<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Bulutangkis &#187; &#187; hendri</title>
	<atom:link href="http://jurnalbulutangkis.com/home/?author=3&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalbulutangkis.com/home</link>
	<description>Rumah Bersama Bulutangkis Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jan 2026 06:57:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.1.41</generator>
	<item>
		<title>(Vietnam International Challenge 2015) Bayu Hentikan Langkah Unggulan Satu</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=143</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=143#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2015 01:29:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[hendri]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[(Hanoi, 20/3/2015) Atlet tunggal putra, Muhammad Bayu Pangisthu melaju ke semifinal Ciputra Hanoi-Yonex Sunrise Vietnam International Challenge 2015 usai mengalahkan unggulan satu asal Thailand, Suppanyu Avihingsanson. Bayu berhasil menang mudah, setelah main 35 menit, dengan skor 21-14 dan 21-11. Meski di atas kertas terpaut cukup jauh, Bayu rupanya berhasil mengatasi permainan lawannya tersebut. Bayu saat [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/bayu-h1-3a-acy-13.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-145" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/bayu-h1-3a-acy-13-300x200.jpg" alt="bayu h1 3a acy 13" width="300" height="200" /></a>(Hanoi, 20/3/2015)</p>
<p>Atlet tunggal putra, Muhammad Bayu Pangisthu melaju ke semifinal Ciputra Hanoi-Yonex Sunrise Vietnam International Challenge 2015 usai mengalahkan unggulan satu asal Thailand, Suppanyu Avihingsanson. Bayu berhasil menang mudah, setelah main 35 menit, dengan skor 21-14 dan 21-11.</p>
<p>Meski di atas kertas terpaut cukup jauh, Bayu rupanya berhasil mengatasi permainan lawannya tersebut. Bayu saat ini berada di peringkat 303 dunia, sementara Suppanyu menduduki peringkat 45 dunia.</p>
<p>“Saya tadi main mendahului bola-bola depan, sama main safe. Begitu ada kesempatan buat menyerang, saya maksimalkan di sana,” kata Bayu mengenai permainannya menghadapi Suppanyu.</p>
<p>“Kekuatan lawan sebenarnya dia main kuat, cepat dan smash yang kencang. Tapi smashnya nggak bisa tembus-tembus ke saya. Dia jadi banyak mati sendiri,” kata Bayu lagi.</p>
<p>Berhasil hingga ke semifinal diakui Bayu karena persiapan yang cukup matang. Ia pun kini optimis untuk meneruskan langkahnya di babak berikutnya.</p>
<p>“Persiapan saya ke Vietnam ini bagus. Saya juga ingin membuktikan di sini kalau saya bisa,” tambah Bayu.</p>
<p>Selanjutnya di semifinal, Bayu akan berhadapan dengan rekannya sendiri, Firman Abdul Kholik.</p>
<p>“Ketemu Firman saya hanya ingin main bagus saja. Nggak mau mikir menang atau kalah. Yang penting siap main capek aja,” kata Bayu lagi.</p>
<p>Di paruh undian bawah, satu lagi wakil tunggal putra Indonesia yang lolos ke semifinal. Riyanto Subagja akan bertanding di semifinal menghadapi atlet Thailand, Khosit Phetpradab.</p>
<p>Sementara itu di sektor tunggal putri, Indonesia mengirimkan dua wakil ke semifinal. Di paruh undian atas ada Aprilia Yuswandari yang akan berhadapan dengan pemain Jepang, Yuka Kusunose. Selanjutnya di paruh undian bawah, ada Hanna Ramadini yang akan berhadapan dengan Kana Ito, Jepang. Hanna sendiri sebelumnya, di perempat final, mengalahkan rekan sesama pemain Indonesia, Gregoria Mariska, straight game dengan skor 21-16 dan 23-21.</p>
