen Malaysia GPG 2010 dan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan pasangan Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam dari Thailand, 13-21, 21-16, 21-17 di babak final. Demikian pula ketika di coba dengan Tontowi Ahmad di Macau Open GPG 2010 pun menjadi juara setelah unggul atas rekannya Nova Widianto/Vita Marissa, 21-14, 21-18 di partai puncak. Akhirnya sang pelatih Richard Mainaky memutuskan Tontowi Ahmad menjadi tandem baru Liliyana.</p>
<p>Liliyana yang akrab dipanggil Butet dan Tontowi yang sering dipanggil Owi memulai perjalanan mereka menjadi pasangan ganda campuran legenda. Mereka berhasil meraih gelar keduanya di ajang Indonesia Grand Prix Gold 2010. Owi/Butet mampu mengatasi perlawanan rekannya Markis Kido/Lita Nurlita di babak akhir dengan skor, 21-11, 21-13.</p>
<p>Tahun 2011, pasangan Owi/Butet mulai mengumpulkan berbagai gelar juara. Mereka memenangkan India Open SS setelah menaklukan rekannya Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet, 21-18, 23-21. Lalu, Malaysia Open GPG setelah menundukan andalan tuan rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-15, 21-19. Kemudian, Singapore Open Super Series setelah menghempaskan Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing (Chinese Taipei), 21-14, 27-25 dan Macau Open GPG yang unggul tanpa bertanding atas Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing di babak final. Sedangkan di Kejuaraan Dunia, duet ini terhenti di babak semifinal. Mereka menelan kekalahan dari Chris Adcock/Imogen Bankier (Inggris/Skotlandia), 16-21, 19-21.</p>
<p>Bersama Tontowi, prestasi Liliyana makin mentereng. Ia meraih gelar juara All England tahun 2012 setelah di final mengalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Ryhter Juhl, 21-17 dan 21-19. Ini merupakan penantian selama 33 tahun bagi ganda campuran Indonesia setelah terakhir gelar juara dipersembahkan Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada tahun 1979.</p>
<p>Selepas juara All England, Owi/Butet tidak langsung pulang ke tanah air, melainkan memburu gelar juara di Swiss Open di pekan berikutnya. Owi/Butet mengandaskan asa pasangan Prapakamol/Saralee Thoungthongkam , 21-16, 21-14. Gelar juara lainnya direbut pasangan ini adalah India Open Super Series, Indonesia GPG dan Macau Open GPG.</p>
<p>Kekecewaan mendalam pernah menerpa Liliyana dan Tontowi ketika gagal meraih medali di Olimpiade London 2012. Mereka sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang melaju ke semifinal, harus menderita kekalahan dari Xu Chen/Ma Jin (China). Lalu, mereka gagal meraih medali perunggu setelah kalah dari Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pederden (Denmark) yang menandai terhentinya tradisi medali bagi bulutangkis Indonesia di Olimpiade.</p>
<p>Owi/Butet mampu mempertahankan gelar All England di tahun 2013 dengan mengalahkan lawan yang kuat dari Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei di final, 21-13 dan 21-17. Gelar juara dunia tidak luput dari gengaman Owi/Butet. Mereka berhasil menjadi juara tahun 2013 di kandang macan Guangzhou, Tiongkok. Bahkan mereka mengalahkan dua pasangan tuan rumah yang sangat diunggulkan, Zhang Nan/Zhao Yunlei di semifinal dan Xu Chen/Ma Jin di final. Gelar juara lainnya yang direngkuh tahun 2013 adalah Singapore Open Super Series dan China Open Super Series Premier.</p>
<p>Owi/Butet mencetak hattrick di turnamen All England setelah kembali menjadi juara tahun 2014 dengan mengalahkan lawan yang sama seperti tahun 2013, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Uniknya skornya pun sama seperti tahun sebelumnya yakni, 21-13 dan 21-17. Mereka juga meraih gelar ketiga di arena Singapore Open. Lalu menambah satu gelar lagi di French Open Super Series 2014.</p>
<p>Owi/Butet seolah mengalami paceklik prestasi di tahun 2015 atau setahun menjelang Olimpiade Rio de Janeiro. Pasangan ini sering kali mengalami kekalahan di babak semifinal maupun final. Owi/Butet terhadang di babak semifinal di turnamen Malaysia Open SSP, Singapore Open SS, Australian Open SS, Indonesia Open SS dan Kejuaraan Dunia. Mereka juga harus puas di podium kedua di turnamen All England, Korea Open SS dan Denmark Open SS. Namun Owi/Butet masih mampu meraih gelar juara pada Kejuaraan Asia dan Indonesia Masters GPG.</p>
<p>Memasuki tahun 2016, pencapaian Owi/Butet masih belum membaik. Bahkan mereka sudah kalah di babak perempat final All England setelah selama 4 tahun sebelumnya selalu menembus partai puncak. Owi/Butet sempat menjuarai Malaysia Open SSP. Namun kemudian kalah di semifinal Singapore Open, babak final Kejuaraan Asia, 16 besar Indonesia Open dan babak pertama Australian Open.</p>
<p>Owi/Butet pun memiliki catatan kurang baik bila bertemu pasangan nomor satu dunia saat itu Zhang Nan/Zhao Yunlei. Mereka selalu kalah dari pasangan Tiongkok tersebut sejak pertemuan di final Asian Games 2014.</p>
<p>Tibalah saat yang paling dinantikan, Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro. Meskipun mengalami masa prestasi yang kurang cemerlang, namun Owi/Butet sudah melakukan persiapan dengan berlatih keras termasuk melakukan karantina di kota Kudus. Owi/Butet berhasil mengatasi Zhang Nan/Zhao Yunlei, 21-16, 21-15 di babak semifinal. Kemudian, mereka mengembalikan tradisi medali emas bulutangkis Indonesia setelah mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) di final dengan skor,21-14 dan 21-12. Liliyana merupakan salah satu dari sedikit legenda bulutangkis yang mampu meraih gelar-gelar prestisius All England, Kejuaraan Dunia dan Olimpiade sekaligus.</p>
<p>Selepas Olimpiade, Owi/Butet seperi lepas dari beban berat. Mereka berhasil meraih dua gelar juara berturut-turut China Open SSP dan Hong Kong Open SS dalam dua pekan berturut-turut. Di final China Open, mereka mengalahkan pasangan tuan rumah Zhang Nan/Li Yi Hui, 21-13, 22-24 dan 21-16. Sementara di Hong Kong, mereka unggul atas juniornya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, 21-19 dan 21-17.</p>
<p>Ditengah deraan cedera lutut, Liliyana masih mampu meraih tiga gelar juara di tahun 2017. Liliyana bersama Tontowi, berhasil meraih gelar juara Indonesia Open untuk pertama kali sejak kedua berpasangan. Owi/Butet berhasil mengatasi Zheng Si Wei/Chen Qing Chen (Tiongkok), 22-20, 21-15 di pertandingan akhir. Namun turnamen Indonesia Open ini tidak dilaksanakan di Istora, Senayan melainkan di Jakarta Convention Centre terkait renovasi Istora untuk persiapan Asian Games.</p>
<p>Lalu, mereka sukses merebut kembali gelar juara dunia. Owi/Butet kembali berhasil mengatasi Zheng Si Wei/Chen Qing Chen dengan, 15-21, 21-16 dan 21-15. Owi/Butet berhasil menambah satu gelar superseries di French Open. Mereka kembali unggul atas Zheng Si Wei/Chen Qing Chen, 22-20, 21-15 di babak final.</p>
<p>Setelah mendapat stigma selalu gagal di turnamen Indonesia Open yang berlangsung di Istora, akhirnya Owi/Butet berhasil menembusnya. Mereka berhasil menjadi Indonesia Open 2018 yang dilaksanakan di Istora. Hasil ini diperoleh setelah mengalahkan Chang Peng Soon/Goh Li Ying, 21-17, 21-8 di babak final.</p>
<p>Namun niat Owi/Butet untuk melengkapi prestasinya dengan medali emas Asian Games, gagal terlaksana. Mereka harus puas meraih medali perunggu setelah kalah di babak semifinal dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 13-21 dan 18-21.</p>
<p>Tibalah waktu perpisahan dengan sang legenda. Liliyana Natsir atau Butet tampil dalam pertandingan terakhirnya di Indonesia Masters 2019. Butet bersama Owi berhasil menembus babak final turnamen ini. Mereka harus puas menaiki podium kedua setelah kalah dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 19-21, 16-21.</p>
<p>Sebelum acara final, dilangsungkan sebuah persembahan perpisahan dalam acara Liliyana Natsir’s Farewell Event dengan tema #Thank You Butet. Tagar tersebut menjadi salah satu trending topik di media sosial pada hari itu. Dalam kesempatan ini tersebut, Butet memberikan motivasi kepada penerusnya.</p>
<p>“Saya akan memberikan kesempatan dengan adik-adik saya untuk menjadi pemenang baru. Saya juga ingin menyampaikan pesan motivasi kepada adik-adik saya, para pemain pemain muda. Kekalahan itu tidak memalukan, yang memalukan itu menyerah,” kata Liliyana.</p>
<p>Dengan bulir-bulir air mata, Butet pun menyatakan keputusannya untuk pensiun.</p>
<p>“Hari ini adalah hari yang berat buat saya. Minggu 27 Januari 2019, saya menyatakan pensiun sebagai atlet bulutangkis,” ucap Butet di depan ribuan penonton yang hadir di Istora Senayan Jakarta.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-12-at-06.11.22-1.jpeg"><img class="aligncenter wp-image-3791 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-12-at-06.11.22-1-1024x683.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-12 at 06.11.22 (1)" width="1024" height="683" /></a></p>
<p><strong>Profil :</strong></p>
<p>Nama                                                                    : Liliyana Natsir</p>
<p>Tempat Lahir                                                      : Manado</p>
<p>Tanggal Lahir                                                      : 9 September 1985</p>
<p>Pegangan Raket                                                 :  Kanan</p>
<p>Nama Bapak                                                       : Beno Natsir</p>
<p>Nama Ibu                                                            : Olly Maramis</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Juara Indonesia Open Junior 2002 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Kejuaraan Asia Junior 2002  (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Singapore Open 2004 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Ganda Putri PON 2004 (/Nathalia Poluakan)</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2005 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Indonesia Open 2005 (/Nova Widianto)</p>
<p>Medali Emas SEA Games 2005 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Kejuaraan Asia 2006 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Singapore Open 2006 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara ChineseTaipei Open 2006 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Korea Open 2006 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara World Cup 2006 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Philipine Open 2007 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2007 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara China Open SS 2007 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Hongkong Open SS 2007 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Ganda Putri China Master SS 2007 (/Vita Marissa)</p>
<p>Medali Ganda Putri Emas SEA Games 2007 (/Vita Marissa)</p>
<p>Juara Swiss Open SS 2008 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Ganda Putri Indonesia Open Super Series 2008 (/Vita Marissa)</p>
<p>Malaysia Open SS 2009 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara French Open SS 2009 (/Nova Widianto)</p>
<p>Medali emas SEA Games 2009 (/Nova Widianto)</p>
<p>Juara Malaysia Open GPG 2010 (/Devin Lahardi)</p>
<p>Juara Macau Open GPG 2010 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Indonesia Open GPG 2010 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara India Open SS 2011 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Malaysia GPG 2011 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Singapore Open SS 2011 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Macau Open GPG 2011 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara All England SSP 2012 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Swiss Open GPG 2012 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara India Open SS 2012 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Semifinalis Olimpiade 2012 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Indonesia Open GPG 2012 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Macau Open GPG 2012 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara All England SSP 2013 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara India Open SS 2013 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Singapore Open SS 2013 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2013 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara China Open SSP 2013 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara All England Open SSP 2014 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Singapore Open Super Series 2014 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara French Open SS 2014 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Kejuaraan Asia 2015 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Indonesia Masters GPG 2015 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Medali emas Olimpiade 2016 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara China Open SSP 2016 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Hong Kong Open SS 2016 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Indonesia Open SSP 2017 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara Kejuaraan Dunia 2017 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara French Open 2017 (/Tontowi Ahmad)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2018</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3789</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Anthony Sinisuka Ginting</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3785</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3785#respond</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2021 23:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3785</guid>
		<description><![CDATA[Anthony Sinisuka Ginting lahir di Cimahi, 20 Oktober 1996 merupakan anak dari pasangan Edison Ginting dan Lucia Sriati. Sesuai dengan nama marga dari ayahnya, ia memiliki darah Karo, sebuah daerah di Sumatera Utara. Perkenalan Ginting dengan olah raga bulutangkis dimulai sejak umur 6 tahun. Ketika itu, ayahnya mengajak Ginting ke tempat bermain bulutangkis sang ayah [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-11-at-06.43.53.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3786" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-11-at-06.43.53-300x200.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-11 at 06.43.53" width="300" height="200" /></a>Anthony Sinisuka Ginting lahir di Cimahi, 20 Oktober 1996 merupakan anak dari pasangan Edison Ginting dan Lucia Sriati. Sesuai dengan nama marga dari ayahnya, ia memiliki darah Karo, sebuah daerah di Sumatera Utara. Perkenalan Ginting dengan olah raga bulutangkis dimulai sejak umur 6 tahun. Ketika itu, ayahnya mengajak Ginting ke tempat bermain bulutangkis sang ayah dan teman-teman kantornya. Di tempat tersebut terdapat juga klub bulutangkis, sehingga Ginting kecil ikut klub tersebut.</p>
<p>Bakat Ginting sudah terlihat sejak dini. Di usia 8 tahun, ia sudah mampu menjadi juara ketiga di Kejuaraan tingkat kota Bandung. Tahun 2007, Ia bergabung ke klub SGS PLN Bandung dibawah asuhan Iie Sumirat, seorang pelatih yang membina Taufik Hidayat sewaktu masih kecil. Sang bintang Taufik Hidayat pula yang menjadi panutan Anthony dengan mengkuti jejaknya meraih prestasi-prestasi besar.</p>
<p>Tahun 2008, Ginting berhasil menjadi juara tunggal putra tingkat SD dalam ajang MILO School Competition. Di seri Bandung, Anthony (Pandu, Bandung) mengalahkan Panji A (Situraja, Sumedang), 21-14, 21-14. Ia mengulagi prestasinya dengan menjadi juara tunggal putra tingkat SMP di MILO School Competition tahun 2012.</p>
<p>Anthony yang saat itu merupakan siswa kelas 3 SMP 1 Bandung, berhasil mengalahkan Dodi Ahmad Hidayat dari SMP 2 Sumedang, 21-8, 21-5 di MILO School Competition seri Bandung.  Bukan hanya satu gelar, ia juga meraih gelar juara ganda putra SMP berpasangan dengan Billy. Pasangan ini mengalahkan Drajat/Ari Dwi Nurseto dengan skor 24-22; 21-19. Anthony pun berhak mengikuti  babak grand final di Jakarta, yang bertanding melawan juara-juara dari Malang, Jambi dan Manado. Anthony kembali membuktikan ketangguhannya dan menjadi juara. Selain itu, Ginting banyak memenangkan turnamen-turnamen lainnya. Diantaranya, ia menjuarai nomor tunggal remaja putra di Sirnas Jawa Barat Open dan Sirnas Jawa Timur Open 2012.</p>
<p>Tahun 2013, Ginting bergabung ke Pelatnas ketika usianya sudah menginjak 17 tahun. Ia juga mulai meraih gelar juara internasional. Anthony menjuarai nomor tunggal putra Tangkas Junior International Challenge. Di babak final, ia mengalahkan sesama pemain Indonesia, Rico Hamdani, 21-15, 17-21, 21-19.</p>
<p>Tahun 2014, Anthony didaulat untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Junior di Alor Setar, Malaysia. Kiprahnya menghasilkan medali perunggu setelah kalah di babak semifinal dari Shi Yu Qi (Tiongkok), 19-21 dan 15-21. Shi Yu Qi sendiri gagal menjadi juara setelah dikalahkan rekannya sendiri Lin Guipu.</p>
<p>Anthony mendapat kesempatan langka karena mewakili Indonesia di Youth Olympic (Olimpiade Remaja) 2014 di Nanjing (Tiongkok). Tidak banyak pemain junior yang mendapat kesempatan karena ajang ini diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Anthony berhasil menembus babak semifinal, namun langkahnya dihentikan Lin Guipu dengan rubber game, 21-19, 19-21 dan 17-21. Namun dalam perebutan medali perunggu, Anthony berhasil mengalahkan Aditya Joshi (India), 21-17 dan 21-16. Anthony menjadi pebulutangkis Indonesia pertama yang meraih medali dalam ajang Youth Olympic.</p>