<p>(PBSI)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=143</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjemput Bibit Pemain Potensial ke Sumbernya</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=136</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=136#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2015 15:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[hendri]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Upaya Bakti Olahraga Djarum Foundation dalam melestarikan prestasi dan supremasi bulutangkis Indonesia terus dilakukan. Bermacam aksi nyata demi menjaga kejayaan olahraga tepok bulu, dari tahun ke tahun secara kontinyu terus dilakukan dengan sejumlah perbaikan dan evaluasi. Tahun ini, ajang pencarian pemain berbakat dalam tajuk “Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015” kembali digelar. “Tahun ini, kami [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_137" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/Yoppy.jpg"><img class="wp-image-137 size-medium" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/Yoppy-300x175.jpg" alt="Yoppy" width="300" height="175" /></a><p class="wp-caption-text">Yoppy Rosimin (CR : www.pbdjarum.org)</p></div>
<p>Upaya Bakti Olahraga Djarum Foundation dalam melestarikan prestasi dan supremasi bulutangkis Indonesia terus dilakukan. Bermacam aksi nyata demi menjaga kejayaan olahraga tepok bulu, dari tahun ke tahun secara kontinyu terus dilakukan dengan sejumlah perbaikan dan evaluasi. Tahun ini, ajang pencarian pemain berbakat dalam tajuk “Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015” kembali digelar.</p>
<p>“Tahun ini, kami kembali menggelar Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Kegiatan pencarian bibit pemain ini merupakan bentuk nyata dan komitmen Bakti Olahraga Djarum Foundation demi menjaga kelestarian prestasi bulutangkis Indonesia,” kata Yoppy Rosmin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, dalam press conference di XXI Lounge Plaza Senayan, Jakarta, Selasa, tanggal 17 Maret 2015.</p>
<p>Dituturkan oleh Yoppy Rosimin, hanya pada penyelenggaraan ke-10 kalinya sejak pertama kali digelar pada tahun 2006, kegiatan pencarian dan seleksi pemain berbakat ini tampil dengan format berbeda. Selain tetap memusatkan penyelenggaraan di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jateng seperti tahun-tahun sebelumnya, pada audisi kali ini format ajang seleksi juga akan merambah ke 9 (sembilan) kota di tanah Air.</p>
<p>“Perubahan format Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015 ini dilakukan setelah kami mendengar masukan dari berbagai pihak. Agar kendala kendala yang dihadapi oleh para peserta dapat tereliminir terlebih dahulu, maka kami memutuskan untuk menggelar audisi ke berbagai kota di Tanah Air. Diibiratkan, kami sekarang melakukan jemput bola ke kantong-kantong yang selama ini menjadi sumber bibit pemain potensial,” tegas Yoppy.</p>
<p>Selain itu, tambah Yoppy, lewat audisi umum yang digelar di banyak kota, hal ini secara tidak langsung juga akan ikut memasalkan dan mempopulerkan cabang olahraga tepok bulu ke tengah masyarakat. Dengan digelar di sembilan kota, upaya ini juga merupakan langkah positif dalam ikut menyebarkan api semangat dan gairah bermain bulutangkis ke pelosok penjuru Tanah Air. Diharapkan dari tahun ke tahun, api semangat bulutangkis ini tetap terjaga dan akan semakin besar.</p>
<p>Untuk kawasan Sumatra yang berlangsung pada tanggal 8-11 April 2015, audisi secara bersamaan berlangsung di dua tempat, yaitu di GOR Cemara Asri, Medan (Sumatra Utara) dan GOR Dempo, Jakabaring, Palembang (Sumatra Selatan).</p>
<p>Berikutnya untuk kawasan Jawa dan Kalimantan, juga akan digelar serentak di dua kota pada tanggal 6-9 Mei 2015. Dua kota yang menjadi tuan rumah audisi adalah, GOR PKPSO, Kaliwates, Jember (Jawa Timur) dan GOR Hevindo, Balikpapan (Kalimantan Timur).</p>
<p>Audisi kemudian berpindah menyambangi ke kawasan Sulawesi yang bakal berlangsung pada tanggal 27-30 Mei 2015. Audisi bagi pemain di kawasan ini siap digelar di GOR Arie Lasut, Manado (Sulawesi Utara) dan GOR Sudiang, Makassar (Sulawesi Selatan).</p>