<p>Tahun 2015, Anthony mulai berkiprah di turnamen level atas. Anthony berhasil meraih posisi semifinalis turnamen Vietnam Open Grand Prix, Indonesia Open Grand Prix Gold dan Hong Kong Open Superseries. Demikian pula di tahun 2016, ia merebut tempat di empat besar Australian Open Superseries. Anthony juga menjadi anggota tim Indonesia di Piala Thomas 2016.</p>
<p>Gelar Superseries pertama akhirnya datang juga. Anthony berhasil merebut juara di Korea Open Superseries 2017 setelah memenangkan partai all Indonesian final atas Jonatan Christie. Anthony menang dalam pertarungan selama lebih dari satu jam dengan skor, 21-13, 19-21, 22-20. Di tahun 2017 ini, Anthony juga memetik hasil sebagai semifinalis Malaysia Masters Grand Prix Gold, Thailand Masters Grand Prix Gold, Swiss Open Grand Prix Gold dan Singapore Open Superseries 2017.</p>
<p>Mengawali tahun 2018, Anthony mempersembahkan gelar juara di depan pendukungnya. Ia berhasil menaiki podium teratas BWF World Tour Super 500 – Indonesia Masters 2018. Dalam perjalanan menuju tangga juara, ia berhasil mengalahkan pemain kuat asal Tiongkok, Chen Long dengan skor, 21-11, 16-21 dan 21-18. Kemudian mengalahkan Chou Tien Chen (Chinese Taipei), 21-16, 13-21 dan 21-12 di babak semifinal. Puncaknya ia menaklukan Kazumasa Sakai (Jepang), 21-13, 21-12 di babak final.</p>
<p>Babak perempat final Asian Games 2018, Anthony kembali menjadi momok bagi Chen Long. Anthony mengalahkan peraih medali emas Olimpiade Rio De Janeiro 2016 tersebut dengan skor, 21-19, 21-11. Namun Anthony harus puas dengan medali perunggu setelah kalah dari Chou Tioen Chen, 21-16, 21-23 dan 17-21 di babak semifinal. Sebelumnya Anthony juga menjadi andalan Indonesia di nomor beregu dan sempat mengalami kram saat berhadapan dengan Shi Yuqi dari tim Tiongkok. Ia harus mundur dari pertandingan saat skor, 21-14, 21-23 dan 20-21. Perjuangannya mendapat simpati langsung dari presiden Joko Widodo yang menyambangi Anthony di ruang medis.</p>
<p><strong>Penakluk Empat Juara Dunia</strong></p>
<p>Anthony menciptakan hasil yang gemilang pada BWF World Tour Super 1000 – China Open 2018. Ini bukan hanya merebut gelar juara tetapi juga menundukan empat juara dunia sekaligus. Di babak pertama, ia berhadapan dengan Lin Dan yang merupakan pemegang dua medali Olimpiade (2008 &amp; 2012) serta lima kali juara dunia (2006, 2007, 2009, 2011 &amp; 2013). Setelah bertarung tiga game, Anthony menang dengan skor 22-24, 21-5 dan 21-19.</p>
<p>Di babak kedua, Anthony bertemua dengan Victor Axelsen. Pemain Denmark ini merupakan juara dunia 2017. Dengan dua game langsung, Anthony menang, 21-18, 21-17 atas Victor. Memasuki babak perempat final, Anthony dinantikan oleh Chen Long. Pemain tuan rumah ini merupakan peraih medali emas Olimpiade 2016 dan juara dunia berturut-turut tahun 2014-2015. Anthony kembali menang atas Chen Long dengan 18-21, 22-20, 21-16.</p>
<p>Kesempatan bertemu Chou Tien Chen di semifinal, tidak disia-siakan oleh Anthony. Ia berhasil membalas kekalahannya di Asian Games dari pemain Chinese Taipei ini. Anthony melaju ke final setelah menang dengan 23-21, 21-19. Di partai puncak, Anthony bersua juara dunia teranyar (2018), Kento Momota asal Jepang. Anthony kembali menunjukan kehebatannya dengan mememangkan pertandingan dalam dua game, 23-21 dan 21-19.</p>
<p>Tahun 2019, prestasi Anthony dapat dikategorikan stabil. Namun sayang, ia sering kandas di partai puncak. Anthony menderita kekalahan dalam lima kali babak final yang dilaluinya. Anthony kalah dari Kento Momota di final Singapore Open (super 500), China Open (super 1000) dan BWF World Tour Finals.  Ia juga gagal mengatasi Lee Cheuk Yiu dari Hong Kong di final Hong Kong Open (super 500) dan kalah dari Jonatan Christie di final Australian Open (super 300). Anthony menutup tahun 2019 dengan menempati peringkat 7 dunia.</p>
<p>Anthony semakin menjadi idola publik Istora. Ia meraih gelar juara turnamen Indonesia Masters 2020. Ini berarti menglangi gelar yang sama yang diraihnya tahun 2018. Di babak final Indonesia Masters 2020, Anthony berhasil menuntaskan perlawanan Anders Antonsen dari Denmark dengan, 17-21, 21-15, 21-9. Gelar ini sangat berarti bagi Anthony untuk mengubur puasa gelar juara yang dialami di tahun 2019.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-11-at-06.43.53-1.jpeg"><img class="aligncenter wp-image-3787 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-11-at-06.43.53-1-1024x681.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-11 at 06.43.53 (1)" width="1024" height="681" /></a></p>
<p><strong>Profil </strong></p>
<p>Nama                                    : Anthony Sinusuka Ginting</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 20 Oktober 1996</p>
<p>Tempat Lahir                      : Cimahi</p>
<p>Nama Ayah                         : Edison Ginting</p>
<p>Nama Ibu                            : Lucia Sriati</p>
<p>Pegangan Raket                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2018</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2018</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020</p>
<p>Juara Korea Open Superseries 2017</p>
<p>Juara Tangkas Junior International Challenge 2013</p>
<p>Runner up BWF World Tour Finals 2019</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2019</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 500 &#8211; Hong Kong Open 2019</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 500 &#8211; Singapore Open 2019</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 300 &#8211; Australian Open 2019</p>
<p>Medali perunggu Asian Games 2018</p>
<p>Medali perunggu World Junior Championships 2014</p>
<p>Medali perunggu Youth Olympic Games 2014</p>
<p>Semifinalis Vietnam Open Grand Prix 2015</p>
<p>Semifinalis Hong Kong Open Superseries 2015</p>
<p>Semifinalis Indonesia Masters Grand Prix Gold 2015</p>
<p>Semifinalis Australian Open Superseries 2016</p>
<p>Semifinalis Malaysia Masters Grand Prix Gold 2017</p>
<p>Semifinalis Thailand Masters Grand Prix Gold 2017</p>
<p>Semifinalis Swiss Open Grand Prix Gold 2017</p>
<p>Semifinalis Singapore Open Superseries 2017</p>
<p>Semifinalis BWF World Tour Super 300 &#8211; Swiss Open 2019</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3785</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Apriyani Rahayu</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3781</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3781#respond</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2021 09:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3781</guid>
		<description><![CDATA[Nama Apriyani Rahayu melambung begitu cepat di usianya masih muda. Keputusan pelatih menduetkannya dengan pemain senior Greysia Polli telah mengantarnya sebagai pasangan ganda putri nomor satu Indonesia. Ditengah sulitnya pemain-pemain putri Indonesia bersaing di papan atas dunia, Apriyani bersama Greysia Polii mampu meraih medali Perunggu di Kejuaraan Dunia. Pemain yang akrap disapa Apri ini lahir [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-16.22.32.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3782" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-16.22.32-300x199.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-10 at 16.22.32" width="300" height="199" /></a>Nama Apriyani Rahayu melambung begitu cepat di usianya masih muda. Keputusan pelatih menduetkannya dengan pemain senior Greysia Polli telah mengantarnya sebagai pasangan ganda putri nomor satu Indonesia. Ditengah sulitnya pemain-pemain putri Indonesia bersaing di papan atas dunia, Apriyani bersama Greysia Polii mampu meraih medali Perunggu di Kejuaraan Dunia.</p>
<p>Pemain yang akrap disapa Apri ini lahir di desa Lawulo, kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 29 April 1998. Apri merupakan anak perempuan pasangan Amiruddin dan Almarhumah Sitti Jauhar. Sang ayah gemar bermain bulutangkis. Kegemaran sang ayah inilah yang diturunkan kepadanya ditambah Apri kecil sudah tertarik menonton pertandingan bulutangkis di layar televisi.</p>
<p>Apri mulai diperkenalkan dengan olahraga bulutangkis sejak umur 3 tahun. Ia mulai bermain bulutangkis menggunakan raket milik ayahnya. Keseriusan Apri ditunjukan dengan berlatih di sebuh gedung bulutangkis yang tak jauh dari rumahnya. Ia dilatih oleh Sapiuddin yang sempat berguru di Sekolah Atlet Ragunan Jakarta.</p>
<p>Saat duduk di kelas V Sekolah Dasar, Apri mengikuti ajang O2SN. Namun ia harus puas sebagai runner up sekaligus menggagalkan impiannya untuk bertanding di Jakarta mewakili daerahnya. Kegagalan ini membuat Apri semakin rajin berlatih. Setahun kemudian, ia berhasil menjadi juara dan berhak bertanding ke Jakarta. Setelah tiba di ibukota, Apri dihadapkan dengan kenyataan bahwa anak-anak dari pulau Jawa masih lebih baik dibandingkan dirinya.</p>
<p>Selepas dari bangku SD, sang pelatih pindah ke Konawe. Apri memutuskan untuk mengikuti pelatih yang telah mengajarkannya teknik bermain bulutangkis tersebut. Disinilah Apri mulai mengikuti banyak pertandingan dan memenangkannya. Atas berbagai prestasinya, Pengcab PBSI Konawe membawa Apri ke Jakarta. Ia diantarkan ke PB Pelita di kawasan Kosambi, Jakarta Barat. Akhirnya Apri diterima untuk berlatih di klub milik sang juara dunia bulutangkis, Icuk Sugiarto tersebut. Apri diberikan masa percobaan selama tiga bulan untuk menunjukan prestasinya. Selama tiga bulan tersebut, Apri mendapatkan faslitas secara gratis dari PB Pelita.</p>
<p>Awalnya Apri bermain sebagai pemain tunggal. Ia memulai debutnya diajang Sirkuit Nasional di Banjarmasin 2012. Turun di nomor tunggal pemula putri, Apri kalah di babak kedua dari Ranti Dwi (Aufa), 12-21, 13-21. Evaluasi dari hasil ini, ia mendapat arahan dari pelatihnya Toto Sunarto bahwa Apri lebih memiliki bakat untuk bermain di nomor ganda.</p>
<p>Berikutnya di Djarum Sirnas Jakarta Open 2012, Apri kembali kalah di babak kedua dari Jauza Fadhila Sugiarto, 15-21, 21-15 dan 19-21. Jauza merupakan putri dari Icuk Sugiarto. Selain nomor tunggal, Apri mulai tampil di nomor ganda berpasangan dengan Melisa Andesti. Terbukti hasilnya lebih dengan menembus babak final walaupun harus puas sebagai runner up setelah kalah dari Yulfira Barkah/Dianita Saraswati, 16-21 dan 15-21.</p>
<p>Setelah itu, Apri dipasangkan dengan Jauza yang masih sering turun di nomor tunggal. Debut Apri/Jauza di arena Sirnas langsung menjuarai ganda pemula putri Djarum Sirnas Banten Open 2012. Disusul kemudian dengan menjuarai Djarum Sirnas Jawa Timur Open 2012.</p>
<p>Tahun 2013, Apri/Jauza naik ke kelompok umur remaja.  Dua gelar juara nomor ganda remaja putri diraih Apri/Jauza di Sirnas KalimantanTimur 2013 dan Sirnas Yogyakarta 2013. Bahkan Apri mampu meraih “double winners” di Sirnas Yogyakarta 2013 setelah merebut juara ganda campuran remaja bersama Fauzi Habibi.</p>
<p>Apri kembali meraih dua gelar juara di USM Flypower Open 2014 di Semarang. Apri/Jauza menjuarai kelompok umur yang lebih tinggi, ganda taruna putri. Demikian pula dengan Apri bersama Fauzi Habibi menjuara ganda campuran taruna. Langkah besar dibuat Apri/Jauza yang berhasil merebut gelar juara ganda dewasa putri di usia yang masih junior. Apri/Jauza juara di Sirnas Sumatera yang berlangsung di Padang.  Mereka mengalahkan pasangan senior seperti unggulan pertama Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita Hanadia di semifinal dan unggulan kedua Aris Budiharti/Ery Octaviani di babak final.</p>
<p>Berbagai prestasi yang dibuat Apri membuatnya terpilih mengikuti Kejuaraan Asia Junior 2014. Dinomor ganda campuran, Apri yang berpasangan dengan Tedi Supriadi terhenti di babak 16 besar setelah kalah dari rekannya Muhammmad Rian Ardianto/Zakia Ulfa, 13-21, 21-11 dan 17-21. Sedangkan diganda putri, Apri/Jauza kalah di babak perempat final dari Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, 7-21, 12-21.</p>
<p>Di Kejuaraan Dunia Junior 2014, terjadi perombakan pasangan. Apri berduet dengan Rosyita Eka Putri Sari berhasil menembus babak final, setelah mengalahkan Jiang Binbin/Tang Pingyang (Tiongkok), 21-13, 21-16 di semifinal. Sayang, peluang meraih juara dunia junior tersandung Chen Qing Chen/Jia Yi Fan. Apri/Rosyita harus puas dengan medali perak setelah kalah dengan skor, 11-21, 14-21.</p>
<p>Di tahun 2014 ini, Apri kerap turun di berbagai turnamen internasional. Diantaranya bersama Jauza menembus semifinal Singapore International Series 2014 dan menjadi juara Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2014.</p>
<p><strong>Kehilangan Ibu Tercinta</strong></p>
<p>Kiprah internasional berlanjut di tahun 2015. Apri/Jauza didaulat tampil pada ajang Asian School Badminton Championships 2015. Mereka meraih posisi runner up setelah kalah di final dari sesama ganda Indonesia, Nisak Puji Lestari/Rika Rositawati. Di Kejuaraan Asia Junior 2015, Apri/Jauza tersingkir dibabak 16 besar setelah kalah dari Nami Matsuyama/Chicaru Shida, 19-21, 20-22. Sedangkan di ganda campuran, Apri yang digandeng Fachriza Abimanyu berhasil meraih medali perunggu. Pasangan ini kalah di semifinal dari Zheng Si Wei/Chen Qing Chen, 14-21, 14-21.</p>
<p>Sementara pada Kejuaraan Dunia Junior yang berlangsung di kota Lima, Peru, tanggal 10-15 November 2015. Apri/Jauza kalah di babak 16 besar, sedangkan Apri/Abimanyu kembali meraih medali perunggu. Kali ini mereka kalah dari ganda campuran Tiongkok lainnya Hi Jiting/Du Yue, 13-21, 10-21.</p>
<p>Peristiwa pilu menimpa Apri saat bertanding di Kejuaraan Dunia Junior ini. Ibunya meninggal dunia karena menderita sakit. Takut konsentrasinya terganggu, Apri baru diberitahu setelah ia pulang ke tanah air. Ibunya merupakan salah seorang pendukung utama karir Apri. Ibunya ikut mencari biaya untuk keperluan latihan, raket dan kock dengan berjualan bahkan hingga menggadaikan perhiasannya. Setiba di tanah air, Apri pulang kampung ke Konawe untuk menziarahi makam ibunya dan kembali berlatih setelah sepekan kemudian.</p>
<p>Catatan prestasi Internasional lainnya dicetak Apri sepanjang tahun 2015 adalah runner up ganda campuran Indonesia International Series bersama Panji Akbar, juara ganda putri Singapore International Series dan semifinalis ganda putri Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge.</p>
<p>Memasuki tahun 2016, Apri kembali mengikuti berbagai turnamen internasional dari level International Series hingga Superseries. Diajang Walikota Surabaya International Series 2016, Apri/Jauza tampil sebagai juara ganda putri setelah menaklukan Dian Fitriani/Nadya Melati, 12-21, 21-18, 22-20. Apri juga menaiki podium tertinggi ganda campuran bersama Agripinna Prima Rahmanto Putra setelah menundukan Yantoni Edy Saputra/Marsheilla Gischa Islami, 21-12, 21-12.</p>
<p>Apri kembali tampil di ajang Kejuaraan Asia Junior. Bersama Jauza hanya mampu sampai babak 16 besar.  Sedangkan di ganda campuran, Apri mempertahankan medali perunggu. Kali ini, ia berpasangan dengan Rinov Rivaldy kalah dari Won Ho Kim/Yu Rim Lee, 17-21, 20-22 di babak empat besar. Tetap berpasangan dengan Rinov, Apri berhasil menjadi juara ganda campuran Pembangunan Jaya Raya Indonesia Junior Grand Prix 2016. Namun Apri/Rinov terhenti di babak perempat final saat bertanding di Kejuaraan Dunia Junior 2016 yang berlangsung di Bilbao, Spanyol.</p>
<p>Diajang domestik, Apri meraih dua gelar juara pada ajang Sirnas Jawa Barat Open. Di ganda campuran, Apri yang berduet dengan Devand Riefky Reksadillano menaiki podium tertinggi setelah mengalahkan M. Robby Darwis/Monika Insany, 21-14, 21-18 di babak final. Sedangkan di ganda taruna putri Apri/Jauza mengalahkan Febriana Dwi Puji Kusuma/Ribka Sugiarto, 21-16, 18-21, 21-19. Namun di penghujung tahun, Apri/Jauza harus menelan kekalahan dari Febriana/Ribka di babak final Kejurnas Taruna dengan skor, 21-14, 17-21, 19-21.</p>
<p>Tanggal 4 Januari 2017, PP PBSI mengumumkan skuat Pelatnas. Apri termasuk salah satu pemain yang mendapat promosi untuk berlatih di Cipayung. Awalnya, Apri diduetkan dengan Della Destiara Haris. Debutnya terjadi di Thailand Masters 2017 dan mencapai babak perempat final. Mereka kalah dari Cheng Qin Ceng/Jia Yi Fan, 10-21, 10-21. Kemudian di All England 2017, Apri dicoba dengan Anggia Shitta Awanda. Pasangan ini hanya mencapai babak 16 besar. Duetnya dengan Anggia berlangsung dalam dua turnamen berikutnya Swiss Open dan China Masters 2017.</p>
<p><strong>Berpasangan Dengan Greysia Polii dan Langsung Juara</strong></p>
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengandalkan pasangan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di nomor ganda putri. Duet peraih medali emas Asian Games 2014 ini harus bubar karena Nitya mengalami cedera yang parah. Greysia dicoba dengan beberapa pemain Pelatnas lainnya tetapi belum menghasilkan prestasi yang maksimal. Tibalah saatnya Apri mendapat giliran menjadi tandem Greysia Polii.</p>
<p>Apri/Greysia dicoba pada pertandingan kedua Piala Sudirman 2017 saat tim Indonesia menghadapi Denmark. Pasangan ini masih harus mengakui keunggulan Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen, 18-21, 21-13, 13-21. Namun penampilan Apri mulai mencuri perhatian dalam pertandingan tersebut. Tim Indonesia sendiri tersingkir di penyisihan grup meskipun menang 3-2 atas Denmark. Sebelumnya Indonesia kalah 1-4 dari India.</p>
<p>Sepekan kemudian, Apri/Greysia tampil perdana di turnamen perorangan. Mereka mengikuti Thailand Open Grand Prix Gold 2017. Pasangan ini langsung meraih gelar juara di turnamen perorangan pertama mereka. Di babak final, Apri/Greysia mengalahkan Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong, 21-12, 21-12.</p>
<p>Gelar superseries pertama berhasil diraih di French Open Super Series pada bulan Oktober 2017. Mereka mengalahkan lawan-lawan kuat dalam perjalanan menjadi juara. Di babak 32 besar, mengalahkan Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark), 21-17 , 21-8. Lalu di 16 besar menundukan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang), 21-19, 21-18. Kiprah mereka berlanjut di babak perempat final setelah menaklukan Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang), 19-21, 21-13, 21-19.</p>
<p>Dibabak semifinal, Apri/Greysia menaklukan juara dunia 2017, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (Tiongkok), 21-5 dan 21-10. Puncaknya mereka menundukan Lee So Hee/Shin Seung Chan (Korea), 21-17 dan 21-15.</p>
<p>Apri/Greysia kembali ke puncak turnamen superseries di Hong Kong Open 2017. Namun kali ini harus mengakui keunggulan Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, 21-14, 16-21 dan 15-21 di babak final. Prestasi Apri/Greysia sangat mengesankan di tahun pertama mereka berpasangan.</p>
<p>Tahun 2018, Apri/Greysia memperoleh satu gelar juara yakni di India Open super 500 setelah di babak final mengalahkan Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand), 21-18 dan 21-15. Lalu, satu kali runner up di Indonesia Masters super 500. Mereka kalah dari Misaki Matsutomo/ Ayaka Takahashi (Jepang), 17-21 dan 12-21. Di tahun ini, mereka juga meraih medali perunggu di Asian Games dan Kejuaraan Dunia.</p>
<p>Apri/Greysia mencatat beberapa kali di posisi semifinalis yakni Japan Open Super 750, China Open Super 1000, Denmark Open Super 750, French Open Super 750 dan Hong Kong Open super 500. Uniknya semua kekalahan di babak semifinal tahun 2018 terjadi dari pemain-pemain putri Jepang. Pasangan Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, Misaki Matsutomo/ Ayaka Takahashi dan Yuki Fukushima /Sayaka Hirota menjadi penyebab tujuh kekalahan di babak empat besar tersebut.</p>
<p>Tahun 2019, Apri/Greysia mengalami penurunan prestasi dibandingkan tahun 2018. Mereka memang berhasil mempertahankan gelar juara di India Open super 500 setelah mengalahkan Chow Mei Kuan/ Lee Meng Yean (Malaysia), 21-11, 25-23. Selebihnya, mereka mencapai runner up Malaysia Masters super 500, semifinalis Indonesia Masters super 500 dan mempertahankan medali perunggu Kejuaraan Dunia. Dua semifinalis lainya dicetak dari turnamen level lebih rendah, Australian Open super 300 dan New Zealand Open super 300. Untungnya, Apri/Greysia memperoleh hiburan dengan meraih medali emas di SEA Games yang berlangsung di Manila, Philipina.</p>
<p>Suasana haru terjadi di turnamen Indonesia Masters 2020. Setelah sepekan sebelumnya meraih semifinalis Malaysia Masters, Apri/Greysia berhasil merebut juara di Istora Senayan, Jakarta. Kemenangan menghapus dahaga 12 tahun sektor ganda putri Indonesia untuk menjadi juara di Istora. Sebelumnya, Vita Marissa/Liliyana Natsir meraihnya di Indonesia Open Superseries 2008. Selain itu bagi Apri/Greysia, kemenangan ini sekaligus membangkitkan kembali semangat dari keterpurukan prestasi tahun 2019. Di babak final, Apri/Greysia mencatat kemenangan dramatis atas Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark), 18-21, 21-11, 23-21.</p>
<p>Apriani/Greysia menambah koleksi gelar juaranya dari ajang Barcelona Spain Masters 2020. Di final turnamen super 300 tersebut, mereka mengungguli duet bersaudara Gabriela Stoeva/Stefani Stoefa (Bulgaria), 18-21, 22-20, 21-17. Sebelum pertandingan internasional dihentikan sementara karena wabah Covid-19, Apriani/Greysia sempat turun di turnamen All England 2020, namun terhenti di pertandingan perdana.</p>
<p>Setelah hamper setahun tidak turun di pertandingan akibat pandemic Covid-19, Apriani/Greysia Kembali turun gelanggang. Di turnamen perdana, Apri/Greysia berhasil meraih juara pada turnamen Yonex Thailand Open. Dibabak final, mereka mengandaskan pasangan tuan rumah Jongkolphan Kititharakul/ Rawinda Prajongjai, 21-15, 21-12. Ini merupakan gelar turnamen super 1000 pertama bagi Apri/Greysia khususnya dan ganda putri Indonesia umumnya.</p>
<p>Sepekan berikutnya, diajang Toyota Thailand Open atau dikenal juga dengan Thailand Open II, Apri/Greysia meraih hasil sebagai semifinalis. Mereka kalah dari Lee So Hee/ Shin Seung Chan (Korea), 16-21, 18-21 di babak empat besar tersebut.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-16.22.32-1.jpeg"><img class="aligncenter wp-image-3783 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-16.22.32-1-1024x683.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-10 at 16.22.32 (1)" width="1024" height="683" /></a></p>
<p><strong>Profil </strong></p>
<p>Nama                                    : Apriani Rahayu</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 29 April 1998</p>
<p>Tempat Lahir                      : Lawulo</p>
<p>Nama Ayah                         : Amiruddin</p>
<p>Nama Ibu                            : Sitti Jauhar</p>
<p>Pegangan Raket : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi </strong></p>
<p>Medali emas ganda putri SEA Games 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 1000 – Yonex Thailand Open 2021 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 300 – Barcelona Spain Masters 2020 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2018 &amp; 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda putri French Open Superseries 2017 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda putri Thailand Open Grand Prix Gold 2017 (/Greysia Polii)</p>
<p>Juara ganda campuran Jaya Raya Indonesia Junior Grand Prix 2016 (Rinov Rivaldy)</p>
<p>Juara ganda campuran Walikota Surabaya Victor International Series 2016 (/Agripinna Prima Rahmanto Putra)</p>
<p>Juara ganda putri Walikota Surabaya Victor International Series 2016 (/Jauza Fadhila Sugiarto)</p>
<p>Juara ganda putri Singapore International Series 2015 (/Jauza Fadhila Sugiarto)</p>
<p>Juara ganda putri Indonesia Junior International Challenge 2014 (/Jauza Fadhila Sugiarto)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Runner up ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Runner up ganda putri BWF World Tour 500 &#8211; Indonesia Masters 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Runner up ganda putri   Hong Kong Open 2017 (/Greysia Polii)</p>
<p>Runner up Ganda campuran USM International Series 2015           (/Panji Akbar)</p>
<p>Medali perak ganda putri World Junior Championships 2014 (/Rosyita Eka Putri Sari)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Medali Perunggu ganda putri      BWF World Championships 2018 &amp; 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Medali Perunggu ganda putri Asian Games 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Medali Perunggu ganda campuran World Junior Championships 2015 (/Fachriza Abimanyu)</p>
<p>Medali perunggu ganda campuran Asia Junior Championships 2015 (/Fachriza Abimanyu)</p>
<p>Medali perunggu ganda campuran Asia Junior Championships 2016 (/Rinov Rivaldy)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 1000 – Toyota Thailand Open 2021 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters 2020 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 300 &#8211; Chinese Taipei Open 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 300 &#8211; Australian Open 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2019 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 500 &#8211; Hong Kong Open 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 750 &#8211; French Open 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2018 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri New Zealand Open Grand Prix Gold 2017 (/Greysia Polii)</p>
<p>Semifinalis ganda putri Jaya Raya Indonesia Junior International Challenge 2015 (/Jauza Fadhila Sugiarto)</p>
<p>Semifinalis ganda putri Singapore International Series 2014 (/Jauza Fadhila Sugiarto)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3781</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Praveen Jordan</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3776</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3776#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 23:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3776</guid>
		<description><![CDATA[Pemain kelahiran Bontang, 26 April 1993 yang merupakan anak dari pasangan Setiyo Lemono dan Herlince Sinambela ini diberi nama Praveen Jordan. Nama belakang Jordan diambil dari nama pebasket terkenal Amerika Serikat, Michael Jordan. Sedangkan Praveen merupakan nama aktor asal India, Praveen Kumar yang memerankan tokoh Bima dalam film Mahabharata. Kedua orang tuanya berharap anaknya tersebut [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3777" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/1578981318_capture.jpeg"><img class="wp-image-3777 size-medium" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/1578981318_capture-300x200.jpeg" alt="1578981318_capture" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Praveen Jordan (Foto : PB Djarum)</p></div>
<p>Pemain kelahiran Bontang, 26 April 1993 yang merupakan anak dari pasangan Setiyo Lemono dan Herlince Sinambela ini diberi nama Praveen Jordan. Nama belakang Jordan diambil dari nama pebasket terkenal Amerika Serikat, Michael Jordan. Sedangkan Praveen merupakan nama aktor asal India, Praveen Kumar yang memerankan tokoh Bima dalam film Mahabharata. Kedua orang tuanya berharap anaknya tersebut bertubuh kuat dan besar seperti Praveen dan Jordan.</p>
<p>Sebuah nama dapat mencerminkan doa berlaku untuk Praveen. Ia tumbuh menjadi sosok yang tinggi besar. Namun ia tidak mengikuti jejak kedua tokoh baik sebagai pebasket maupun aktor. Praveen dari Bontang ini menekuni bulutangkis sebagai jalan karirnya.</p>
<p>Praveen kecil awalnya tidak benar-benar serius berlatih bulutangkis meskipun ayahnya seorang pelatih bulutangkis. Kalau dilatih oleh ayahnya, ia jarang mau fokus dan lebih sering menganggu senior-seniornya. Namun darah bulutangkis melekat dari ayahnya yang pernah menjadi pemain level provinsi. Hal ini terbukti ketika Praveen mampu meraih gelar juara di Porseni (Pekan Olah raga dan Seni). Sejak itulah, ia mulai menekuni bulutangkis secara serius.</p>
<p>Menginjak duduk di bangku SMP, Praveen mulai mengikuti banyak pertandingan. Untuk meningkatkan kemampuannya, Praveen hijrah ke Jakarta. Ia bergabung ke klub Jaya Raya sebagai pemain tunggal selama 4 tahun. Tahun 2008, Praveen mendapat tawaran dari Ade Lukas untuk bergabung ke klub PB Djarum sebagai pemain ganda. Praveen menerima tawaran tersebut.</p>
<p>Kiprahnya sebagai pemain ganda merupakan pilihan yang tepat. Ia mulai mencetak prestasi di sektor ini. Tahun 2010, Praveen meraih 5 gelar juara Sirnas dalam satu tahun. Dimulai dari Sirnas Kalimantan Open di Balikpapan. Praveen menjuarai nomor ganda campuran taruna bersama Gloria Emmanuelle Widjajasetelah mengalahkan M. Andrean Permana/Aan Dwi C (Jaya Raya), 21-7, 21-18.</p>
<p>Empat gelar lainnya diraih dari nomor ganda taruna putra bersama Rangga Yave Rianto. Praveen/Rangga menjuarai Sirnas Sulawesi Open di Manado seusai menundukan Bayu Tri P/Rinov Dalle (Jaya Raya), 21-15 21-14. Lalu Sirnas Sumatera di Pekanbaru dengan menaklukan Ali Akbar /Apid Rosidin (Muatiara Bandung), 15-21 21-16 21-14 . Sirnas Jawa Barat dengan menghempaskan rekannya Kenas Adi Haryanto /Sigid Sudrajad (Djarum) 21-15 21-8. Sirnas Bali Open di Denpasar dengan mengalahkan Ade Yusuf/Rizky Hidayat (Wima), 21-18 21-14. Praveen/Rangga melengkapi gelarnya dengan memenangkan Chandra Wijaya Men&#8217;s Double Championships 2010.</p>
<p>Praveen/Rangga mencicipi beberapa turnamen Internasional, diantara Tangkas Alfamart Junior Challenge 2010. Pasangan ini terhenti di semifinal setelah kalah dari Ivandi Danang/Hardianto, 21-12, 21-17. Meskipun masih di usia junior, mereka juga mengikuti turnamen senior. Di 23rd SOTX Cyprus International Series 2010, mencapai babak semifinal sebelum dikalahkan Niclas Nohr/Mads Conrad Pedersen (Denmark).</p>
<p>Tahun 2011, Praveen mendapat kesempatan mewakili Indonesia di ajang Asian Junior Championships. Ia berhasil meraih perunggu di nomor ganda campuran bersama pasangannya Tiara Rosalia Nuraidah. Praveen/Tiara kalah di babak semifinal dari Pei Tianyi/ Ou Dongni (Tiongkok), 14-21, 21-23. Kiprahnya tersebut tidak cukup mengantarkannya sebagai pemain Pelatnas.</p>
<p>Klub PB Djarum memasangkan Praveen Jordan dengan Didit Juang di tahun 2012. Pasangan ini mengikuti beberapa turnamen internasional seperti Hanoi Vietnam International Challenge, Osaka International Challenge, Indonesia Open, Indonesia International Challenge dan Indonesia Open Grand Prix Gold. Hasil terbaik yang dicapai adalah semifinalis di Vietnam. Mereka kalah dari pasangan sesama dari Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Agripinna Prima Rahmanto Putra, 20-22, 21-19 dan 16-21.</p>
<p><strong>Berpasangan dengan Vita Marissa</strong></p>
<p>Lompatan besar dilakukan klub PB Djarum dengan memasangkan Praveen yang masih minim pengalaman internasional dengan pemain kawakan Vita Marissa.</p>
<p>&#8220;Saya sempat turun ke Sirnas Surabaya untuk melihat siapa saja pemain yang potensial untuk saya bawa. Di sana saya bertemu Praveen. Saya tanya kepada klubnya boleh nggak anak ini saya bawa. Dan saya tanya ke dia langsung. Ternyata dia siap,&#8221; jelas Vita saat itu.</p>
<p>Pasangan senior-junior ini tampil perdana di Korea Open Superseries Premier 2013. Setelah melewati babak kualifikasi, Praveen/Vita kalah di babak 32 besar dari Muhammad Rijal/Debby Susanto, 15-21, 16-21.</p>
<p>Praveen/Vita mulai tampil mengesankan di turnamen kedua di Malaysia Open Superseries 2013. Setelah mencatat dua kemenangan di babak kualifikasi, mereka mengalahkan Kona Tarun/Ashwini Ponnapa (India), 22-20, 21-17 di babak 32 besar. Kemudian membalas kekalahan dari Muhammad Rijal/Debby Susanto dengan 28-26, 20-22 dan 21-17 di babak 16 besar. Kemudian di babak perempat final mengalahkan Zhang Nan/Tang Jin Hua (Tiongkok), 21-12, 21-19. Praveen/Vita baru terhenti di babak semifinal dari pasangan berpengalaman lainnya Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersan (Denmark), 14-21, 17-21.</p>
<p>Gelar juara untuk pertama kali diperoleh dari New Zealand Open Grand Prix 2013 atau di turnamen ke-5 sejak mereka berpasangan. Praveen/Vita menaiki podium tertinggi setelah mengalahkan Riky Widianto/Richi Puspita Dili, 21-18, 21-8.</p>
<p>Praveen/Vita kembali menjadi juara di turnamen berikutnya, Malaysia Open Grand Prix Gold 2013. Di semifinal, mereka menundukan pasangan kuat tuan rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 21-17, 21-12. Gelar juara dapat dipastikan setelah menghempaskan pasangan tuan rumah lainnya Tan Aik Quan/Lai Pei Jing, 20-22, 21-13, 21-17. Praveen/Vita juga menembus semifinal Singapore Open 2013, namun dihentikan pasangan terkuat Indonesia saat itu Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, 11-21, 21-16, 18-21.</p>
<p>Disela-sela kiprahnya di ganda campuran, Praveen sempat meraih gelar ganda putra di Indonesia International Challenge. Praveen yang kembali berduet dengan Didit Juang berhasil menaklukan Agripinna Prima Rahmanto Putra/Hardianto, 17-21, 21-16, 23-21 di babak final.</p>
<p>Praveen yang kembali berpasangan dengan Vita, berhasil membalas kekalahannya dari Tontowi/Lilyana. Mereka mengalahkan pasangan nomor satu Indonesia tersebut di babak final Indonesia Open Grand Prix Gold 2013. Mereka menang dengan 20-22, 9-21, 21-14 sekaligus memastikan gelar juara.</p>
<p><strong>Berpasangan Dengan Debby Susanto</strong></p>
<p>Prestasi Praveen yang cemerlang bersama Vita menarik perhatian pelatih ganda campuran Pelatnas, Richard Mainaky. Praveen diminta untuk bergabung ke Pelatnas awal tahun 2014. Ia diduetkan dengan Debby Susanto yang sebelumnya merupakan pasangan Muhammad Rijal. Sedang M. Rijal sendiri dipulangkan ke klub dan sempat kembali berpasangan dengan Vita Marissa.</p>
<p>Debut Praveen/Debby dimulai dari Malaysia Open Superseries 2014. Dua lawan pertama yang ditaklukan adalah pasangan tuan rumah Tak Aik Quan/Lai Pei Jing, 21-14, 21-13 dan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-17 dan 24-22. Namun langkahnya dihentikan pasangan Denmark Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersen, 12-21, 19-21 di babak perempat final.</p>
<p>Final pertama Praveen/Debby diraih pada turnamen kelima mereka di Malaysia Open Grand Prix Gold 2014. Namun gelar juara masih belum berhasil diperoleh karena kalah dari Lu Kai/Huang Yaqiong (Tiongkok), 14-21, 13-21.</p>
<p>Kejutan berhasil dibuat Praveen/Debby dengan meraih medali perunggu Asian Games 2014 di Incheon, Korea. Mereka berhasil melaju ke babak empat besar setelah mengalahkan andalan tuan rumah Ko Sung Hyung/Kim Ha Na, 21-9, 9-21 dan 21-15. Namun ambisi untuk mendaki partai puncak, dihentikan Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok), 19-21, 17-21.</p>
<p>Gelar juara pertama Praveen/Debby dicetak pada SEA Games 2015. Mereka memastikan medali emas setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 18-21, 21-13 dan 25-23. Pasangan ini mulai merangkak menjadi pasangan elit dunia. Mereka meraih empat kali runner up dan tiga kali semifinalis. Runner up diperoleh dari turnamen Malaysia Masters GPG, Thailand Open GPG, French Open Superseries dan Indonesia Masters GPG. Sedangkan posisi sebagai semifinalis diperoleh dari All England Superseries Premier, India Open Superseries dan BWF World Superseries Finals 2015.</p>