<p>Terakhir, bagi para pemain yang berada di kawasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, audisi bakal juga dilangsungkan secara bersamaan pada tanggal 10-13 Juni 2015. Audisi berlangsung di GOR Lidya Djaelawijaya, Tasikmalaya (Jawa Barat) dan GOR Satria, Purwokerto (Jawa Tengah).</p>
<p>Selain di 8 kota yang telah disebutkan, Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis akan digelar di GOR Djarum, Kudus pada tanggal 1-3 September 2015.</p>
<p>Agar proses audisi berjalan mulus dan mampu menjaring bibit-bibit pemain potensial, menurut Yoppy Rosimin, kelak para pemain Legenda Bulutangkis Indonesia yang dimiliki PB Djarum, seperti Liem Swie King, Christian Hadinata, Ivana Lie, Hastomo Arbi, Eddy Hartono, Hariyanto Arbi, Kartono dll., akan diterjunkan langsung ke sejumlah kota tempat seleksi digelar. Para mantan pemain tersebut akan ikut memantau, menyeleksi, dan menjaring bibit pemain potensial.</p>
<p>Secara keseluruhan, mekanisme dari penyelenggaraan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis ini menggunakan sistem turnamen. Para peserta yang terbagi menjadi 2 kelompok umur yaitu U-15 dan U-13 dipertanding dalam sektor tunggal. Dimana setiap Semifinalis untuk kategori Putra dan setiap finalis untuk kategori putri akan mendapatkan “super tiket” dan masuk kebabak selanjutnya yang digelar di GOR Djarum, Kudus pada tanggal 4-6 September 2015. Selain itu para legenda bulutangkis PB Djarum memantau dan mengawasi jalannya pertandingan untuk mendapatkan talenta terbaik dari atlet muda daerah, yang mana para legenda bulutangkis secara khusus dapat memberikan “super tiket” kepada atlet yang memiliki talenta khusus dan langsung masuk ketahap final diluar dari semifinalis dan finalis yang bertanding.<br />
Berikut Jadwal Audisi Umum 2015</p>
<ol>
<li>GOR Dempo, Jakabaring Sport City, Palembang 8-11 April 2015</li>
<li>GOR Cemara Asri, Medan, 8-11 April 2015</li>
<li>GOR PKPSO, Kaliwates, Jember 6-9 Mei 2015</li>
<li>GOR Hevindo, Balikpapan 6-9 Mei 2015</li>
<li>GOR Arie Lasut, Manado, 27-30 Mei 2015</li>
<li>GOR Sudiang, Makassar, 27-30 Mei 2015</li>
<li>GOR Lidya Djaelawidjaya, Tasikmalaya, 10-13 Juni 2015</li>
<li>GOR Satria, Purwokerto, 10-13 Juni 2015</li>
<li>GOR Djarum, Kudus, 1-3 September 2015</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=136</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Annisa Saufika : Saya yakin, saya bisa</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=133</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=133#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2015 08:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[hendri]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Annisa Saufika atau yang akrab disapa Ica oleh rekan-rekannya, sudah lima minggu terakhir harus beristirahat menjalani terapi pemulihan cederanya. Ica mengalami cedera lutut kala turun membela USM Blibli di Djarum Superliga Badminton 2015 lalu di Bali akhir Januari lalu. “Kegiatan saat ini masih rehab, latihan besi dan sepeda saja, terus satu minggu sekali kontrol ke [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p class="full"><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/1138d0ae4c827bf2b2ce34c123c26334.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-134" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/1138d0ae4c827bf2b2ce34c123c26334-300x185.jpg" alt="1138d0ae4c827bf2b2ce34c123c26334" width="300" height="185" /></a>Annisa Saufika atau yang akrab disapa Ica oleh rekan-rekannya, sudah lima minggu terakhir harus beristirahat menjalani terapi pemulihan cederanya. Ica mengalami cedera lutut kala turun membela USM Blibli di Djarum Superliga Badminton 2015 lalu di Bali akhir Januari lalu.</p>