<p>Prestasi Praveen/Debby makin meningkat. Mareka memenangkan turnamen Syed Modi India Grand Prix Gold 2015. Di final, mereka mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), 23-25, 21-9, 21-16.</p>
<p>Prestasi besar dibuat Praveen/Debby dengan menjuarai turnamen bulutangkis tertua di dunia, All England 2016. Di semifinal, mereka mengalahkan pasangan nomor satu dunia Zhang Nan/Zhao Yunlei, 21-19 dan 21-16. Kemudian di babak final menghempaskan pasangan Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersen, 21-12 dan 21-17.</p>
<p>Praveen/Debby kembali menembus babak final Hong Kong Open Superseries 2016, namun kali ini kalah dari seniornya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, 19-21, 17-21.</p>
<p>Memasuki rangkaian turnamen tahun 2017, Praveen/Debby langsung tersingkir di babak pertama All England dari Yuta Watanbe/Arisa Higashino, 17-21, 21-19 dan 12-21. Sepekan setelah gagal mempertahankan gelar di All England, Praveen/Debby langsung menembus babak final Swiss Open Grand Prix Gold 2016 setelah di babak semifinal mengalahkan Zhang Nan/Li Yin Hui, 17-21 21-19, 21-16. Namun kalah dalam perebutan gelar juara dari Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, 18-21, 15-21.</p>
<p>Mereka kembali menembus babak akhir Australian Open Superseries 2017. Mereka harus puas sebagai runner up karena takluk dari Zheng Si Wei/Chen Qing Chen, 21-18, 14-21, 17-21. Pasangan Tiongkok ini juga yang mengalahkan Praveen/Debby di perempat final Kejuaraan Dunia.</p>
<p>Gelar juara di tahun 2017 ini akhir diperoleh di Korea Open Superseries. Mereka mengalahkan Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping di babak final dengan, 21-17, 21-18. Namun sepekan kemudian Praveen/Debby kalah dari pasangan Tiongkok tersebut di babak semifinal Japan Open Superseries.</p>
<p><strong>Berpasangan Dengan Melati</strong></p>
<p>Tim pelatih Pelatnas ganda campuran merombak pasangan pemain ganda campuran di awal tahun 2018. Praveen tidak lagi dipasangkan dengan Debby yang sudah mendekati masa pensiun. Ia mendapat pasangan baru Melati Daeva Oktavianti, sementara Debby dicoba berduet dengan Ricky Karandasuwardi. Sebenarnya Praveen/Melati pernah berpasangan sebelumnya di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dan berhasil meraih medali emas. Namun pasangan dadakan ini hanya untuk ajang PON tersebut.</p>
<p>Debut pasangan Praveen/Melati terjadi di BWF World Tour Super 500-Malaysia Masters 2018. Pertandingan pertama, Praveen/Melati sukses menundukan Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), 25-23, 21-16. Namun mereka terhenti di babak kedua setelah kalah dari Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 16-21, 12-21.</p>
<p>Di turnamen kedua, Praveen/Melati meraih prestasi yang cukup baik. Mereka menggapai babak semifinal Indonesia Masters 2019 yang levelnya meningkat menjadi BWF World Tour Super 500 atau setara superseries. Lalu, menembus babak final di turnamen ketiga di BWF World Tour Super 500-India Open 2019. Sayang, gelar juara belum bisa diraih. Mereka kalah dari Mathias Christiansen/Christinna Pedersen, 14-21, 15-21.</p>
<p>Tetapi setelahnya, Praveen/Melati gagal ke babak 4 besar dalam 15 turnamen berturut-turut. Mereka baru mencicipi babak semifinal kembali di BWF World Tour Super 300 &#8211; Korea Masters yang berlangsung pada penghujung tahun 2018.</p>
<p>Praveen membawa Melati mencicipi babak empat besar turnamen bergengsi All England 2019. Namun mereka belum mampu melangkah lebih jauh setelah ditundukan Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 21-13, 20-22, 13-21. Setelahnya, dari beberapa turnamen yang diikuti, Praveen/Melati menembus babak final di empat turnamen yakni India Open (super 500), New Zealand Open (super 300), Australian Open (super 300) dan Japan Open (super 750). Di India, Australia dan Jepang, mereka kalah dari lawan yang sama, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (Tiongkok). Sedangkan di Australia, kalah dari Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia).</p>
<p>Seolah tak mau dijuluki sebagai spesialis runner up, Praveen/Melati berhasil menaiki poium tertinggi. Momen kebangkitan Praveen/Melati berhasil diraih dalam dua pekan tur Eropa di bulan Oktober 2019. Dimulai dari Denmark Open (super 750), Praveen/Melati mengalahkan pasangan peringkat satu dunia, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 18-21, 21-16 dan 22-20 di babak perempat final. Lalu menang mudah atas Wang Chi Lin/Cheng Chi Ya (Chinese Taipei), 21-12 dan 21-12 di semifinal. Gelar juara dipastikan setelah mengandaskan musuh bebuyutanya Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping di babak final dengan skor 21-18, 18-21 dan 21-19.</p>
<p>Pekan berikutnya, Praveen/Melati kembali tampil gemilang. Setelah melewati dua babak awal French Open (super 750), mereka mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), 21-14, 21-7. Lalu, mengalahkan pasangan suami-istri Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris), 21-19, 21-12. Di babak final, Praveen/Melati kembali bertemu Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan berhasil menang dengan, 22-24, 21-16 dan 21-12. Dan mereka meraih dua gelar berturut-turut sekaligus mengalah pasangan peringkat 1 dunia dua kali dalam dua pekan. Keberhasilan ini membuat nama Praveen/Melati masuk dalam nominasi “Most improved players of the Year 2019”, walaupun akhirnya tidak terpilih sebagai pemenang.</p>
<p>Praveen/Melati berhasil meraih medali emas di ajang SEA Games ke-30 yang berlangsung di Manila, Philipina. Mereka berhasil mengubur impian pasangan Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai di pertandingan pamungkas dengan skor, 21-19, 19-21 dan 23-21. Peningkatan prestasi Praveen/Melati ini membuat awan cerah ganda campuran Indonesia yang ditinggal pensiun oleh dua bintangnya Liliyana Natsir dan Debby Susanto di awal tahun 2019.</p>
<p>Praveen mencatatkan dirinya sebagai pemain ganda campuran pertama yang meraih gelar juara All England dengan dua pasangan yang berbeda. Setelah juara tahun 2016 dengan Debby Susanto, Praveen kembali menjadi juara di All England 2020 berpasangan dengan Melati. Praveen/Melati menaiki podium tertinggi setelah mengalahkan pasangan Dechapol Puavaranukroh/ Sapsiree Taerattanachai dari Thailand, 21-15, 17-21 dan 21-8.</p>
<p>Setelah vakum turnamen Internasional selama hampir satu tahun, Praveen/Melati Kembali terjun ke arena pertandingan pada bulan Januari 2021. Di turnamen Yonex Thailand Open 2021, Praveen/Melati harus puas menjadi runner up. Kali ini, mereka harus mengakui keunggulan Dechapol/Sapsiree, 3-21, 22-20 dan 18-21.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/1579164045_capture.jpeg"><img class="aligncenter wp-image-3778 size-full" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/1579164045_capture.jpeg" alt="1579164045_capture" width="1000" height="666" /></a></p>
<p><strong>Profil</strong></p>
<p>Nama                                    : Praveen Jordan</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 26 April 1993</p>
<p>Tempat Lahir                      : Bontang, Kalimantan Timur</p>
<p>Jenis Kelamin                     : Laki laki</p>
<p>Nama Ayah                         : Setiyo Lesmono</p>
<p>Nama Ibu                            : Herlince Sinambela</p>
<p>Pegangan Raket                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Medali emas SEA Games 2015 (/Debby Susanto)</p>
<p>Medali emas SEA Games 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Medali Perunggu Asian Games 2014 (Debby Susanto)</p>
<p>Juara All England Superseries Premier 2016 (/Debby Susanto)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; All England 2020 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750  Denmark Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 French Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Juara Korea Open Superseries 2017 (/Debby Susanto)</p>
<p>Juara India Grand Prix Gold 2016 (/Debby Susanto)</p>
<p>Juara New Zealand Open GP2013 (/Vita Marissa)</p>
<p>Juara Malaysia Open GPG2013 (/Vita Marissa)</p>
<p>Juara Indonesia Open GPG2013 (/Vita Marissa)</p>
<p>Juara ganda putra Indonesia International Challenge 2013 (/Didit Juang Indrianto)</p>
<p>Runner up Malaysia Open GPG 2014 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up Malaysia Master GPG 2015 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up Thailand Open GPG 2015 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up French Open SS 2015 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up Indonesia Masters GPG 2015 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up Hong Kong Open 2016 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up Swiss Open GPG 2017 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up Australia Open SS 2017 (/ Debby Susanto)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2018 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 300 &#8211; New Zealand Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 300 &#8211; Australian Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2019 (/Melati Daeva Oktavianti)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3776</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Melati Daeva Oktavianti</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3766</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3766#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 02:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3766</guid>
		<description><![CDATA[Pebulutangkis berparas cantik bernama Melati Daeva Oktavianti ini merupakan putri sulung dari pasangan Dauh Suhendar dan Eva Muzalivah. Melati lahir di Serang, Banten, 26 Oktober 1994. Saat usia tiga tahun, Melati sempat mengalami masalah dengan paru-parunya. Setelah berangsur-angsur sembuh, ayahnya ingin Melati lebih sehat. Mulailah Melati diperkenalkan dengan olah raga bulutangkis yang merupakan olah raga [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3767" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/5161635a9924e97cb2fb8939ba1d09c5.jpg"><img class="wp-image-3767 size-medium" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/5161635a9924e97cb2fb8939ba1d09c5-300x244.jpg" alt="5161635a9924e97cb2fb8939ba1d09c5" width="300" height="244" /></a><p class="wp-caption-text">Melati Daeva Oktavianti (Sumber Foto : PBDjarum)</p></div>
<p>Pebulutangkis berparas cantik bernama Melati Daeva Oktavianti ini merupakan putri sulung dari pasangan Dauh Suhendar dan Eva Muzalivah. Melati lahir di Serang, Banten, 26 Oktober 1994. Saat usia tiga tahun, Melati sempat mengalami masalah dengan paru-parunya. Setelah berangsur-angsur sembuh, ayahnya ingin Melati lebih sehat. Mulailah Melati diperkenalkan dengan olah raga bulutangkis yang merupakan olah raga kesukaan sang ayah.</p>
<p>Dari ajakan bermain dari ayahnya, Melati menyenangi olah raga tepok bulu ini. Dengan  dukungan ayahnya, Melati serius menggeluti bulutangkis. Ia bergabung dengan klub Ratih Banten yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. Tahun 2008 atau saat usia 14 tahun, Melati mengikuti seleksi masuk di klub PB Djarum. Melati berhasil melewati seleksi dengan baik dan diterima di klub yang banyak mencetak atlet-atlet bulutangkis handal tersebut.</p>
<p>Kemampuan Melati semakin terasa sejak berlatih di klub PB Djarum. Ini terlihat dari prestasi-prestasi yang dicapainya. Melati yang difokuskan bermain di nomor ganda, mulai berhasil merebut gelar juara diajang Sirnas tahun 2010. Melati yang berpasangan dengan Ririn Amelia, berhasil menjuarai nomor ganda taruna putri Sirnas DKI Jakarta dan Sirnas Sumatera di Medan tahun 2010.</p>
<p>Tak hanya di ganda putri, Melati juga tampil mengesankan di sektor ganda campuran. Tahun 2011, Melati meraih tiga gelar juara Sirnas di nomor ganda taruna putri dan dua gelar dari nomor ganda campuran taruna. Tiga gelar ganda putri diraihnya bersama Ririn Amelia pada Sirnas di Palangkaraya, Medan dan Bandung. Sedangkan di ganda campuran bersama Edi Subaktiar menjuarai Sirnas di Bandung dan Surabaya.</p>
<p>Memasuki tahun 2012, pasangannya di ganda putri Ririn Amelia dipanggil ke Pelatnas. Sedangkan Melati tetap berlatih di klubnya. Lalu, Melati dipasangkan dengan Rosyita Eka Putri Sari di ganda putri. Sementara di ganda campuran tetap berduet dengan Edi Subaktiar.</p>
<p>Diawal tahun 2012 ini, klub PB Djarum memberikan kesempatan kepada Melati untuk mengikuti tur ke Eropa pertama kalinya. Turnamen yang diikuti adalah Dutch Junior dan German Junior. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Melati. Di Dutch Junior, ia menjuarai nomor ganda campuran bersama Edi setelah mengalahkan Tam Chun Hei/Sin Ying Yuen (Hong Kong) di final dengan skor, 24-22, 21-23. Sedangkan di ganda putri bersama Rosyita hanya mencapai babak 16 besar.</p>
<p>Berikutnya di German Junior, giliran nomor ganda putri ditaklukan oleh Melati. Ia bersama Rosyita berhasil menaiki podium tertinggi setelah mengalahkan Joo I Jeon/Soo Yeon Yang (Korea), 21-9, 21-13. Hasil sebaliknya di ganda campuran dimana Melati/Edi terhenti di babak 16 besar. Dua gelar juara dari tur Eropa semakin mengukuhkan Melati sebagai pemain muda berpotensi.</p>
<p>Bulan Maret 2012, Melati kembali mendapat kesempatan ke Eropa untuk bertanding di Banuinvest International Series di Rumania. Ia kembali menjawab kepercayaan klub dengan menjadi juara di nomor ganda campuran dan semifinalis di sektor ganda putri. Kembali ke tanah air, Melati bersama Rosyita menyabet juara di ajang Walikota Surabaya Open 2012.</p>
<p>Namun sayang penampilannya di Kejuaraan Asia Junior yang berlangsung di Gimcheon, Korea, harus terhambat di babak perempat final pada kedua nomor. Di ganda campuran, Melati/Edi kalah dari Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (Tiongkok), 13-21, 16-21. Sedangkan Melati/Rosyita ditaklukan Shin Seung Chan/Lee So Hee (Korea), 6-21, 10-21.</p>
<p><strong>Raih Gelar Juara Dunia Junior 2012</strong></p>
<p>Kegagalan di Kejuaraan Asia Junior menjadi pelajaran bagi Melati pada Kejuaraan Dunia Junior 2012 yang berlangsung di Chiba, Jepang. Melati bersama Edi berhasil melewati babak penyisihan dengan mudah termasuk mengalahkan Jung Jae Wook/Shin Seung Chan (korea), 21-14, 21-19 di babak perempat final. Lalu di semifinal, Melati/Edi menundukan Liu Yu Chen/Chen Qing Chen (Tiongkok) dengan rubber game, 14-21, 21-18 dan 21-11. Puncaknya mengalahkan rekannya sendiri Alfian Eko Prasetyo/Shella Devi Aulia di babak final dengan skor, 21-17 dan 21-13 sekaligus memastikan gelar juara dunia junior.</p>
<p>Sementara di nomor ganda putri, Melati/Rosyita kalah di babak perempat final dari Mei Kuan Chow/Lee Meng Yean (Malaysia), 18-21, 21-14, 12-21. Sekembalinya ke tanah air, Melati menyabet juara ganda putri Walikota Surabaya Cup bersama Rosyita. Kemudian, dua gelar juara ganda campuran diajang Sirnas DKI Jakarta dan Jawa Barat berhasil diamankan bersama Edi Subaktiar.</p>
<p>Di penghujung tahun 2012, Melati meraih “double winners” dalam ajang Kejurnas Taruna PBSI dari nomor ganda putri dan ganda campuran dengan kedua pasanganya. Berbagai keberhasilannya, Melati diminta untuk bergabung ke dalam skuat Pelatnas mulai awal tahun 2013.</p>
<p>Awal yang berat buat Melati setelah melepas status sebagai pemain junior. Ia harus bersaing dengan para pebulutangkis terkuat dunia. Melati yang berkonsentrasi di nomor ganda putri bersama Rosyita, belum mampu menembus babak empat besar turnamen kelas atas. Prestasi terbaiknya adalah runner up Maldives International Challenge 2913 setelah kalah dari rekannya Maretha Dea Giovani/Melvira Oklamona, 15-21, 15-21 di babak final.</p>
<p>Memasuki tahun 2014, Melati dipasangkan dengan Melvira Oklamona. Di beberapa kesempatan, ia juga bermain rangkap di nomor ganda campuran. Penampilan Melati/Melvira di Vietnam International Challenge 2014, membuahkan prestasi sebagai runner up. Mereka kalah di babak final dari Yano Chiemi/Yumiko Nishiyama (Jepang), 12-21, 20-22. Sementara di ganda campuran, Melati berduet dengan Ronald Alexander hanya mencapai babak perempat final.</p>
<p>Berikutnya di New Zealand Open GP, Melati/Melvira terhenti di babak kedua. Namun Melati yang berduet kembali dengan Edi Subaktiar di ganda campuran, berhasil menduduki posisi kedua. Mereka kalah dari rekannya Alfian Eko Prasetyo/Annisa Saufika, 18-21, 21-17, 12-21 di babak final.</p>
<p>Gelar juara akhirnya bisa diraih kembali oleh Melati. Ia tampil sebagai juara ganda campuran Indonesia International Challenge 2014 bersama Ronald Alexander. Mereka mengalahkan Muhammad Rijal/Vita Marissa, 7-11, 11-4, 11-6, 11-7 di babak final. Sedangkan di ganda putri, Melati/Melvira kalah dari Suci Rizky Andini/Tiara Rosalia Nuraida, 9-11, 8-11, 8-11 di babak semifinal. Penggunaan skor sampai dengan angka 11 ini, merupakan uji coba dari badan bulutangkis dunia.</p>
<p>Di turnamen berikutnya New Zealand Open GP 2014, Melati/Ronald tidak bisa mengulagi kemenangannya atas Rijal/Vita. Mereka kalah dari seniornya tersebut di babak semifinal dengan skor, 11-21, 18-21. Melati/Ronald juga mencapai semifinal di Bulgaria International Challenge 2014. Namun mereka tidak bisa mengatasi pasangan Jerman Max Schwenger/Carla Nelte dan kalah, 17-21, 18-21.</p>
<p>Kebersamaan Melati dan Ronald terus berlanjut di tahun 2015. Bahkan Melati tidak turun lagi di nomor ganda putri. Pasangan ini menembus babak final Austrian Open International Challenge 2015. Namun mereka harus merelakan gelar juara kepada rekannya Edi Subaktiar/Gloria Emanulle Widjaja setelah kalah dengan skor 21-15, 20-22, 18-21.</p>
<p>Setelah terhempas di babak penyisihan dalam beberapa turnamen, Melati/Ronald mampu melangkah ke babak empat besar Chinese Taipei GPG 2015. Namun laju mereka diredam Shin Baek Cheol/Chae Yoo Jung (Korea), 18-21, 10-21. Tiga bulan setelahnya, Melati/Ronald kembali tampil dengan baik di Taipei. Mereka lolos ke babak final Chinese Taipei GP 2015. Pasangan ini merebut gelar juara setelah menundukan pasangan tuan rumah Ko Chi Chang/Hsin Tien Chang, 21-18, 25-27, 21-15. Terobosan ke babak empat berikutnya terjadi di Macau Open GPG. Mereka kalah dari Choi Solgyu/Eom Hye Won 19-21, 19-21 di semifinal.</p>
<p>Sepanjang tahun 2015, Melati/Ronald  mengalami penurunan. Tidak ada prestasi yang mengesankan dari pasangan ini. Mereka kembali bangkit di Indonesia Masters GPG yang berlangsung di Balikpapan pada bulan September 2016. Melati/Ronals meraih gelar juara setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia), 21-16, 21-17. Prestasi Melati lainnya di tahun 2016 ini adalah meraih medali emas ganda campuran bulutangkis pada Pekan Olah raga Nasional (PON) XIX  Jawa Barat. Ia meraihnya bersama pasangannya Praveen Jordan yang mewakili provinsi Jawa Tengah.</p>
<p>Tujuh turnamen BWF diikuti Melati/Ronald dari awal hingga pertengahan tahun 2017. Namun mereka hanya berkutat di babak pertama sampai babak kedua. Pada bulan September 2017, Melati dicoba berpasangan dengan Alfian Eko Prasetyo. Debut Melati/Alfian langsung menghasilkan gelar juara di ajang Vietnam Open Grand Prix 2017. Pasangan ini mengalahkan rekannya Riky Widianto/Masita Mahmudin, 21-14, 21-14 di babak final. Setelah itu, Melati/Alfian kalah di babak 16 besar Macau Open GPG, 16 besar Hong Kong Open Superseries dan perempat final Gwangju Korea Masters 2017.</p>
<p><strong>Reuni Dengan Praveen Jordan</strong></p>
<div id="attachment_3768" style="width: 810px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/1520823305_capture.jpg"><img class="wp-image-3768 size-full" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/1520823305_capture.jpg" alt="1520823305_capture" width="800" height="533" /></a><p class="wp-caption-text">Praveen &amp; Melati kembali bersatu (Sumber foto : PB Djarum)</p></div>
<p>Pelatih Pelatnas PBSI memasangkan Melati dengan Praveen Jordan diawal tahun 2018. Melati dan Praveen pernah berpasangan sebelumnya dan meraih medali emas PON 2016. Penampilan perdana mereka tahun 2018 ini adalah di turnamen Malaysia Masters super 500. Di babak pertama, mereka berhasil mengalahkan lawan kuat Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), 25-23, 21-16. Namun kalah di babak kedua dari pasangan Tiongkok Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 16-21, 12-21 di babak kedua.</p>
<p>Hasil menggembirakan dicapai pada turnamen kedua dimana Melati/Praveen mencapai babak semifinal. Namun mereka harus menyerah dari seniornya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, 20-22, 17-21. Melati/Praveen menembus babak final di turnamen ketiga di BWF World Tour Super 500-India Open 2019. Sayang, gelar juara belum bisa diraih. Mereka kalah dari Mathias Christiansen/Christinna Pedersen, 14-21, 15-21.</p>
<p>Tetapi setelahnya, Melati/Praveen gagal ke babak 4 besar dalam 15 turnamen berturut-turut. Mereka baru mencicipi babak semifinal kembali di BWF World Tour Super 300 &#8211; Korea Masters yang berlangsung pada penghujung tahun 2018.</p>
<p>Melati/Praveen mencicipi babak empat besar turnamen bergengsi All England 2019. Namun mereka belum mampu melangkah lebih jauh setelah ditundukan Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 21-13, 20-22, 13-21. Setelahnya, dari beberapa turnamen yang diikuti, Praveen/Melati menembus babak final di empat turnamen yakni India Open (super 500), New Zealand Open (super 300), Australian Open (super 300) dan Japan Open (super 750). Di India, Australia dan Jepang, mereka kalah dari lawan yang sama, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (Tiongkok). Sedangkan di Australia, kalah dari Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia).</p>
<p>Seolah tak mau dijuluki sebagai spesialis runner up, Praveen/Melati berhasil menaiki poium tertinggi. Momen kebangkitan Praveen/Melati berhasil diraih dalam dua pekan tur Eropa di bulan Oktober 2019. Dimulai dari Denmark Open (super 750), Melati/Praveen mengalahkan pasangan peringkat satu dunia, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, 18-21, 21-16 dan 22-20 di babak perempat final. Lalu menang mudah atas Wang Chi Lin/Cheng Chi Ya (Chinese Taipei), 21-12 dan 21-12 di semifinal. Gelar juara dipastikan setelah mengandaskan musuh bebuyutanya Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping di babak final dengan skor 21-18, 18-21 dan 21-19.</p>
<p>Pekan berikutnya, Melati/Praveen kembali tampil gemilang. Setelah melewati dua babak awal French Open (super 750), mereka mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), 21-14, 21-7. Lalu, mengalahkan pasangan suami-istri Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris), 21-19, 21-12. Di babak final, Melati/Praveen kembali bertemu Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan berhasil menang dengan, 22-24, 21-16 dan 21-12. Mereka meraih dua gelar berturut-turut sekaligus mengalah pasangan peringkat 1 dunia dua kali dalam dua pekan. Keberhasilan ini membuat nama Praveen/Melati masuk dalam nominasi “Most Improved Players of the Year 2019”, walaupun akhirnya tidak terpilih sebagai pemenang.</p>
<p>Melati/Praveen berhasil meraih medali emas di ajang SEA Games ke-30 yang berlangsung di Manila, Philipina. Mereka berhasil mengubur impian pasangan Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai di pertandingan pamungkas dengan skor, 21-19, 19-21 dan 23-21. Kiprah Melati/Praveen ini sepanjang tahun 2019, mengantarkan mereka menduduki peringkat ke-5 ganda campuran dunia.</p>
<p>Sebagai pebulutangkis, Melati bercita-cita meraih tiga gelar yang paling diidamkan yaitu All England, juara dunia dan medali emas Olimpiade. Terwujudlah salah satunya setelah ia bersama Praveen menjuarai All England 2020. Pasangan ini berhasil menumbangkan pasangan Dechapol Puavaranukroh/ Sapsiree Taerattanachai dari Thailand, 21-15, 17-21 dan 21-8 di babak final.</p>
<p>Setelah vakum turnamen Internasional selama hampir satu tahun, Praveen/Melati Kembali terjun ke arena pertandingan pada bulan Januari 2021. Di turnamen Yonex Thailand Open 2021, Praveen/Melati harus puas menjadi runner up. Kali ini, mereka harus mengakui keunggulan Dechapol/Sapsiree, 3-21, 22-20 dan 18-21.</p>
<p><strong>Profil</strong></p>
<p>Nama                                    : Melati Daeva Oktavianti</p>
<p>Tanggal Lahir                      : 26 Oktober 1994</p>
<p>Tempat Lahir                      : Serang, Banten</p>
<p>Jenis Kelamin                     : Perempuan</p>
<p>Nama Ayah                         : Dauh Suhendar</p>
<p>Nama Ibu                            : Eva Muzalivah</p>
<p>Pegangan Raket                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prestasi</p>
<p>Juara World Junior Championships 2012 (/Edi Subaktiar)</p>
<p>Medali emas SEA Games 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; French Open 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Juara     Vietnam Open GP 2017 (/Alfian Eko Prasetyo)</p>
<p>Juara     Chinese Taipei GP 2015 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Juara     Indonesia International Challenge 2014 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Juara     Tangkas Spec Junior International 2012 (/Edi Subaktiar)</p>
<p>Juara     Tangkas Spec Junior International 2012 (/Rosyita Eka Putri)</p>
<p>Juara     Bannuinvest International Series 2012 (/Edi Subaktiar)</p>
<p>Juara     German Junior 2012 (/Rosyita Eka Putri)</p>
<p>Juara     Dutch Junior 2012 (/Edi Subaktiar)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 1000 &#8211; Yonex Thailand Open 2021 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 300 &#8211; Australian Open 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 300 &#8211; New Zealand Open 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2018 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Runner up Austrian Open IC 2015 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Runner Up New Zealand Open GP 2014 (/Edi Subaktiar)</p>
<p>Runner Up Vietnam International Challenge 2014 (/Melvira Oklamona)</p>
<p>Runner up Maldives International Challenge 2013 (/Rosyita Eka Putri)</p>
<p>Semifinalis  BWF World Tour Super 1000 &#8211; All England 2019 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis BWF World Tour Super 300 Gwangju Korea Masters 2018 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2018 (/Praveen Jordan)</p>
<p>Semifinalis Macau Open GPG 2015 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Semifinalis Chinese Taipei GPG 2015 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Semifinalis Bulgarian International Challenge 2014 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Semifinalis Vietnam Open GP 2014 (/Ronald Alexander)</p>
<p>Semifinalis Indonesia International Challenge (/Melvira Oklamona)</p>
<p>Semifinalis Singapore International Series (/Rosyita Eka Putri)</p>
<p>Semifinalis Bannuinvest International Series (/Rosyita Eka Putri)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3766</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Marcus Fernaldi Gideon</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3762</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3762#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 00:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3762</guid>
		<description><![CDATA[Marcus Fernaldi Gideon dikenal sebagai sosok pebulutangkis yang tangguh dan pantang menyerah. Duetnya dengan Kevin Sanjaya di sektor ganda putra, telah mengantarkannya merebut berbagai gelar juara bergengsi internasional. Kesuksesannya menjuarai All England 2017, menaikkan peringkatnya menjadi ganda peringkat satu dunia. Marcus lahir di Jakarta, 9 Maret 1991 anak dari pasangan Kurniahu dan Sujati Iskandar. Ia [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-09-at-07.47.09.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3763" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-09-at-07.47.09-300x200.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-09 at 07.47.09" width="300" height="200" /></a>Marcus Fernaldi Gideon dikenal sebagai sosok pebulutangkis yang tangguh dan pantang menyerah. Duetnya dengan Kevin Sanjaya di sektor ganda putra, telah mengantarkannya merebut berbagai gelar juara bergengsi internasional. Kesuksesannya menjuarai All England 2017, menaikkan peringkatnya menjadi ganda peringkat satu dunia.</p>
<p>Marcus lahir di Jakarta, 9 Maret 1991 anak dari pasangan Kurniahu dan Sujati Iskandar. Ia tumbuh didalam keluarga yang akrab dengan bulu tangkis. Ayahnya merupakan mantan atlet bulutangkis Indonesia dan kemudian menjadi pelatih di klub PB Tangkas. Sang ayah pulalah yang membentuk Marcus kecil menjadi seorang pebulutangkis.</p>
<p>Marcus terpilih sebagai pemain Pelatnas tahun 2010 sebagai pemain tunggal putra. Namun tahun 2011, ia pindah ke nomor ganda putra berpasangan dengan Agripinna Prima Rahmanto Putra. Duet ini berhasil meraih gelar juara Singapore Internasional Series 2011 setelah mengalahkan Kevin Sanjaya/Lukhi Apri Nugroho di babak final. Marcus/Agripinna mencatatkan prestasi lainnya, juara Iran Fajr International 2012, runner up Vietnam International Challenge 2012 dan Osaka International Challenge 2012 serta semifinalis India Terbuka Grand Prix Gold 2012. Di India, mereka dihentikan pasangan kuat asal Korea Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun, 17-21, 23-21, 18-21.</p>
<p>Tahun 2013, Marcus menyatakan mundur dari Pelatnas. Hal itu terjadi karena polemik karena tidak dikirimnya Marcus/Agripinna ke ajang All England. Sementara rekan-rekan Pelatnasnya yang dikirim, terdapat yang berperingkat dibawah mereka. Meskipun sudah tidak menjadi atlet Pelatnas, Marcus tetap giat berlatih dan mengikuti turnamen secara mandiri.</p>
<p>Nasib baik memayungi Marcus. Ia digandeng oleh salah seorang pemain ganda terbaik Indonesia Markis Kido. Bersama sang peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 tersebut, sinar Marcus semakin memancar. Marcus berhasil meraih gelar superseriesnya pertama di turnamen French Open 2013. Di babak final Marcus/Kido menundukkan pasangan kuat asal negeri jiran Tan Boon Heong/Koo Kean Keat, 21-16 dan 21-18.</p>
<p>Tahun 2014, Markus/Kido menjuarai turnamen Indonesia Masters Grand Prix Gold setelah mengalahkan Selvanus Geh/Kevin Sanjaya Sukomuljo di partai puncak dengan 21-17, 20-22 dan 21-14. Pasangan Markus/Kido juga mampu menembus babak semifinal Malaysia Grand Prix Gold dan All England. Di turnamen tertua di dunia, All England, mereka kalah dari Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.</p>
<p>Tahun 2015, tim pelatih Pelatnas ganda putra memanggil kembali Marcus untuk bergabung. Hal ini disebabkan pemain Pelatnas Selvanus Geh harus istirahat panjang karena sakit. Marcus lalu menjadi pengganti Selvanus sebagai tandemnya Kevin Sanjaya. Diawal berpasangan, mereka sudah menunjukkan potensi walaupun sering terjegal di babak-babak akhir. Sepanjang 2015, Marcus/Kevin mencatatkan prestasi antara lain semifinalis Swiss Open GPG, Vietnam Terbuka GP, Chinese Open GPG, Medali perak SEA Games, runner up Chinese Taipei Open GPG dan juara Chinese Taipei GP.</p>
<p>Tahun 2016, Marcus/Kevin menggebrak dengan raihan gelar juara Malaysia Master GPG. Kemudian gelar superseries pertama diraih di India dan mendapatkan gelar superseries tambahan di Australia Terbuka. Namun, Marcus sempat mengalami cedera sehingga Kevin tampil di Indonesia Master GPG bersama Wahyu Nayaka.</p>
<p>Setelah Gideon sembuh dari cedera, Gideon/Kevin kembali membuat prestasi besar. Mereka meraih gelar superseries premier pertama di China Open. Dibabak final, mereka mengalahkan pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen21-18 dan 22-20.</p>
<p>Maret 2017, Marcus/Kevin mencatatkan prestasi dengan tinta emas. Mereka menjuarai turnamen tertua di dunia All England. Di babak final, Marcus /Kevin mengalahkan wakil China Liu Yuchen/Li Junhui, 21-19 dan 21-14. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan mereka menempati peringkat ganda putra nomor satu dunia. Kesuksesan semakin lengkap dengan keberhasilan pasangan yang dijuluki “the minions” ini berhasil mencetak hattrick di turnamen superseries. Setelah sukses di All England, mereka menjuarai India Open Superseries dengan mengalahkan rekannya Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Malaysia Open Superseries setelah menundukkan Fu Haifeng/Zheng Siwei (Tiongkok) di babak final. Namun karena kelelahan Kevin/Gideon tak berhasil membuat rekor empat kali berturut-turut. Di turnamen Singapore Open, mereka kalah di babak semifinal dari Mathias Boe/Carsten Mogensen.</p>
<p>Marcus /Kevin terus melanjutkan tren kemenangannya dengan menjuarai Japan Open Superseries, mempertahankan gelar China Open Superseries Premier dan Hong Kong Open superseries. Dengan enam gelar, mereka meraih gelar superseries dan superseries terbanyak di tahun 2017, sekaligus menyamai rekor sebelumnya yang dibuat pasangan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dari Korea, tahun 2015. Bahkan rekor pasangan Korea tersebut berhasil dilampaui karena Marcus/Kevin menjuarai BWF World Superseries Final 2017 di Dubai. Atas berbagai prestasi tersebut Kevin dan Gideon mendapat penghargaan akhir tahun dari BWF sebagai “Male Player of The Years 2017”</p>
<p>Tahun 2018 terdapat perubahan nama level turnamen dari sebelumnya menggunakan nama superseries premier, super series, grand prix gold dan grand prix menjadi BWF World Tour Super 1000, 750, 500, 300 dan BWF Tour super 100. Di era baru ini, Kevin/Gideon yang berjuluk the minions ini terus merajai gelanggang. Tak tanggung-tanggung, delapan gelar BWF World Tour Super berhasil diraih.</p>
<p>Dimulai dari menjuarai BWF World Tour super 500-Indonesia Masters 2018 dengan mengalahkan Liu Yuchen/Li Junhui (Tiongkok), 11-21, 21-10, 21-16 di babak final. Kemudian memenangkan BWF World Tour Super 500-India Open 2018 setelah menaklukan Kim ASTRUP /Anders Skaarup RASMUSSEN (DEN), 21-14, 21-16 di partandingan pamungkas.  Kemenangan ini sekaligus mencetak hattrick dengan menjadi juara tiga tahun berturut-turut di ajang India Open.</p>
<p>Minions juga sukses mempertahankan gelar juara All England 2018 yang menjadi turnamen level  BWF World Tour Super 1000. Di pertandingan akhir, mereka menundukan Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark), 21-17, 21-18. Disusul dengan gelar BWF World Tour Super 1000 yakni Indonesia Open 2018. Tanpa kesulitan yang berarti, minions mengalahkan Takuto Inoue/ Yuki Kaneko (Jepang), 21-13, 21-16 di babak final.</p>
<p>Gelar berikutnya yang diraih adalah juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2018. Di pertandingan puncak, mereka kembali unggul atas Liu Yuchen/Li Junhui (Tiongkok), 21-11, 21-13. Lalu BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2018 dengan mengalahkan Takeshi KAMURA/ Keigo SONODA (Jepang), 21-15, 21-16. Kemudian BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China Open 2018 setelah menuntaskan perlawanan He Jiting/ Tan Qiang (Tiongkok), 25-27, 21-17, 21-15. Dan kedelapan, BWF World Tour Super 500 &#8211; Hong Kong Open 2018 dengan menaklukan Takeshi Kamura/ Keigo Sonoda (Jepang), 21-13, 21-12.</p>