<p><em>“Kegiatan saat ini masih rehab, latihan besi dan sepeda saja, terus satu minggu sekali kontrol ke rumah sakit, semoga keadaannya semakin membaik, saya pengen banget main,”</em> ceritanya kepada pbjarum.org.</p>
<p>Fase ini bisa menjadi fase yang cukup berat bagi Ica. Turnamen bergengsi German Open dan All England batal ia ikuti. <em>“Perasaan sedih, trauma ya ada. Tetapi saya harus bersabar,”</em> lanjutnya.</p>
<p>Ternyata memang kisah perjalanan hidup Ica di dunia bulutangkis sudah berliku sejak ia turun dengan “tidak sengaja” ke arena tepok bulu. Ica kecil yang kala itu duduk di kelas lima SD, sigap mengacungkan tangan saat sang guru olah raga menanyakan siapa yang bisa bermain bulutangkis.</p>
<p><em>“Engga tau kenapa waktu guru nanya siapa yang bisa main bulutangkis saya langsung angkat tangan. Mungkin karena suka ikut ayah iseng-iseng main bulutangkis jadinya saya merasa bisa,”</em> ceritanya.</p>
<p>Selang tiga hari, Ica pun langsung bisa menyabet gelar juara di Keluarahan tempat tinggalnya di Cirebon. Berangkat sebagai juara kelurahan, Ica pun meneruskan langkahnya, sayang di tingkat Kecamatan Harjamukti, Cirebon ia harus menjadi juara dua. Ini  menjadi awal Ica mengarungi karirnya di dunia bulutangkis.</p>
<p>Usai “ketidak sengajaannya” itu, Ica pun mulai serius latihan bulutangkis di klub yang tak jauh dari rumahnya. Kembali turun di tingkat Kota, Ica harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya mampu menjadi juara dua dan tiga, belum bisa menjadi sang juara. <em>“Lawan yang menang dari saya sudah mulai latihan sejak kelas satu SD,” </em>lanjutnya.</p>
<p>Usai menyelesaikan sekolah dasar, Ica meneruskan sekolahnya ke sekolah berstandar internasional. Di sekolah inilah, Ica seakan menggali kemampuan atletiknya bahkan putri pertama dari pasangan Kuswanta dan Heryani ini tak hanya menjadi atlet bulutangkis, tetapi juga ia berkompetisi dalam lari dan lompat tinggi.</p>
<p class="full"><em>“Saat masuk sekolah ditanya bisa apa saja, lari saya lebih cepat dibanding yang lain. Jadinya waktu itu saya lari 1,600 meter sama lompat tinggi juga.”</em></p>
<p>Finis di urutan pertama lomba lari, atlet yang lahir tanggal 21 Juni 1993 itu berhasil menjadi juara di tempat kedua lompat tinggi. Sayang, ia harus mengundurkan diri dari cabang bulutangkis. Ia tak mampu bertanding karena saat ia berlari tanpa sepatu di lomba lari.</p>
<p><em>“Bulutangkisnya malah kalah WO, karena pas lari pelatih minta saya buka sepatu, nah pas mau finis kaki terkena pecahan kaca, tapi saya justru ngga ngerasa. Akhirnya papa pun marah-marah gara-gara ini,”</em> lanjutnya lagi.</p>
<p>Tahun kedua, Ica pun turun di kejuaraan yang sama. Ia yang sudah mulai fokus ke bulutangkis, lantas hampir tak pernah berlatih berlari. Turnamen yang sama digelar, kejadian menarik pun kembali ia alami saat ia turun di lari 1,600 meter. Dimana ia sudah “dicurangi” sejak start.</p>
<p class="full"><em>“Saat mulai lari, sudah ada yang injak dan sengaja menendang kaki. Tangan sama kaki sampai luka, tapi hebatnya saat itu, saya langsung bisa berdiri dan lari lagi! Soalnya saat itu ada papa, saya benar-benar terakhir, satu lap terakhir saya mulai sprint dan salip semuanya sampai akhirnya saya bisa finis kedua, bedanya tipis sama juara tiga, kalau sama juara satu terlalu jauh, saat dia finis saya masih harus berlari setengah putaran,”</em> ujarnya antusias.</p>
<p>Seminggu kemudian ia harusnya turun di nomor bulutangkis, tetapi sayang, justru ia malah salah baca jadwal. <em>“Kalau ingat hal ini sebenarnya ingin ketawa, waktu itu harusnya saya main bulutangkis seminggu kemudian, tapi malah kalah gara-gara saya salah baca jadwal. Sayang banget kan ngga pernah juara badminton,”</em> lanjutnya sambil tertawa.</p>