<p>Selain itu minions mencatat prestasi gemilang dengan meraih medali emas ganda putra Asian Games 2018. Di hadapan publik Istora Senayan Jakarta, minions mengalahkan rekannya sendiri Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto, 13-21, 21-18, 24-22.</p>
<p>Di penghujung tahun 2018, minions harus mundur dari ajang BWF World Tour Finals karena Gideon mengalami cedera di otot leher bagian kanan belakang. Namun mereka kembali meraih penghargaan Male Player of The Year tahun 2018.</p>
<p>Kebangkitan pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan atau yang dijuluki the Daddies menjadi warna tersendiri pada persaingan di tahun 2019. Pertarungan final antara Minions dan Daddies terjadi pada lima turnamen, yakni BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2019, BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2019, BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2019, BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2019 dan BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2019. Minions memenangkan seluruh pertarungan tersebut sekaligus memastikan gelar juara.</p>
<p>Minions juga meraih tiga gelar juara lainnya BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters 2019 setelah mengalahkan Ong Yew Sin/ Teo Ee Yi (Malaysia), 21-15 dan 21-16. Lalu BWF World Tour Super 750 &#8211; French Open 2019 dengan menaklukan Satwiksairaj Rankireddy /Chirag Shetty (India), 21-18, 21-16 dan BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China  Open 2019 setelah menundukan Takeshi Kamura/ Keigo Sonoda (Jepang), 21-17, 21-19.</p>
<p>Namun pada tiga turnamen bergengsi All England, Kejuaraan Dunia dan BWF World Tour Final 2019, justru dijuarai oleh Daddies. Sepanjang 2019, minions mengalami kesulitan bila bertemu pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Minion selalu mengalami kekalahan dalam lima kali pertemuan dengan Endo/Watanabe di tahun 2019. Padahal dua pertemuan di tahun 2018 dimenangkan minions. Hal ini berbanding terbalik dengan Daddies yang memenangkan semuanya dari lima kali pertemuan dengan Endo/Watanabe sepanjang tahun 2019.</p>
<p>Memasuki tahun 2020, minions mengikuti turnamen BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters, namun kiprah terhenti di perempat final. Mereka kalah dari rekannya Fajar/Rian. Pekan berikutnya, minions menambah gelar juaranya dengan memenangkan BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020. Mereka kembali unggul atas Daddies di babak final dengan skor, 21-15 dan 21-16. Kemenangan ini sekaligus semakin mengukuhkan Minions dan Daddies sebagai pasangan ganda peringkat satu dan dua dunia.</p>
<p>Sayangnya, minion harus kembali takluk dari Endo/Watanabe di babak final turnamen bergengsi BWF World Tour Super 1000 &#8211; All England Open 2020. Mereka kalah dalam bertarungan ketat yang berkahir dengan skor, 18-21, 21-12 dan 19-21. Turnamen All England ini merupakan turnamen terakhir yang diikuti Minons sebelum semua pertandingan ditunda atau dibatalkan karena merebaknya wabah penyakit Covid-19 di seluruh dunia.</p>
<p>Sementara dari luar gelanggang, Gideon melepas masa lajangnya tanggal 14 April 2018. Ia menikahi kekasihnya Agnes Amelia Mulyadi yang merupakan seorang dokter. Resepsi pernikahannya berlangsung di Grand Ballroom Hotel Fairmont, Jakarta. Kebahagian Gideon semakin bertambah setelah tanggal 29 Januari 2019, sang istri melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Marcus Fernaldi Gideon Junior. Lalu kemudian menyusul anak keduanya, seorang putri yang lahir tanggal 29 Januari 2021. Anak kedua ini diberi nama Jemima Frederica Gideon.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-09-at-07.47.18.jpeg"><img class="aligncenter wp-image-3764 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-09-at-07.47.18-1024x682.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-09 at 07.47.18" width="1024" height="682" /></a></p>
<p><strong>Profil</strong></p>
<p>Nama                                                                    : Marcus Fernaldi Gideon</p>
<p>Tanggal Lahir                                                      : 9 Maret 1991</p>
<p>Tempat Lahir                                                      : Jakarta</p>
<p>Nama Ayah                                                         : Kurniahu</p>
<p>Nama Ibu                                                            : Sujati Iskandar Bachtiar</p>
<p>Nama Istri                                                           : Agnes Amelinda Muljadi</p>
<p>Nama anak                                                         : Marcus Fernaldi Gideon Junior &amp; Jemima Frederica Gideon</p>
<p>Pegangan Raket                                                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Prestasi</strong></p>
<p>Juara Singapore International Series 2011 (/Agripinna Prima Rahmanto Putra)</p>
<p>Juara Iran Fajr International Challenge 2012 (/Agripinna Prima Rahmanto Putra)</p>
<p>Juara French Open SS 2013 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Indonesia Masters GPG 2014 (/Markis Kido)</p>
<p>Juara Chinese Taipei GP 2015 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara Malaysia Masters GPG 2016 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara India Open Superseries 2016 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara Australian Open SS 2016 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara China Open SSP 2016 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara All England SSP 2017 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara India Open SS 2017 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara Malaysia Open SS 2017 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara Japan Open SS 2017 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara China Open SSP 2017 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara Hong Kong Open SS 2017 (/Kevin Sanjaya Sukamuljo)</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 1000 &#8211; All England Open 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2018</p>
<p>Juara     Asian Games 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China Open 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 500 &#8211; Hong Kong Open 2018</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; French Open 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China  Open 2019</p>
<p>Juara     BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3762</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Kevin Sanjaya Sukamuljo</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3751</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3751#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2021 02:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=3751</guid>
		<description><![CDATA[Kevin Sanjaya Sukamuljo merupakan salah satu pemain Indonesia yang disebut-sebut mempunyai bakat alami. Pukulannya yang unik dan terkadang disebut juga pukulan “ajaib” menjadi andalannya menembus jajaran pebulutangkis papan atas. Duetnya dengan Marcus Fernaldi Gideon, mengantarnya meraih gelar-gelar juara dan mencapai peringkat satu dunia. Kevin lahir, 2 Agustus 1995 di Banyuwangi, merupakan anak bungsu dari pasangan [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-08-at-09.55.46-4.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3753" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-08-at-09.55.46-4-300x200.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-08 at 09.55.46 (4)" width="300" height="200" /></a>Kevin Sanjaya Sukamuljo merupakan salah satu pemain Indonesia yang disebut-sebut mempunyai bakat alami. Pukulannya yang unik dan terkadang disebut juga pukulan “ajaib” menjadi andalannya menembus jajaran pebulutangkis papan atas. Duetnya dengan Marcus Fernaldi Gideon, mengantarnya meraih gelar-gelar juara dan mencapai peringkat satu dunia.</p>
<p>Kevin lahir, 2 Agustus 1995 di Banyuwangi, merupakan anak bungsu dari pasangan Sugiarto Sukomuljo dan Winartin. Nama Kevin diberikan ayahnya karena terinspirasi dari tokoh film Home Alone, dimana tokoh tersebut digambarkan sebagai anak yang pemberani. Lalu Sanjaya berasal dari kata &#8216;Sun&#8217; yang berarti matahari lalu ditambah kata Jaya. Sedangkan nama Sukamuljo merupakan marga sang ayah.</p>
<p>Kevin kecil mulai mengenal bulutangkis dari menonton ayahnya yang hobi bermain bulu tangkis. Di belakang rumah keluarga Kevin memang ada lapangan bulu tangkis. Saat usia 5 tahun, bakat Kevin sudah mulai terlihat oleh sang ayah. Karena itulah ayahnya mencarikan pelatih di Jember buat Kevin. Selama setahun, Kevin harus bolak-balik Banyuwangi – Jember untuk berlatih. Lalu, setelah beberapa lama, Kevin bergabung ke klub PB Sari Agung, Banyuwangi.</p>
<p>Tahun 2006, Kevin mengikuti Audisi Umum PB Djarum. Ia gagal diterima menjadi atlet klub yang telah banyak mencetak atlet berprestasi ini. Namun ia tidak putus asa, Kevin mencoba kembali tahun berikutnya. Sebagai persiapan, Kevin berlatih lebin intensif. Kevin pun berhasil lolos Audisi Umum PB Djarum tahun 2007. Diusianya yang masih 11 tahun, Kevin sudah harus berpisah dengan orang tuanya untuk berlatih di markas PB Djarum di kota Kudus, Jawa Tengah.</p>
<p>Selama berlatih di Kudus sebagai pemain tunggal putra, Kevin belum bisa memperlihatkan prestasi. Tahun 2010, Kevin diminta pindah ke nomor ganda dan berlatih di Petamburan, Jakarta. Kevin sempat menolak, walaupun kemudian ia mau mencobanya. Diawal kepindahannya, Kevin masih diberikan kesempatan bertanding di dua nomor, tunggal dan ganda putra. Namun ternyata, ia mulai menunjukkan prestasi di ganda sehingga ia pun menekuni nomor ganda secara total.</p>
<p>Kevin yang awalnya berpasangan dengan Arya Maulana, mulai meraih gelar juara di berbagai ajang Sirnas dan Swasta nasional di kelompok umurnya. Ia sempat beberapa kali ganti pasangan diantaranya dengan Felix Kinalsal dan Rafidias Akhdan Nugroho. Dipenghujung tahun 2012, ia bersama Rafiddias berhasil menjuarai ganda putra Kejurnas Taruna. Berdasarkan prestasi tersebut dan berbagai prestasi lainnya, Kevin terpilih menjadi anggota Pelatnas di awal tahun 2013.</p>
<p>Di tahun pertama bergabung di Pelatnas, Kevin mempersembahkan medali perak Kejuaraan Dunia Junior dari sektor ganda campuran. Ia berpasangan dengan Masita Mahmudin, harus mengakui keunggulan pasangan China Huang Kaixiang/Chen Qingchen di final.</p>
<p>Torehan prestasi internasional semakin terlihat setelah Kevin merebut beberapa gelar juara di tahun 2014. Kevin yang berduet dengan Selvanus Geh mampu menjuarai Vietnam International Challenge, Bulgaria International Challenge dan New Zealand Open Grand Prix. Di level yang lebih tinggi, Indonesia Grand Prix Gold, Kevin/Selvanus meraih posisi runner up. Mereka kalah dari Markis Kido/Marcus Fernaldi Gideon di babak final. Namun sayang, disaat prestasinya mulai menanjak, sang pasangan Selvanus Geh menderita sakit yang mengharuskan istirahat panjang.</p>
<p>Untuk mengisi kekosongan tersebut, tim pelatih ganda putra memanggil kembali Marcus Fernaldi Gideon untuk bergabung ke Pelatnas. Gideon lalu menjadi tandem Kevin. Diawal berpasangan , mereka sudah menunjukkan potensi walaupun sering terjegal di babak-babak akhir. Sepanjang 2015, Kevin/Gideon mencatatkan prestasi antara lain semifinalis Swiss Open GPG, Vietnam Open GP, Chinese Open GPG, Medali perak SEA Games, runner up Chinese Taipe Open GPG dan juara Chinese Taipei GP.</p>
<p>Tahun 2016, Kevin/Gideon menggebrak dengan raihan gelar juara Malaysia Master GPG. Kemudian gelar superseries pertama diraih di India dan mendapatkan gelar superseries tambahan di Australia Open. Namun, Gideon sempat mengalami cedera sehingga Kevin tampil di Indonesia Master GPG bersama Wahyu Nayaka. Meskipun pasangan dadakan, mereka berhasil menjadi juara. Setelah Gideon sembuh dari cedera, Kevin/Gideon kembali membuat prestasi besar. Mereka meraih gelar superseries premier pertama di China Open. Dibabak final, mereka mengalahkan pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, 21-18 dan 22-20.</p>
<p>Maret 2017, Kevin/Gideon mencatatkan prestasi dengan tinta emas. Mereka menjuarai turnamen tertua di dunia All England. Di babak final, Kevin/Gideon mengalahkan wakil China Liu Yuchen/Li Junhui, 21-19 dan 21-14. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan mereka menempati peringkat ganda putra nomor satu dunia. Kesuksesan semakin lengkap dengan keberhasilan pasangan yang dijuluki “the minions” ini berhasil mencetak hattrick di turnamen superseries.</p>
<p>Setelah sukses di All England, mereka menjuarai India Open Superseries dengan mengalahkan rekannya Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Malaysia Open Superseries setelah menundukkan Fu Haifeng/Zheng Siwei (Tiongkok) di babak final. Namun karena kelelahan Kevin/Gideon tak berhasil membuat rekor empat kali berturut-turut. Di turnamen Singapore Open, mereka kalah di babak semifinal dari Mathias Boe/Carsten Mogensen.</p>
<p>Kevin/Gideon terus melanjutkan trend kemenangannya dengan menjuarai Japan Open Superseries, mempertahankan gelar China Open Superseries Premier dan Hong Kong Open superseries. Dengan enam gelar, mereka meraih gelar superseries dan superseries terbanyak di tahun 2017, sekaligus menyamai rekor sebelumnya yang dibuat pasangan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dari Korea, tahun 2015. Bahkan rekor pasangan Korea tersebut berhasil dilampaui karena Kevin/Gideon menjuarai BWF World Superseries Final 2017 di Dubai. Atas berbagai prestasi tersebut Kevin dan Gideon mendapat penghargaan akhir tahun dari BWF sebagai “Male Player of The Years 2017”</p>
<p>Tahun 2018 terdapat perubahan nama level turnamen dari sebelumnya menggunakan nama superseries premier, super series, grand prix gold dan grand prix menjadi BWF World Tour Super 1000, 750, 500, 300 dan BWF Tour super 100. Di era baru ini, Kevin/Gideon yang berjuluk the minions ini terus merajai gelanggang. Tak tanggung-tanggung, delapan gelar BWF World Tour Super berhasil diraih.</p>
<p>Dimulai dari menjuarai BWF World Tour super 500-Indonesia Masters 2018 dengan mengalahkan Liu Yuchen/Li Junhui (Tiongkok), 11-21, 21-10, 21-16 di babak final. Kemudian memenangkan BWF World Tour Super 500-India Open 2018 setelah menaklukan Kim Astrup /Anders Skaarup Rasmusen (Denmark), 21-14, 21-16 di partandingan pamungkas.  Kemenangan ini sekaligus mencetak hattrick dengan menjadi juara tiga tahun berturut-turut di ajang India Open.</p>
<p>Minions juga sukses mempertahankan gelar juara All England 2018 yang menjadi turnamen level  BWF World Tour Super 1000. Di pertandingan akhir, mereka menundukan Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark), 21-17, 21-18. Disusul dengan gelar BWF World Tour Super 1000 yakni Indonesia Open 2018. Tanpa kesulitan yang berarti, minions mengalahkan Takuto Inoue/ Yuki Kaneko (Jepang), 21-13, 21-16 di babak final.</p>
<p>Gelar berikutnya yang diraih adalah juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2018. Di pertandingan puncak, mereka kembali unggul atas Liu Yuchen/Li Junhui (Tiongkok), 21-11, 21-13. Lalu BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2018 dengan mengalahkan Takeshi KAMURA/ Keigo SONODA (Jepang), 21-15, 21-16. Kemudian BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China Open 2018 setelah menuntaskan perlawanan He Jiting/ Tan Qiang (Tiongkok), 25-27, 21-17, 21-15. Dan kedelapan, BWF World Tour Super 500 &#8211; Hong Kong Open 2018 dengan menaklukan Takeshi Kamura/ Keigo Sonoda (Jepang), 21-13, 21-12.</p>
<p>Selain itu minions mencatat prestasi gemilang dengan meraih medali emas ganda putra Asian Games 2018. Di hadapan publik Istora Senayan Jakarta, minions mengalahkan rekannya sendiri Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto, 13-21, 21-18, 24-22.</p>
<p>Di penghujung tahun 2018, minions harus mundur dari ajang BWF World Tour Finals karena Gideon mengalami cedera di otot leher bagian kanan belakang. Namun mereka kembali meraih penghargaan Male Player of The Year tahun 2018.</p>
<p>Kebangkitan pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan atau yang dijuluki the Daddies menjadi warna tersendiri pada persaingan di tahun 2019. Pertarungan final antara Minions dan Daddies terjadi pada lima turnamen, yakni BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2019, BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2019, BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2019, BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2019 dan BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2019. Minions memenangkan seluruh pertarungan tersebut sekaligus memastikan gelar juara.</p>
<p>Minions juga meraih tiga gelar juara lainnya BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters 2019 setelah mengalahkan Ong Yew Sin/ Teo Ee Yi (Malaysia), 21-15 dan 21-16. Lalu BWF World Tour Super 750 &#8211; French Open 2019 dengan menaklukan Satwiksairaj Rankireddy /Chirag Shetty (India), 21-18, 21-16 dan BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China  Open 2019 setelah menundukan Takeshi Kamura/ Keigo Sonoda (Jepang), 21-17, 21-19.</p>
<p>Namun pada tiga turnamen bergengsi All England, Kejuaraan Dunia dan BWF World Tour Final 2019, justru dijuarai oleh Daddies. Sepanjang 2019, minions mengalami kesulitan bila bertemu pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Minion selalu mengalami kekalahan dalam lima kali pertemuan dengan Endo/Watanabe di tahun 2019. Padahal dua pertemuan di tahun 2018 dimenangkan minions. Hal ini berbanding terbalik dengan Daddies yang memenangkan semuanya dari lima kali pertemuan dengan Endo/Watanabe sepanjang tahun 2019.</p>