<p>Tetapi akhirnya, Ica berhasil meraih gelar juara di turnamen wilayah. Sang ayah pun sepertinya yang diceritakannya, terlihat sangat bahagia. Dan jelang akhir kelas dua, Ica sempat memutuskan untuk berhenti dari bulutangkis dan mengejar cita-citanya untuk menjadi dokter</p>
<p class="full">Tetapi jalan hidupnya berkata lain, di pertandingan terakhir di Cirebon, ia justru ditawari untuk bergabung dengan salah satu klub di Jawa Timur.</p>
<p class="full"><em>“Sebenarnya sejak kelas satu sempat mau masuk sebuah klub di Jakarta, tapi mama tidak mengizinkan. Akhirnya saat ditawari sebuah klub di Jawa Timur, akhirnya diizinkan. Harusnya saya berangkat berdua, tetapi teman saya tidak mendapat izin, jadinya hanya saya sendiri,”</em> ceritanya.</p>
<p>Ia pun sempat mengutarakan keputusasaannya saat berada di provinsi paling timur pulau Jawa itu. Ia tak mampu meraih gelar juara satu pun, prestasi terbaiknya hanya sampai ke babak semifinal. Hal ini pun sempat membuatnya kembali ingin berhenti bermain bulutangkis.</p>
<p><em>“SMA kelas dua kembali saya diberi pilihan sama orang tua saya, kalau mau bulutangkis saya harus ikuti kata orang tua, atau kalau ingin bulutangkis sambil sekolah tidak apa-apa tetap di Jawa Timur.”</em></p>
<p>PB Djarum pun akhirnya mulai mencium bakat Ica usai melihat beberapa penampilannya di Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas). Ia pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke klub yang bermarkas di Kudus dan memiliki pusat latihan ganda di Jakarta ini.</p>
<p>Lagi-lagi, jalannya tak semulus yang ia harapkan. Ia tak mendapatkan surat pindah dari klub lamanya, sesuai dengan peraturan, Ica pun akhirnya harus mengalami “skorsing” tidak boleh bermain selama 15 bulan. <em>“Saat surat keluar tidak dikeluarkan klub dan saya tidak bertanding satu tahun lebih, itu ujiannya benar-benar berat. Saya hanya berlatih dan berlatih, sempat beberapa tempat menyarankan saya untuk kuliah saja, tetapi saya selalu yakin pada diri saya sendiri kalau saya bisa, walaupun rasanya sangat tidak mungkin.”</em></p>
<p>Atlet tanpa pertandingan bagaikan menggantungkan asa di tempat hampa, dan akhirnya usai menjalani masa skorsing, Ica pun akhirnya bisa kembali ke lapangan. Pertandingan pertamanya pasca skorsing dijalani di hari ulang tahunnya ke 19. Arena Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2012 menjadi debutnya kembali ke persaingan bulutangkis. Ia berpasangan dengan Lukhi Apri Nugroho berhasil masuk babak utama setelah melewati babak kualifikasi.</p>
<p class="full">Ia pun kemudian turun di Sirnas bersama Edi Subaktiar di nomor ganda campuran dan langsung menyabet gelar juara. Sedangkan di nomor ganda putri, ia hanya bisa sampai babak perempat final. Ica melakukan “come back” dengan manis, berbagai turnamen di sektor ganda campuran berhasil ia jajaki sampai final, sampai akhirnya teman-temannya di PB Djarum mendapat panggilan untuk Seleksi Nasional (Seleknas). Ica hanya terdiam di asrama.</p>
<p class="full"><img src="http://www.pbdjarum.org/public/images/picture/annisa_saufika.jpg" alt="" width="590" height="364" /></p>
<p class="full">Kemudian, jalan hidup membawanya ke Cipayung, ia pun menyusul dipanggil ke Cipayung. <em>“Saat teman-teman dipanggil Seleknas, saya hanya di asrama, itu benar-benar sedih. Apalagi saya belum pernah ikut AJC (Kejuaraan Asia Junior) atau WJC (Kejuaraan Dunia Junior), apa mungkin saya tidak dipercaya. Tetapi saat pengumuman, saya melihat ada nama saya disana. Saya menganggap ini sebagai buah kesabaran saya bersabar selama satu tahun lebih, ini jadi salah satu hal tergila dalam hidup saya.”</em></p>
<p>Kini Ica menjalani hari-harinya dengan berlatih sesuai dengan keadaan lututnya dan fokus untuk pemulihan lututnya. Ia masih memiliki harapan untuk bisa kembali mengukir prestasi di arena bulutangkis dunia.</p>
<p><em>“Harapannya? Ingin jadi the next Butet, saya ingin sekali sepertinya. Prestasinya lengkap,”</em> ucapnya mantap.</p>
<p>Berbagai rintangan sudah ia hadapi di usianya yang belum genap 22 tahun. Semoga rintangan cedera ini hanya akan menjadi batu loncatan bagi Ica untuk bisa melompat lebih tinggi.</p>
<p>Rise and Shine Ca, Lekas Sembuh! Kami menantimu untuk kembali ke lapangan!</p>
<p class="full">Sumber : www.pbdjarum.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=133</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Atlet di Bully</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=125</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=125#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2015 03:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[hendri]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Catcil]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Di era kemajuan sosial media saat ini, para fans bulutangkis dapat dengan mudahnya berinteraksi dengan atlet pujaannya dengan juga menggunakan sosial media. Ini bisa berdampak positif karena fans dapat memberikan dukungannya yang dibaca langsung dan cepat oleh sang atlet. Fans atau masyarakat menjadi lebih peduli dengan atlet-atlet yang telah mengharumkan nama bangsa, sementara sang atlet [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/Edi-Subaktiar-Cilegon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-127" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/Edi-Subaktiar-Cilegon-300x229.jpg" alt="Edi Subaktiar Cilegon" width="300" height="229" /></a>Di era kemajuan sosial media saat ini, para fans bulutangkis dapat dengan mudahnya berinteraksi dengan atlet pujaannya dengan juga menggunakan sosial media. Ini bisa berdampak positif karena fans dapat memberikan dukungannya yang dibaca langsung dan cepat oleh sang atlet. Fans atau masyarakat menjadi lebih peduli dengan atlet-atlet yang telah mengharumkan nama bangsa, sementara sang atlet juga merasa mendapat perhatian dan dukungan.</p>
<p>Namun segala sesuatunya pastilah mempunyai dua sisi, positif dan negatif. Ketika seorang atlet mengalami kekalahan, maka dengan mudahnya pula kalangan masyarakat mencerca para atlet. Hal ini pernah dialami beberapa atlet, dan beberapa hari yang lalu seorang atlet tunggal putra muda usia mengalami yang disebut bullyan di sosial media.</p>
<p>Menanggapi bullyan dari masyarakat dunia maya, Edi Subaktiar pun angkat bicara. Menurutnya, kejadian seperti ini, sudah hal yang biasa dialami oleh mereka. Atlet ganda campuran Pelatnas ini, menganggapnya sebagai resiko dari seorang atlet. Ketika mereka mencetak prestasi, maka sanjungan dan pujian pun datang mengalir serta disambut bak seorang pangeran. Namun ketika kalah, atlet dianggap tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu sudah resiko atlet maka ia tidak perlu menjadikannya sebagai beban melainkan menjadi motivasi.</p>
<p>Komentar ini disampaikan Edi saat acara “meet and greet” atau jumpa fans yang berlangsung di Cilegon, 13 Maret 2015. Senada dengan Edi, Berry Anggriawan mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, pemain sepak bola sekelas Christiano Ronaldo saja sering dibully. Jadi itu merupakan hal yang lumrah bagi atlet. Baginya, terserah orang lain bicara apa saja, namun yang penting ia berusaha untuk sukses.</p>
<p>Sungguh bijak pendapat kedua atlet ini dimana mereka tidak menyalahkan orang yang sudah melakukan bully terhadap dirinya dan teman-temannya. Sudah selayaknya masyarakat pecinta bulutangkis juga melakukan hal yang bijak dengan tidak melakukan bully yang mungkin saja akan membuat atlet tertentu malah semakin terpuruk secara mental.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Catatan kecil dari,</p>