<p>Memasuki tahun 2020, minions mengikuti turnamen BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters, namun kiprah terhenti di perempat final. Mereka kalah dari rekannya Fajar/Rian. Pekan berikutnya, minions menambah gelar juaranya dengan memenangkan BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020. Mereka kembali unggul atas Daddies di babak final dengan skor, 21-15 dan 21-16. Kemenangan ini sekaligus semakin mengukuhkan Minions dan Daddies sebagai pasangan ganda peringkat satu dan dua dunia.</p>
<p>Sayangnya, minion harus kembali takluk dari Endo/Watanabe di babak final turnamen bergengsi BWF World Tour Super 1000 &#8211; All England Open 2020. Mereka kalah dalam bertarungan ketat yang berkahir dengan skor, 18-21, 21-12 dan 19-21. Turnamen All England ini merupakan turnamen terakhir yang diikuti Minons sebelum semua pertandingan ditunda atau dibatalkan karena merebaknya wabah penyakit Covid-19 di seluruh dunia.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-08-at-09.55.46-2.jpeg"><img class="aligncenter wp-image-3755 size-large" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-08-at-09.55.46-2-1024x682.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-05-08 at 09.55.46 (2)" width="1024" height="682" /></a></p>
<p>Profil</p>
<p>Nama                                                    : Kevin Sanjaya Sukamuljo</p>
<p>Tanggal Lahir                                      : 2 Agustus 1995</p>
<p>Tempat Lahir                                      : Banyuwangi</p>
<p>Nama Ayah                                         : Sugiarto Sukamuljo</p>
<p>Nama Ibu                                            : Winartin</p>
<p>Pegangan Raket                                : Kanan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prestasi</p>
<p>Juara ganda campuran Tangkas Junior International Challenge 2013 (/Masita Mahmudin)</p>
<p>Juara Vietnam International Challenge 2014 (/Selvanus Geh)</p>
<p>Juara New Zealand Open GP 2014 (/Selvanus Geh)</p>
<p>Juara Bulgarian International Challenge 2014 (/Selvanus Geh)</p>
<p>Juara Chinese Taipei GP 2015 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Malaysia Masters GPG 2016 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara India Open Superseries 2016 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Australian Open SS 2016 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Indonesia Master GPG 2016 (/Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira)</p>
<p>Juara China Open SSP 2016 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara All England SSP 2017 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara India Open SS 2017 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Malaysia Open SS 2017 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Japan Open SS 2017 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara China Open SSP 2017 (Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Hong Kong Open SS 2017 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Superseries Final 2017 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; India Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; All England Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara Asian Games 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Hong Kong Open 2018 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Malaysia Masters 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; Indonesia Open 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Japan Open 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 1000 &#8211; China Open 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Denmark Open 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; French Open 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 750 &#8211; Fuzhou China  Open 2019 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
<p>Juara BWF World Tour Super 500 &#8211; Indonesia Masters 2020 (/Marcus Fernaldi Gideon)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=3751</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luluk Hadiyanto, Dari Peringkat Satu Dunia Menuju Master Manajemen Olahraga</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=686</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=686#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2015 05:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia telah melahirkan banyak pemain ganda putra yang tangguh. Berulang kali tampuk peringkat nomor satu dunia menjadi milik pemain Indonesia. Salah satunya Luluk Hadiyanto bersama pasangannya Alvent Yulianto. Kali ini, redaksi Jurnal Bulutangkis akan mengangkat kisah dari Luluk Hadiyanto. Mengingat nama Luluk bersama Alvent, maka kita akan terkenang bagaimana mereka meraih gelar juara ganda putra [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/Luluk-profil.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-687" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/Luluk-profil-300x199.jpg" alt="Luluk profil" width="300" height="199" /></a>Indonesia telah melahirkan banyak pemain ganda putra yang tangguh. Berulang kali tampuk peringkat nomor satu dunia menjadi milik pemain Indonesia. Salah satunya Luluk Hadiyanto bersama pasangannya Alvent Yulianto. Kali ini, redaksi Jurnal Bulutangkis akan mengangkat kisah dari Luluk Hadiyanto.</p>
<p>Mengingat nama Luluk bersama Alvent, maka kita akan terkenang bagaimana mereka meraih gelar juara ganda putra Indonesia Terbuka 2004 di bulan Desember 2004. Di partai final, mereka mengalahkan andalan negeri Tiongkok Fu Haifeng/Cai Yun, 15-8, 15-11. Kemenangan penghujung tahun tersebut melengkapi kecemerlangan mereka di tahun tersebut setelah menjuarai Thailand, Singapura dan Korea Terbuka. Kemenangan ini juga mengantarkan Luluk/Alvent sebagai pemegang peringkat satu dunia.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/luluk-AG.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-688" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/luluk-AG-230x300.jpg" alt="luluk AG" width="230" height="300" /></a>Luluk Hadiyanto dilahirkan pada 8 Juni 1979 di di desa Pengkolrejo, sebuah dusun terpencil di Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Nama belakang Hadiyanto diambil oleh orang tuanya dari nama salah seorang pemain bulutangkis Indonesia era Rudy Hartono dan Svend Pri (Denmark). Kepiawaian Hadiyanto kala memperkuat tim Thomas Cup Indonesia menginspirasi ayahnya yang merupakan pecinta bulu tangkis. Apalagi ketika itu ibunya tengah mengandung Luluk.</p>
<p>Luluk adalah putera pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Edi Sunarto dan Sulami. Keduanya berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Luluk kecil bersama kedua adiknya, Luvy dan Lukman selalu mendapatkan pendidikan keras dan disiplin dari kedua orang tua saya. Setiap hari, mereka terbiasa bangun subuh dan sholat berjamaah.</p>
<p>Setiap hari Luluk mendapat tugas belanja dari orang tua-nya. Setelah selesai berbelanja di pasar, ayahnya mengajak Luluk bermain bulu tangkis atau dalam bahasa Jawa bermain ”tepok- tepokan” di pekarangan rumah sembari mempersiapkan keperluan sekolah. Setelah latihan dirasa cukup, Luluk bergegas mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah. Seusai sekolah, ia pun belajar agama di Madrasah hingga pukul 6 sore.</p>
<p>Rutinitas ini ia jalani sampai duduk di kelas 4 SD. Menjelang kenaikan kelas, ia tidak dapat meneruskan sekolah Madrasah karena ayahnya mendaftarkan Luluk ke klub bulutangkis. Klub ini berada di pusat kota Blora yang berjarak sekitar 18 km dari desanya. Untuk mencapai kota, ia bersepeda lalu melanjutkan sisa perjalananan menggunakan angkutan umum. Sepeda titipkan di tempat penitipan sepeda.</p>
<p>Latihan bulutangkis di klub ia lakukan 3 kali dalam seminggu. Sementara di hari lainnya, ia mendapat gemblengan dari Ayah untuk latihan lari. Setahun berlatih di klub bulutangkis, ia mendapat kesempatan memperkuat tim dalam Porseni SD tingkat Kabupaten dan berhasil menjadi Juara kedua. Ia berhak mengikuti kejuaraan di tingkat Karesidenan Pati.</p>
<p>Sepulang dari kejuaraan itu, Ayahnya menambah jadwal latihan Luluk. Sepulang sekolah, setelah beristirahat sejenak,ia bersiap- siap latihan lari. Latihan yang ia tempuh ini, tidak sia- sia. Selang beberapa bulan kemudian, ia menjuarai Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia- POPSI tingkat Kabupaten dan berhak ke karesidenan Pati. Di Pati, ia kembali meraih juara.</p>
<p>Setelah berhasil menang di tingkat karesidenan, ia berhak melanjutkan pertandingan di tingkat Provinsi di Kota Kudus. Namun ia mengalami kekalahan di babak pertama saat melawan pemain dari Kota Solo.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/1924079_1049043499088_171_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-690" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/1924079_1049043499088_171_n-225x300.jpg" alt="1924079_1049043499088_171_n" width="225" height="300" /></a>Saat pertandingan di Kudus tersebut, ayahnya bertemu sejumlah orang dan mendapat informasi mengenai perbulutangkisan di kota Solo yang cukup berkembang. Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar, orangtuanya mengirimkan Luluk ke Solo. Di kota batik tersebut ia kembali meneruskan latihan bulutangkis dan melajutkan sekolah menengah pertama (SMP). Usai belajar di sekolah, ia bersepeda sekitar 5 hingga 7 kilometer untuk berlatih di klub bulutangkis Tiara. Klub ini sekarang telah berganti nama menjadi PMS. Setahun berlalu ia pun akhirnya diterima menjadi anggota pemusatan latihan cabang Surakarta yang berpusat di komplek stadion Manahan, Solo. Setelah lulus SMP diterima di SMA Negeri 6 Solo yang merupakan salah satu sekolah terbaik di kota itu.</p>
<p>Situasi yang ada saat itu mendorong terus berlatih bulutangkis dan tetap belajar dengan semangat yang tinggi. Namun, ia melupakan kemampuan tubuhnya. Ia pun jatuh sakit karena terkena hepatitis. Ia harus dirawat di rumah sakit. Salah seorang dokter yang merawatnya, memvonis jika nyawanya ingin diselamatkan maka ia harus melupakan bulutangkis. Mendapati pernyataan dokter tersebut ia pun tak kuasa menahan tangis.</p>
<p>Sebagai seorang anak yang selama ini dibesarkan dan memiliki kecintaan terhadap olahraga bulutangkis dan bertekad berprestasi, ia tidak dapat menerima hal itu. Ayahnya tidak putus asa mencari informasi dengan meminta ganti dokter. Dokter pengganti yang merawatnya ini jauh lebih berpengalaman dalam menangani penyakit. Bahkan berdasarkan informasi, dokter pengganti ini pernah beberapa kali menangani atlet. Ia pun sembuh dan sehat kembali. Hal yang terpenting adalah ia dapat bermain bulutangkis kembali setelah selama hampir dua bulan dirawat.</p>
<p>Selama kurun waktu lebih dari 8 bulan lebih ia tidak berlatih bulutangkis. Bobot badannya pun semakin gemuk. Ia mulai berlatih sedikit demi sedikit dan memulai hidup dengan semangat baru, mengejar semua ketertinggalan baik di prestasi bulutangkis maupun pendidikan.</p>
<p>Saat naik ke kelas 3 Sekolah Menengah Atas, pihak Pusdiklat Allpro menitipkannya ke klub Djarum Jakarta. Peluang emas tersebut tentu tidak ia sia-siakan. Ia pun berlatih di Jakarta dan tetap bersekolah di Solo. Situasi yang tidak mudah karena harus berlatih di Jakarta selama 2 hingga 3 minggu. Agar tidak tertinggal mata pelajaran di sekolah, ia meminta bantuan sahabat atau kepala asrama untuk mengirimkan foto copy catatan.</p>
<p>Prestasi bulutangkis Luluk pun mengalami peningkatan. Meski demikian, ia tidak kunjung mendapat panggilan Pelatnas di Cipayung. Sempat tersirat keinginan melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta karena saat itu wali kelasnya memberitahu jika ada jalur PMDK bagi atlet.</p>
<p>Meski ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ayahnya terus menyemangati Luluk untuk tetap fokus meraih prestasi olahraga. Pilihan yang cukup berat. Akhirnya melalui pertimbangan yang matang dan usaha keras ia pun diterima di Pelatnas Cipayung, kawah candra dimuka perbulutangkisan Indonesia setelah menjadi juara seleksi Nasional masuk pelatnas bulan Februari 1999 dan bulan juni 1999. Ia resmi menjadi anngota Pelatnas agustus 1999 yang pada akhirnya mengantarkannya ke jajaran elit pebulutangkis dunia.</p>
<p>Awal di Pelatnas, ia masih sering berganti pasangan. Bersama Imam Sodikin, ia sempat menjadi semifinalis Kejuaraan Asia 2000. Kemudian berduet dengan Endra Muljana, meraih runner up Singapore International 2001. Ia sempat dipasangkan dengan legenda bulutangkis Indonesia, Sigit Budiarto dan meraih juara Thailand Terbuka 2001.</p>
<p>Prestasinya semakin menonjol ketika dipasangkan dengan Alvent Yulianto. Pasangan ini menjadi semifinalis Korea Terbuka 2002 dan Thaiwan Terbuka 2003. Seperti sudah disampaikan diatas, prestasi keduanya mencapai puncak tahun 2004 dengan menjuarai Thailand, Korea, Singapura dan Indonesia Terbuka. Disamping itu juga menjadi runner up Swiss dan Malaysia Terbuka.</p>
<p>Dengan berpredikat pasangan nomor satu dunia, mereka mendapat incaran dari pemain-pemain ganda kelas dunia lainnya. Tahun 2005, mereka sering terganjal di babak empat besar. Luluk/Alvent, semifinalis di Kejuaraan Dunia, All England, Swiss, Malaysia dan China Terbuka. Kondisi ini berlanjut hingga mereka berpasangan sampai tahun 2008. Ia pun mengajukan pengunduran diri dari Pelatnas tahun 2008 dan disetujui Januari 2009.</p>
<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/Luluk-menikah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-689" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/05/Luluk-menikah.jpg" alt="Luluk menikah" width="245" height="274" /></a>Tahun 2009, Luluk sempat mencoba berkarir mandiri. Ia berpasangan dengan Joko Riyadi dan prestasi terbaiknya sebagai juara Vietnam Grand Prix. Disamping itu ia mulai berkuliah diUniversitas Indonesia jurusan Ilmu Administrasi Negara. Ia banyak mendapat bimbingan Prof. Retno Mayekti Multamia. Luluk lulus tahun 2013 dengan IPK 3,3. Ketika masa kuliah ini, ia melepas masa lajangnya 28 Mei 2010 dengan menikahi gadis impiannya Wardahnia, SH, MA. Keduanya dikaruniahi seorang anak yang diberi nama Rajendra Bima Hadiyanto.</p>
<p>Saat ini, Luluk bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kemenpora. Ia juga sedangkan melaksanakan studi pasca sarjana di Universitas Negeri Jakarta dengan mengambil jurusan Magister Sport Management, sejak tahun 2014. Bila studinya selesai nanti, maka sang pebulutangkis yang pernah menduduki peringkat satu dunia tersebut, akan menyandang gelar master di bidang manajemen olahraga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=686</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eddy Prayitno, Pelopor Badminton Lovers Community (BLC) PBSI</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=257</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=257#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2015 01:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Jurnal Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Bagi komunitas bulutangkis yang pernah diundang di Pelatnas Cipayung pastilah mengenal sosok ini. Namanya Eddy Prayitno yang menjabat sebagai Kasubid Pengembangan Komunitas PP PBSI. Jabatan yang menjadi bagian kepengurusan PP PBSI dibawah pimpinan Gita Wirjawan ini, disandangnya sejak tahun lalu. Bidang yang dipimpin Eddy inilah yang berhasil membentuk 12 organisasi Badminton Lovers Community (BLC) tingkat [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/04/Eddy-Prayitno.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-259" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/04/Eddy-Prayitno-200x300.jpg" alt="Eddy Prayitno" width="200" height="300" /></a>Bagi komunitas bulutangkis yang pernah diundang di Pelatnas Cipayung pastilah mengenal sosok ini. Namanya Eddy Prayitno yang menjabat sebagai Kasubid Pengembangan Komunitas PP PBSI. Jabatan yang menjadi bagian kepengurusan PP PBSI dibawah pimpinan Gita Wirjawan ini, disandangnya sejak tahun lalu. Bidang yang dipimpin Eddy inilah yang berhasil membentuk 12 organisasi Badminton Lovers Community (BLC) tingkat Provinsi di tahun 2014.</p>
<p>Berawal ketika PP PBSI melihat potensi yang begitu besar di masyarakat yang tidak masuk dalam kepengurusan PBSI. Padahal mereka sangat “gila” bulutangkis dan mau membantu kemajuan bulutangkis Indonesia. Mereka tidak tahu harus kemana penyalurannya baik moril maupun materiil. Atas dasar itu, PP memutuskan membentuk bidang komunitas agar bisa memfasilitasi dan mengkoordinir potensi tersebut dalam wadah Badminton Lovers Community (BLC).</p>
<p>Eddy yang ditunjuk untuk sebagai komandan dibidang yang baru ini mendapatkan beragam tantangan dalam membentuk BLC. Ia harus sosialisasi ke Pengprov seluruh Indonesia untuk memberi masukan bagi program-progran komunitas ke masyarakat . Di Indonesia ada 34 pengprov dimana harus terbentuk BLC provinsi di masing-masing Pengprov . Atas kerja kerasnya, sekarang sudah terbentuk 12 BLC tingkat provinsi.</p>
<p>‎​Beberapa kegiatan BLC yang sudah berjalan antara lain Pembentukan badminton village di masing-Pengprov, memfasilitasi kursus Pelatihan Nasional Shuttle Time dan sejumlah Mabar (maen bareng) lokal. BLC juga akan menggelar Mabar Nasional (Mabarnas) tanggal 25-26 April 2015 yang dilaksanakan di GOR Djarum Kudus.</p>