<p>Cilegon, 14 Maret 2015</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=125</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Bersama Bulutangkis Indonesia</title>
		<link>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=116</link>
		<comments>http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=116#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2015 22:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[hendri]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Catcil]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalbulutangkis.com/home/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering kali berkeluh kesah terhadap minimnya perhatian media besar kepada bulutangkis Indonesia baik itu cetak, online apalagi televisi. Itulah mengapa, saya selalu berpikir untuk membuat media sendiri khusus bulutangkis. Saya dan beberapa teman sudah pernah menerbitkan majalah dengan nama Jurnal Bulutangkis. Apa daya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Baru beberapa edisi saja, majalah tersebut [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/AE_PBSI_Penonton3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-118" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/03/AE_PBSI_Penonton3-300x200.jpg" alt="AE_PBSI_Penonton3" width="300" height="200" /></a>Kita sering kali berkeluh kesah terhadap minimnya perhatian media besar kepada bulutangkis Indonesia baik itu cetak, online apalagi televisi. Itulah mengapa, saya selalu berpikir untuk membuat media sendiri khusus bulutangkis. Saya dan beberapa teman sudah pernah menerbitkan majalah dengan nama Jurnal Bulutangkis.</p>
<p>Apa daya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Baru beberapa edisi saja, majalah tersebut sudah terkendala pendanaan. Namun tekad untuk menghidupkan kembali majalah khusus bulutangkis sebenarnya tak pernah padam. Semoga terwujud walaupun tidak tahu kapan waktunya.</p>
<p>Saya berpikir bila membuat media cetak itu sulit untuk saat ini, tidak ada salah mencoba membuat sebuah situs bulutangkis. Walaupun masih jauh dari sempurna, hari ini rabu 11 Maret 2015, saya meluncurkan dengan resmi situs www.jurnalbulutangkis.com.<br />
<a href="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/02/logo-jurnal-bulutangkis-orig.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-51" src="http://jurnalbulutangkis.com/home/wp-content/uploads/2015/02/logo-jurnal-bulutangkis-orig.jpg" alt="logo jurnal bulutangkis orig" width="777" height="202" /></a>Lalu apa bedanya dengan situs-situs bulutangkis yang lebih dulu ada dan sudah mapan? Ya, saya akui bisa dikatakan mirip-miriplah yaitu ingin menyemarakkan bulutangkis Indonesia. Nilai lebih yang ingin saya tonjolkan di situs ini ada partisipasi dari para pecinta bulutangkis. Penggiat bulutangkis dapat mengirimkan artikel dan foto komunitasnya seperti komunitas di lingkungan, komunitas bermain di kantor atau komunitas dunia maya, untuk dimuat di situs ini.</p>
<p>Pecinta bulutangkis juga bisa mengirimkan artikelnya di rubrik catatan kecil. Demikian pula di rubrik sosok, yang tentunya tidak harus mengangkat tokoh besar. Bisa juga menampilkan pembina bulutangkis di pelosok-pelosok nusantara yang telah berkontribusi terhadap bulutangkis sebesar atau sekecil apapun itu.</p>
<p>Situs ini juga menyediakan forum untuk berdiskusi anatar sesama pecinta bulutangkis. Disinilah diharapkan muncul ide-ide yang membangun buat kemajuan bulutangkis Indonesia atau paling tidak, saling berbagi informasi. Dengan uraian diatas, maka diambillah tag line &#8220;Rumah Bersama Bulutangkis Indonesia&#8221;</p>
<p>Semoga situs ini menjadi rumah yang nyaman dan informatif bagi kita semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalbulutangkis.com/home/?feed=rss2&#038;p=116</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