<p>Untuk BLC Pusat sendiri diketuanya kasubid. komunitas dengan anggotanya BLC seluruh Indonesia dan komunitas independen yang sudah terdaftar di PP PBSI. Eddy menargetkan tahun ini harus segera terbentuk 34 BLC tingkat Provinsi.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Siapakah Eddy Prayitno?</p>
<p>Perkenalan Eddy Prayitno dengan bulutangkis dimulai sejak kelas 5 SD. Ia latihan di klub Rajawali Surabaya dan dilatih oleh salah seorang mantan tim Piala Thomas Indonesia Nyo Kiem Bie dan Yugi. Ia tertarik bulutangkis karena saat itu mengidolakan bintang bulutangkis Indonesia Mulyadi yang juga pemain klub Rajawali. Selain itu adiknya Mulyadi adalah teman akrab Eddy yang juga sekelas saat SMP. Seperti kita ketahui, Mulyadi adalah pemain nasional yang beberapa kali memperkuat tim Thomas Cup Indonesia dan peraih medali emas tunggal putra Asian Games tahun 1966.</p>
<p>Namun berbeda dengan sang idola yang berprestasi di lapangan hijau, Eddy lebih banyak berkiprah dibidang keorganisasian diantaranya ia sering menyelenggarakan turnamen lokal di kota Malang. Keaktifan tersebut membuat ia terpilih menjadi pengurus Pengkot PBSI Malang. Tahun 2002-2006, ia menjabat di bidang dana yang dilanjutkan tahun 2007-2010 di bidang Binpres. Eddy jugamenjabat posisi di bidang Binpres Pengprov PBSI Jatim.</p>
<p>Tahun 2011-2014, ia menjabat sebagai Ketua Harian Pengkot PBSI Malang dan Binpres Pengprov PBSI Jatim . Tahun 2012, ia dipercaya sebagai Pengurus Pusat bidang Pendidikan dan Pelatihan, lalu dilanjutkan tahun 2014 Kasubid Pengembangan Komunitas PP PBSI, sekaligus menjabat Sekum Pengprov Jatim sampai sekarang.</p>
<p>‎​</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=257</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Annisa Saufika : Saya yakin, saya bisa</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=133</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=133#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2015 08:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[hendri]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Annisa Saufika atau yang akrab disapa Ica oleh rekan-rekannya, sudah lima minggu terakhir harus beristirahat menjalani terapi pemulihan cederanya. Ica mengalami cedera lutut kala turun membela USM Blibli di Djarum Superliga Badminton 2015 lalu di Bali akhir Januari lalu. “Kegiatan saat ini masih rehab, latihan besi dan sepeda saja, terus satu minggu sekali kontrol ke [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="full"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/1138d0ae4c827bf2b2ce34c123c26334.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-134" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/1138d0ae4c827bf2b2ce34c123c26334-300x185.jpg" alt="1138d0ae4c827bf2b2ce34c123c26334" width="300" height="185" /></a>Annisa Saufika atau yang akrab disapa Ica oleh rekan-rekannya, sudah lima minggu terakhir harus beristirahat menjalani terapi pemulihan cederanya. Ica mengalami cedera lutut kala turun membela USM Blibli di Djarum Superliga Badminton 2015 lalu di Bali akhir Januari lalu.</p>
<p><em>“Kegiatan saat ini masih rehab, latihan besi dan sepeda saja, terus satu minggu sekali kontrol ke rumah sakit, semoga keadaannya semakin membaik, saya pengen banget main,”</em> ceritanya kepada pbjarum.org.</p>
<p>Fase ini bisa menjadi fase yang cukup berat bagi Ica. Turnamen bergengsi German Open dan All England batal ia ikuti. <em>“Perasaan sedih, trauma ya ada. Tetapi saya harus bersabar,”</em> lanjutnya.</p>
<p>Ternyata memang kisah perjalanan hidup Ica di dunia bulutangkis sudah berliku sejak ia turun dengan “tidak sengaja” ke arena tepok bulu. Ica kecil yang kala itu duduk di kelas lima SD, sigap mengacungkan tangan saat sang guru olah raga menanyakan siapa yang bisa bermain bulutangkis.</p>
<p><em>“Engga tau kenapa waktu guru nanya siapa yang bisa main bulutangkis saya langsung angkat tangan. Mungkin karena suka ikut ayah iseng-iseng main bulutangkis jadinya saya merasa bisa,”</em> ceritanya.</p>
<p>Selang tiga hari, Ica pun langsung bisa menyabet gelar juara di Keluarahan tempat tinggalnya di Cirebon. Berangkat sebagai juara kelurahan, Ica pun meneruskan langkahnya, sayang di tingkat Kecamatan Harjamukti, Cirebon ia harus menjadi juara dua. Ini  menjadi awal Ica mengarungi karirnya di dunia bulutangkis.</p>
<p>Usai “ketidak sengajaannya” itu, Ica pun mulai serius latihan bulutangkis di klub yang tak jauh dari rumahnya. Kembali turun di tingkat Kota, Ica harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya mampu menjadi juara dua dan tiga, belum bisa menjadi sang juara. <em>“Lawan yang menang dari saya sudah mulai latihan sejak kelas satu SD,” </em>lanjutnya.</p>
<p>Usai menyelesaikan sekolah dasar, Ica meneruskan sekolahnya ke sekolah berstandar internasional. Di sekolah inilah, Ica seakan menggali kemampuan atletiknya bahkan putri pertama dari pasangan Kuswanta dan Heryani ini tak hanya menjadi atlet bulutangkis, tetapi juga ia berkompetisi dalam lari dan lompat tinggi.</p>
<p class="full"><em>“Saat masuk sekolah ditanya bisa apa saja, lari saya lebih cepat dibanding yang lain. Jadinya waktu itu saya lari 1,600 meter sama lompat tinggi juga.”</em></p>
<p>Finis di urutan pertama lomba lari, atlet yang lahir tanggal 21 Juni 1993 itu berhasil menjadi juara di tempat kedua lompat tinggi. Sayang, ia harus mengundurkan diri dari cabang bulutangkis. Ia tak mampu bertanding karena saat ia berlari tanpa sepatu di lomba lari.</p>
<p><em>“Bulutangkisnya malah kalah WO, karena pas lari pelatih minta saya buka sepatu, nah pas mau finis kaki terkena pecahan kaca, tapi saya justru ngga ngerasa. Akhirnya papa pun marah-marah gara-gara ini,”</em> lanjutnya lagi.</p>
<p>Tahun kedua, Ica pun turun di kejuaraan yang sama. Ia yang sudah mulai fokus ke bulutangkis, lantas hampir tak pernah berlatih berlari. Turnamen yang sama digelar, kejadian menarik pun kembali ia alami saat ia turun di lari 1,600 meter. Dimana ia sudah “dicurangi” sejak start.</p>
<p class="full"><em>“Saat mulai lari, sudah ada yang injak dan sengaja menendang kaki. Tangan sama kaki sampai luka, tapi hebatnya saat itu, saya langsung bisa berdiri dan lari lagi! Soalnya saat itu ada papa, saya benar-benar terakhir, satu lap terakhir saya mulai sprint dan salip semuanya sampai akhirnya saya bisa finis kedua, bedanya tipis sama juara tiga, kalau sama juara satu terlalu jauh, saat dia finis saya masih harus berlari setengah putaran,”</em> ujarnya antusias.</p>
<p>Seminggu kemudian ia harusnya turun di nomor bulutangkis, tetapi sayang, justru ia malah salah baca jadwal. <em>“Kalau ingat hal ini sebenarnya ingin ketawa, waktu itu harusnya saya main bulutangkis seminggu kemudian, tapi malah kalah gara-gara saya salah baca jadwal. Sayang banget kan ngga pernah juara badminton,”</em> lanjutnya sambil tertawa.</p>
<p>Tetapi akhirnya, Ica berhasil meraih gelar juara di turnamen wilayah. Sang ayah pun sepertinya yang diceritakannya, terlihat sangat bahagia. Dan jelang akhir kelas dua, Ica sempat memutuskan untuk berhenti dari bulutangkis dan mengejar cita-citanya untuk menjadi dokter</p>
<p class="full">Tetapi jalan hidupnya berkata lain, di pertandingan terakhir di Cirebon, ia justru ditawari untuk bergabung dengan salah satu klub di Jawa Timur.</p>
<p class="full"><em>“Sebenarnya sejak kelas satu sempat mau masuk sebuah klub di Jakarta, tapi mama tidak mengizinkan. Akhirnya saat ditawari sebuah klub di Jawa Timur, akhirnya diizinkan. Harusnya saya berangkat berdua, tetapi teman saya tidak mendapat izin, jadinya hanya saya sendiri,”</em> ceritanya.</p>
<p>Ia pun sempat mengutarakan keputusasaannya saat berada di provinsi paling timur pulau Jawa itu. Ia tak mampu meraih gelar juara satu pun, prestasi terbaiknya hanya sampai ke babak semifinal. Hal ini pun sempat membuatnya kembali ingin berhenti bermain bulutangkis.</p>
<p><em>“SMA kelas dua kembali saya diberi pilihan sama orang tua saya, kalau mau bulutangkis saya harus ikuti kata orang tua, atau kalau ingin bulutangkis sambil sekolah tidak apa-apa tetap di Jawa Timur.”</em></p>
<p>PB Djarum pun akhirnya mulai mencium bakat Ica usai melihat beberapa penampilannya di Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas). Ia pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke klub yang bermarkas di Kudus dan memiliki pusat latihan ganda di Jakarta ini.</p>
<p>Lagi-lagi, jalannya tak semulus yang ia harapkan. Ia tak mendapatkan surat pindah dari klub lamanya, sesuai dengan peraturan, Ica pun akhirnya harus mengalami “skorsing” tidak boleh bermain selama 15 bulan. <em>“Saat surat keluar tidak dikeluarkan klub dan saya tidak bertanding satu tahun lebih, itu ujiannya benar-benar berat. Saya hanya berlatih dan berlatih, sempat beberapa tempat menyarankan saya untuk kuliah saja, tetapi saya selalu yakin pada diri saya sendiri kalau saya bisa, walaupun rasanya sangat tidak mungkin.”</em></p>
<p>Atlet tanpa pertandingan bagaikan menggantungkan asa di tempat hampa, dan akhirnya usai menjalani masa skorsing, Ica pun akhirnya bisa kembali ke lapangan. Pertandingan pertamanya pasca skorsing dijalani di hari ulang tahunnya ke 19. Arena Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2012 menjadi debutnya kembali ke persaingan bulutangkis. Ia berpasangan dengan Lukhi Apri Nugroho berhasil masuk babak utama setelah melewati babak kualifikasi.</p>
<p class="full">Ia pun kemudian turun di Sirnas bersama Edi Subaktiar di nomor ganda campuran dan langsung menyabet gelar juara. Sedangkan di nomor ganda putri, ia hanya bisa sampai babak perempat final. Ica melakukan “come back” dengan manis, berbagai turnamen di sektor ganda campuran berhasil ia jajaki sampai final, sampai akhirnya teman-temannya di PB Djarum mendapat panggilan untuk Seleksi Nasional (Seleknas). Ica hanya terdiam di asrama.</p>
<p class="full"><img src="http://www.pbdjarum.org/public/images/picture/annisa_saufika.jpg" alt="" width="590" height="364" /></p>
<p class="full">Kemudian, jalan hidup membawanya ke Cipayung, ia pun menyusul dipanggil ke Cipayung. <em>“Saat teman-teman dipanggil Seleknas, saya hanya di asrama, itu benar-benar sedih. Apalagi saya belum pernah ikut AJC (Kejuaraan Asia Junior) atau WJC (Kejuaraan Dunia Junior), apa mungkin saya tidak dipercaya. Tetapi saat pengumuman, saya melihat ada nama saya disana. Saya menganggap ini sebagai buah kesabaran saya bersabar selama satu tahun lebih, ini jadi salah satu hal tergila dalam hidup saya.”</em></p>
<p>Kini Ica menjalani hari-harinya dengan berlatih sesuai dengan keadaan lututnya dan fokus untuk pemulihan lututnya. Ia masih memiliki harapan untuk bisa kembali mengukir prestasi di arena bulutangkis dunia.</p>
<p><em>“Harapannya? Ingin jadi the next Butet, saya ingin sekali sepertinya. Prestasinya lengkap,”</em> ucapnya mantap.</p>
<p>Berbagai rintangan sudah ia hadapi di usianya yang belum genap 22 tahun. Semoga rintangan cedera ini hanya akan menjadi batu loncatan bagi Ica untuk bisa melompat lebih tinggi.</p>
<p>Rise and Shine Ca, Lekas Sembuh! Kami menantimu untuk kembali ke lapangan!</p>
<p class="full">Sumber : www.pbdjarum.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=133</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rudy Heryanto Saputra, Juara All England Dua Kali</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=21</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=21#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2015 11:07:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[rullichan]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/bulutangkis/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Rudy Heryanto Saputra, merupakan salah satu pemain Indonesia yang mampu meraih gelar juara All England dua kali. Bersama duetnya Kantono, ia menjuarai nomor ganda putra pada tahun 1981 dan 1984. Rudy lahir di Tasikmalaya, 19 Oktober 1954, putra pasangan Hidayat Saputra dan Lis Gumulya. Rudy kecil memulai latihan bulutangkis ketika sudah menginjak kelas 5 Sekolah [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/02/Rudy-Heryanto-Saputra.jpg"><img class="alignleft wp-image-109 size-medium" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/02/Rudy-Heryanto-Saputra-300x200.jpg" alt="Rudy Heryanto Saputra" width="300" height="200" /></a>Rudy Heryanto Saputra, merupakan salah satu pemain Indonesia yang mampu meraih gelar juara All England dua kali. Bersama duetnya Kantono, ia menjuarai nomor ganda putra pada tahun 1981 dan 1984.</p>
<p>Rudy lahir di Tasikmalaya, 19 Oktober 1954, putra pasangan Hidayat Saputra dan Lis Gumulya. Rudy kecil memulai latihan bulutangkis ketika sudah menginjak kelas 5 Sekolah Dasar. Saat itu ia latihan bulutangkis karena ada salah satu temannya memiliki lapangan bulutangkis. Latihannya hanya sampai kelas enam, kemudian vakum selama 2 tahun. Ia mulai latihan lagi ketika menginjak kelar tiga SMP karena mengikuti kejuaraan antar sekolah.</p>
<p>Menginjak masa SMA, Rudy pindah dari Tasikmalaya ke Bandung. Ia bersekolah di SMAK Dago. Di sinilah ia sering ikut kejuaraan bahkan masuk klub Mutiara Bandung. Setamat SMA, ia ingin melanjutkan pendidikan dengan kuliah di Universitas Parahyangan. Ia di terima di Fakultas Ilmu Sosial &amp; Politik (Sospol) di universitas yang terletak di bagian utara kota kembang tersebut.</p>
<p>Di saat yang hampir bersamaan, Christian Hadinata mengajak Rudy Heryanto kembali bermain untuk persiapan PON tahun 1977. Kemudian Rudy berpasangan dengan Nara Sudjana mewakili Jawa Barat dalam PON yang berlangsung di Jakarta tersebut. Pasangan ini berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan Liem Swie King/Kartono dari Jawa Tengah. Setelah itu, ia harus mengorbankan kuliahnya karena dipanggil ke Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) di Jakarta</p>
<p>Kartono lalu menjadi pasangan tetap Rudy Heryanto. Kiprah Rudy Heryanto/Kartono semakin berkibar dengan raihan gelar bergengi sebagai juara All England 1981. Pasangan ini berhasil mengalahkan pemain Indonesia yang lebih dulu melegenda yakni Tjun Tjun/Johan Wahyudi di babak final. Tahun berikutnya podium Jepang Terbuka pun jadi milik mereka. Kali ini, giliran pasangan Ingrris Martin Dew/Michael Tredgett yang mereka tumbangkan di babak akhir.</p>
<p>Rudy Heryanto/Kartono kembali mengulang keberhasilan menjuarai All England tahun 1984 dengan menundukkan andalan tuan rumah Martin Dew/Michael Tredgett di partai puncak. Di akhir karirnya tahun 1987, Rudy sempat menembus final All England ketika berduet dengan Bobby Ertanto. Namun Rudy/Bobby harus mengakui keunggulan pasangan China, Tian Bingyi/Li Yongbo. Di tahun 1987 inilah, Rudy menyatakan diri pensiun dan memulai karir di dunia kerja. Ia menekuni pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor sampai akhirnya pensiun dari dunia kerja. Saat ini, ia tetap aktif mengikuti kegiataan bulutangkis seperti acara caoching clinic bagi atlet muda ataupun acara ekshibisi bulutangkis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Profil :</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="189"></td>
<td width="19"></td>
<td width="376"></td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Nama</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Rudy Heryanto Saputra</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Tempat Lahir</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Tasikmalaya</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Tanggal Lahir</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">19 Oktober 1954</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Pegangan Raket</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Kanan</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Nama Bapak</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Hidayat Saputra</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Nama Ibu</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Lis Gumulya</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Nama Istri</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Suzie Ogeh</td>
</tr>
<tr>
<td width="189">Nama Anak</td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Yodi Saputra</td>
</tr>
<tr>
<td width="189"></td>
<td width="19">:</td>
<td width="376">Yoan Saputra</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prestasi Rudy Heryanto Saputra :</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="78">Tahun</td>
<td width="505">Turnamen</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1977</td>
<td width="505">Medali emas PON (/Nara Sudjana)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1981</td>
<td width="505">Juara All England Open (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78"></td>
<td width="505">Kejurnas (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1982</td>
<td width="505">Juara Japan Open (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78"></td>
<td width="505">Juara Indonesia Open (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1983</td>
<td width="505">Juara Indonesia Open (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1984</td>
<td width="505">Juara All England Open (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78"></td>
<td width="505">Juara Scandinavian Master (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1985</td>
<td width="505">Juara Thailand Open (/Kartono)</td>
</tr>
<tr>
<td width="78">1987</td>
<td width="505">Runner up All England (/Bobby Ertanto)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=21</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
